Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Butuh Perawatan! Jembatan Bailey Ngadi Banyak Dilewati Kendaraan Berat

08 Juni 2021, 14: 57: 06 WIB | editor : Adi Nugroho

jembatan ngadi

TUNGGU PERBAIKAN: Jembatan di Desa Ngadi, Mojo, Kabupaten Kediri belum kunjung diperbaiki. Mobilitas masyarakat Kabupaten Kediri dan Tulungagung tetap menggunakan jembatan bailey. (Dewi Ayu Ningtyas - radar kediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Jembatan bailey yang menghubungkan Desa Ngadi, Mojo dengan Desa Jeli, Karangrejo, Kabupaten Tulungagung butuh perawatan. Pasalnya, jembatan portabel yang dioperasionalkan selama lima tahun terakhir itu setiap harinya banyak dilewati kendaraan berat.

          Kapasitas maksimal jembatan bailey hanya lima ton. Praktiknya, setiap hari banyak kendaraan dengan tonase jauh di atas batas yang nekat melewati jembatan sementara itu.

          Pantauan koran ini sekitar pukul 10.00 hingga pukul 11.00 kemarin, arus kendaraan yang melintas di sana diatur dengan sistem buka-tutup. Meski demikian, jumlah kendaraan yang melintas di jembatan konstruksi baja itu dalam waktu bersamaan cukup banyak. Mulai truk, mobil, dan sepeda motor.

Baca juga: Korona di Kediri: Vaksinasi Guru 6,2 Ribu Hampir Tuntas

          Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kediri Irwan Chandra mengatakan, seharusnya kendaraan yang melintas di jembatan bailey secara bergantian. “Satu per satu. Bukannya los melintas bersamaan,” ujar Irwan.    

          Ditanya tentang konstruksi jembatan bailey, menurut Irwan tidak ada masalah. Meski demikian, karena jembatan sudah terpasang sekitar lima tahun, aset milik Pemprov Jatim itu butuh perawatan.

          Di antaranya pengencangan baut di tiap konstruksi. “Pasti longgar karena sudah hampir lima tahun terpasang,” lanjut pria bertubuh tinggi.

          Lebih jauh Irwan menjelaskan, tonase kendaraan yang lewat jembatan bailey maksimal hanya lima ton. Meski demikian, secara konstruksi jembatan itu memiliki kekuatan maksimal delapan ton.

          Hanya saja, untuk menjaga keamanan dilakukan pengaturan angka aman di sana. Terutama, mempertimbangkan volume kendaraan yang melintas cukup tinggi di sana.

Untuk mengatur batas maksimal kendaraan yang melintas, Irwan menyebut pihaknya sempat memasang portal imbauan. Isinya, batas maksimal tonase lima ton. Tetapi, papan tersebut tidak bertahan lama karena dicopot oleh oknum.

Untuk diketahui, jembatan di jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Kediri dan Kabupaten Tulungagung rusak setelah diterjang air bah pada 2017 lalu. Di saat yang sama, dinas PUPR langsung mengajukan pinjam pakai jembatan bailey ke Pemprov Jatim.

Kapan jembatan di perbatasan itu akan diperbaiki? Irwan mengakui rencana pembangunan jembatan macet karena terkendala pengakuan aset. “Sebab di sisi selatan sudah masuk di wilayah Kabupaten Tulungagung,” tandasnya sembari menyebut masalah itu perlu ada penyelesaian bersama dua kabupaten. (wi/ut)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news