Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Meriahnya Peringatan Harlah Pancasila dan Bung Karno di Desa Pojok

07 Juni 2021, 12: 45: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

bung karno

LAMBANG NEGARA: Membawa garuda dan bendera merah putih, ratusan warga Desa Pojok siap mengikuti pawai peringatan harlah Pancasila dan harlah Bung Karno, Sabtu (5/6) malam. (Iqbal Syahroni - radar kediri)

Share this          

Memperingati hari lahir Pancasila dan hari lahir Bung Karno seolah jadi budaya bagi warga Desa Pojok, Wates. Sempat vakum karena pandemi Covid-19 2020, Sabtu (5/6) lalu warga semangat mengikutinya dengan berkeliling kampung membawa bendera dan lambang garuda.

IQBAL SYAHRONI, WATES. JP Radar Kediri

Suasana di Desa Pojok, Wates terlihat meriah Sabtu (5/6) malam. Sejumlah warga terlihat berdiri di depan rumah mereka menunggu lewatnya pawai yang ditunggu-tunggu setiap kali awal Juni. Tepatnya, pawai untuk peringatan hari lahir Pancasila sekaligus hari lahir Bung Karno.

Baca juga: Mendadak Pancasila

          Membawa bendera merah putih, warga menunggu lewatnya iring-iringan yang rutin dilakukan setiap Juni. Tak hanya warga dari Desa Pojok, warga dari beberapa desa di Wates juga ikut menyaksikan di tepi jalan. Tua, muda. Laki-laki dan perempuan semua berbaur menjadi satu.

Selain di tepi jalan utama Desa Pojok, keramaian juga terlihat di depan situs Ndalem Pojok. Sekitar pukul 19.00, sejumlah orang yang memakai masker, berdiri dengan mengambil jarak sekitar satu meter bersiap mengikuti pawai. Membawa bendera merah putih dan lambang garuda, orang-orang yang mayoritas berkaus merah itu terlihat begitu bersemangat.

Mereka tinggal menunggu aba-aba untuk kemudian berangkat. Melewati rute yang sudah ditetapkan oleh panitia. Di barisan paling depan sudah ada mobil dengan speaker khusus. Selain memutar lagu bertema kebangsaan, berbagai jenis salawat juga diperdengarkan.

Di belakang mobil, ada iring-iringan peserta membawa banner bertuliskan, “Bung Karno adalah keturunan Sultan Kediri”, dan beberapa banner lainnya. Di belakangnya, baru barisan yang membawa garuda, foto Bung Karno, dan bendera merah putih. "Tahun ini mulai digiatkan lagi acaranya," ujar Ketua Harian Situs Persada Soekarno Kediri  Kushartono membuka percakapan.

          Pria yang akrab disapa Kus ini menjelaskan, acara peringatan harlah Pancasila dan harlah Bung Karno ini rutin digelar setiap tahun. Tetapi, tahun lalu dihentikan karena pandemi Covid-19.

          Meski tahun ini korona masih belum reda, mereka memutuskan tetap menggelar peringatan. Syaratnya, dengan menerapkan protokol kesehatan. Ibarat oasis, warga menyambut hal itu dengan gembira.

          Terkait kirab yang membawa bendera dan garuda, menurut Kus hal itu tak lepas dari tema. Yakni, Kediri, Kembali ke Jati Diri. Tema itu diambil berdasar pengakuan Presiden pertama RI itu di buku biografinya. Di sana dia mengaku keturunan dari Kediri. Ibu dari Bali dan Ayah dari Kediri.

          Bagi sebagian orang, menurut Kus, Bung Karno memang erat kaitannya dengan Kediri. Satu kata itu baginya juga memiliki arti besar. Tentang kebanggaan dan jati diri masyarakat Kediri. "Sekaligus untuk membangkitkan semangat. Paling tidak ada rasa kebersamaan, bahwa bapak proklamator juga memiliki darah Kediri," lanjut pria berambut cepak itu.

Selama ini, menurutnya banyak warga Kediri yang belum mengetahui jika Bung Karno memiliki darah Kediri. Padahal, kabar Bung Karno merupakan keturunan dari Kediri sudah mendunia. Hal itu terungkap dari buku yang ditulis Cindy Adams, berjudul Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat.

Jika fakta tersebut tidak diteruskan atau jadi bahan pembelajaran bersama, Kus khawatir akan membawa dampak buruk. "Di Kediri kan juga banyak wisatawan asing. Takutnya dengan mendunianya hal tersebut, masyarakat lokal tidak paham dengan sebutan Soekarno keturunan Kediri saat ditanyai orang dari luar Kediri," imbuh lelaki berkaus hitam itu.

Karenanya, peringatan harlah Pancasila dan harlah Bung Karno Sabtu lalu sekaligus jadi sarana edukasi. Dalam sarasehan, Kus memberi penjelasan tentang tema peringatan Juni ini. Menurutnya, jati diri bangsa Indonesia bersumber dari sila pertama dan sila kedua Pancasila. Yaitu, ketuhanan dan kemanusiaan.

Acara yang digelar setiap Juni itu sekaligus juga untuk menumbuhkan nasionalisme atau rasa cinta terhadap tanah air. Karenanya, dalam pawai tersebut panitia mewajibkan peserta membawa lambang negara. Tak hanya saat pawai, dia berharap Garuda Pancasila juga ada di rumah-rumah warga. “Tujuannya untuk membangkitkan semangat warga agar menyadari asal-usul dan jati diri mereka sebagai Bangsa Indonesia,” jelasnya. (ut)

(rk/syi/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news