Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Pasutri Difabel di Kediri Ini Jual Sabun Cuci Produksi Sendiri

Pasarkan Produk Secara Online

09 Juni 2021, 12: 26: 13 WIB | editor : Adi Nugroho

difabel kediri

MURAH: Siswanti menunjukkan sabun cuci piring cair buatannya sendiri. Satu botol sabun kemasan setengah liter hanya dipatok Rp 6 ribu. (Rekian - radar kediri)

Share this          

Memiliki buah hati berkebutuhan khusus, Susilo dan Siswanti yang merupakan pasangan suami istri (pasutri) difabel tak patah arang. Mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menjual sabun cuci piring yang mereka produksi sendiri.

REKIAN, KOTA. JP Radar Kediri

Niatnya membuka toko peracangan. Tetapi, Siswanti tidak memiliki lapak khusus seperti pemilik toko lainnya. Satu unit etalase di ruang tamu rumah yang terletak di Kelurahan Bangsal, Pesantren, itu yang jadi satu-satunya penanda jika perempuan berusia 35 tahun itu memiliki produk untuk dijual.

Baca juga: Satpol PP Ajak Warga Amankan LPJU

          Keberadaan etalase di ruang tamu rumah di Jalan Letjen Sutoyo itu bukannya tanpa alasan. Jika diletakkan di teras, perempuan penyandang difabel itu kesulitan mengontrolnya. Dia juga sulit mendorong etalase keluar masuk ruangan saat malam hari.

Demikian pula Susilo, suaminya yang juga tidak berdaya. “Yang beli hanya tetangga saja. Mereka yang tahu kalau kami buka pracangan (toko kelontong, Red),” aku Siswanti kepada Jawa Pos Radar Kediri, kemarin (8/6).

Pengamatan koran ini, dagangan di dalam etalase Siswanti juga tak banyak. Sangat terbatas. Hanya ada minyak goreng, sabun mandi batangan, serta minuman saset. Paling banyak adalah minuman susu dan kopi instan. Rupanya dua jenis minuman itu memang yang paling banyak dicari tetangganya. Karena itu pula, dia kulakan dalam jumlah banyak.

          Di antara dagangan Siswanti, yang paling mencolok adalah sabun cair berukuran 500 mililiter (ml) berwarna hijau. Sabun yang digunakan untuk mencuci perlengkapan dapur itu bukan kulakan dari toko grosir. Melainkan, buatan Siswanti sendiri.

Sabun itu pula yang kini jadi tumpuan penghidupan dirinya bersama Susilo, sang suami. Selain kemasan 500 ml, perempuan berjilbab ungu itu juga menyediakan varian yang lebih kecil. Yaitu kemasan 250 ml.

Produk dengan dua jenis kemasan itu dititipkannya ke sejumlah warung. Selebihnya, mereka lebih banyak memasarkan secara online. Satu botol sabun cair berukuran 500 ml dibanderol Rp 6 ribu. Adapun yang kemasan 250 ml seharga Rp 3 ribu. “Yang kecil paling laris. Banyak yang cari,” lanjutnya.

          Untuk mengantisipasi permintaan online, Siswanti hanya menyisakan enam botol saja di rumah. Untuk produksi, keduanya harus menunggu sabun yang diberi merek Tirta Anugerah itu laku.

          “Sekarang seret,” tutur Siswanti tentang penjualan sabunnya dalam kondisi pandemic Covid-19. Mencoba peruntungan dari memproduksi sabun cair, dalam sebulan dia hanya bisa menjual sekitar sepuluh liter. Untuk menghemat biaya pengeluaran, suami istri ini membatasi produksi sesuai kebutuhan.

          Jika 10 liter sabun yang diproduksinya habis terjual, barulah dia akan memproduksi lagi. Semua bahan dasar pembuatan sabun mulai gel, pewarna, sitrun, penambah busa, dan aroma sabun dibeli secara khusus satu paket. “Satu paket bisa untuk 20 liter,” ujarnya.

Meski keuntungan yang didapat dari berjualan sabun cair itu tidak terlalu banyak, Siswanti bersyukur masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menambah penghasilan, dia mengandalkan hasil penjualan dari pracangan miliknya.

          Apakah Siswanti tidak ingin mengembangkan usahanya? Perempuan yang sudah menjalani biduk rumah tangga sejak enam tahun silam itu punya mimpi untuk memiliki toko atau warung. Bukan sekadar etalase di dalam rumah seperti sekarang ini.

          Untuk mewujudkan mimpinya, sebenarnya Siswanti sudah memiliki lahan yang luas di halaman rumahnya. Meski demikian, untuk membangun toko di sana, dibutuhkan modal yang tidak sedikit. Hal itulah yang membuat keinginannya belum terwujud hingga sekarang. “Inginnya punya toko dan warung kopi,” urai Siswanti sembari melirik Susilo di sampingnya.

          Orang tua dari Alfiana Rahma Susanti itu masih ingin terus mengembangkan usahanya demi masa depan sang anak. Siswa SD kelas I yang juga berkebutuhan khusus itu diyakini keduanya akan membutuhkan biaya yang lebih besar saat pendidikannya semakin tinggi nanti. “Menyiapkan untuk masa depan anak,” imbuh Siswanti. (ut)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news