Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Kasus Mercon Maut di Pagu: Polisi Kirim Bubuk Peledak ke Labfor

08 Juni 2021, 12: 09: 08 WIB | editor : Adi Nugroho

mercon pagu

TKP: Rumah di Dusun Sumberejo, Desa Tanjung, Kecamatan Pagu dipasang garis polisi, 12 Mei lalu.. (radar kediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Satreskrim Polres Kediri masih mengusut insiden ledakan mercon yang menewaskan M. Nadhif, 27, Mei lalu. Selain menuntaskan pemberkasan, penyidik mengirimkan bubuk mercon ke Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim untuk pemeriksaan lebih lanjut.

          Bubuk mercon yang dibeli oleh Wildan Zamani, 24, akan diteliti. Selanjutnya, hasil pemeriksaan bahan berbahaya milik pemuda asal Desa Tanjung, Pagu, itu akan diserahkan kepada saksi ahli di Surabaya. Keterangan saksi ahli inilah yang akan dijadikan keterangan tambahan untuk pemberatan saat persidangan.

          Kasatreskrim Polres Kediri Iptu Rizkika Athmada menjelaskan, saat ini pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan terhadap bahan peledak yang dibeli oleh Wildan tersebut. “Masih belum ada hasilnya, nanti kita kabari, Mas,” ujar Rizki kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Baca juga: Sidang Kasus Korupsi BPR Kota Kediri: Harga 1 Ru Rp 40 Juta

  Berdasar pemeriksaan penyidik sebelumnya, serbuk mercon milik Wildan terdiri dari beberapa jenis bahan kimia. Hal tersebut sesuai hasil temuan di lapangan. Mulai satu plastik bubuk aluminium atau brown powder seberat 50 ons, dua plastik asam sulfat atau belerang seberat total 1,5 kilogram.

Selain itu juga ditemukan plastik dan bubuk petasan yang sudah jadi, total seberat 50 ons. Serbuk petasan itu berasal dari potassium dan beberapa bahan lainnya. “Kalau kandungan lebih detailnya harus dengan hasil uji lab juga,” terang perwira polisi berpangkat dua balok di pundaknya itu.

  Sementara itu, saat dimintai keterangan terkait adanya tersangka tambahan, Rizki menegaskan tidak ada. Hingga kemarin Wildan masih menjadi tersangka tunggal atas kematian Nadhif. “Saat ini kami masih fokuskan untuk pengembangan keterangan dan menunggu hasil dari saksi ahli uji labnya,” tandasnya.

          Seperti diberitakan, Wildan diamankan pada Rabu (12/5) malam. Saat itu, statusnya masih menjadi saksi atas kematian Nadhif. Namun saat dimintai keterangan, Wildan ternyata terbukti mengeluarkan uang untuk pembelian bahan peledak yang dijadikan mercon. Rencananya, petasan itu digunakan untuk menyambut hari raya Idul Fitri.

          Akibat kelalaiannya, Wildan dijerat dengan UU Darurat No. 12/ 1951. Ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara. Selain dianggap lalai, Wildan diancam dengan pasal itu karena menyimpan bahan peledak berbahaya tanpa izin. (syi/ut)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news