Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Heru Nur Cahyono, Antara Hobi Bersepeda dan Prestasi Downhill

Asal Masih Bergerak akan Terus Berlatih

08 Juni 2021, 11: 50: 36 WIB | editor : Adi Nugroho

pelatih downhill kediri

CETAK ATLET HEBAT: Heru Eko Nur Cahyono melatih salah satu anak didiknya di Kelir Down Hill, Joho, Semen. (Dewi Ayu Ningtyas - radar kediri)

Share this          

Penggalan masa kecil mengantarnya jadi pecinta sepeda sejati. Bukan semata pembuktian diri, juga menorehkan beragam prestasi. Terutama kala menjadi pelatih.

DEWI AYU NINGTYAS, KABUPATEN,JP Radar Kediri

Jalanan itu masih makadam. Berada di lereng Gunung Wilis. Pepohonan mewarnai di kanan kirinya. Pinus, karet, dan tanaman hutan lainnya.

Baca juga: Bolos Apel, ASN Nganjuk Bakal Kena Potong Tunjangan Kinerja

Ada juga ban mobil bekas. Ditanam dalam posisi berdiri. Berjajar sebanyak delapan. Di dekatnya ada gundukan tanah yang sengaja dibikin sebagai tanjakan.

Di salah satu tanjakan itu, seorang lelaki berdiri tegap. Memegang punggung seorang anak yang berumur sekitar delapan tahun, yang mengenakan seragam lengkap dengan sepatu, sarung tangan, dan helm. Suara lantang keluar dari mulut lelaki itu.

“Three...two...one....go!” teriaknya melakukan hitung mundur. 

Di akhir hitungan, tak sampai sekedipan mata, sang bocah meluncur dengan sepeda BMX warna putihnya. Menaiki dua tanjakan. Beberapa kali sang bocah melayang bersama sepedanya. Melambung tinggi. Saat sang bocah melewati garis finish, lelaki itu beranjak dari tempatnya. Menghampiri bocah sambil bertepuk tangan.

Lelaki itu adalah Heru Nur Cahyono. Menjadi pelatih downhill bike adalah pekerjaan profesionalnya yang tak pernah dia sangka sebelumnya. Meskipun, hobi bersepeda sudah dia pupuk sejak kecil.

 “Sejak masa kecil hobi bersepeda dengan berbagai style. Mulai dari BMX cross, BMX free style, BMX road bike, hingga akhirnya ke downhill,” ucap lelaki berambut gondrong ini.

Hobi bersepeda Heru berawal ketika dia duduk di kelas 5 SD. Hobi itu dia tekuni hingga akhir 2009. Kemudian, dia mencoba banting setir ke dunia motocross.

Hingga suatu saat dia bertemu dengan kawan lamanya. Sang kawan itu ternyata lebih dulu menggeluti dunia downhill bike. Dia pun menjajal hobi sang teman. Bersama sepuluh orang dia mencoba ikut downhill bike di lereng Gunung Klotok.

Sensasi yang muncul ternyata jauh berbeda dengan dunia motocross yang dia geluti sebelum itu. “Kalau di sepeda saya lebih suka tantangan, bisa melewati jalur yang sukar,” ungkap pria kelahiran Agustus 1974 ini.

Sejak saat itulah, terhitung sebelas tahun, Heru berkecimpung di dunia downhill bike. Selama itu pula berbagai tantangan dijalaninya. Mulai dari lintasan jalur berbatu terjal hingga menurun dan berkelok tajam. Beberapa kali dia mengalami cedera saat berlatih.

Semua rasa sakit itu tak dirasakan. Baginya, ketika masih bisa bergerak dia akan terus berlatih. Kalaupun harus beristirahat dia lakukan sejenak saja. Setelah itu kembali berlatih dan mengikuti berbagai turnamen.

Upaya kerasnya itu berbuah manis. Berbagai pretasi membanggakan diraihnya sejak 2010. Beberapa di antaranya yakni juara umum 1 (over all) kelas master dalam Indonesian Downhill 2012, juara umum 2 kelas master dalam Indonesian downhill 2013, juara umum 3 kelas master Indonesian downhill 2014, juara umum 3 kelas master Indonesian donwhill  2015, dan masih banyak turnamen lainnya.

Dari berbagai turnamen yang pernah diikutinya, ada yang paling berkesan. Kala dia mengikuti turnamen level nasional di Kudus, Jawa Tengah. Dia harus menaklukkan rute 2,8 kilometer yang penuh rintangan. Berbatu terjal dan akar-akar pohon yang merintang.

“Akarnya ada yang sebesar paha, harus dilawan,” terang pria asal Desa Blabak, Kecamatan Kandat ini.

Sejak mengawali jadi atlet downhill bike, sudah banyak sepeda yang dia habiskan. Total, sejak 2010, dia harus berganti sepeda sebanyak enam kali. Beberapa kali dia harus memperbaikinya ketika mengalami kerusakan.

“Terkhir saya memakai sepeda downhill merah hitam merek Polygon,” ujarnya seraya menyebut perawatan sepeda harus memperhatikan suspensi.

Untuk segala keberhasilan yang didapatkan saat ini, Heru mengungkapkan ada kebanggaan tersendiri bagi keluarganya. Termasuk belasan anak didiknya di berbagai wilayah Kabupaten Kediri, seperti Semen, Mojo, Kandat, Wates, Ngasem, bahkan Kota Kediri. Anak didiknya itu mulai dari umur 5 tahun sampai 30 tahun. Anak laki-lakinya pun kini yang mengikuti jejaknya berkecimpung didunia downhill. Khusus sang anak beberapa kali berlaga hingga ke tingkat Asia.

“Harapanya anak-anak bisa berprestasi. Kuncinya disiplin dengan begitu ada semangat dan kemauan,” pungkasnya. (fud)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news