Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Mendadak Pancasila

07 Juni 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Febri Taufiqurrahman

Oleh: Febri Taufiqurrahman

Share this          

Bulan Juni adalah bulan lahirnya Pancasila. Mendadak. Banyak postingan-postingan gambar yang menghiasi layar sosial media bertuliskan “Saya Pancasila”. Tidak hanya itu, tulisan-tulisan dan kata-kata bijak nan puitis tentang Pancasila berseliweran di mana-mana. Tidak ketinggalan, para kepala daerah juga berbondong-bondong membuat kebijakan untuk mewajibkan pemutaran lagu Garuda Pancasila di sekolah, tempat peberlanjaan, perkantoran, instansi pemerintahan dan lampu lalu lintas jalan raya. Ini membuktikan bahwa Pancasila masih memiliki kesaktian yang luar biasa.

Dalam Pancasila ada nilai ketuhanan. Hasyim Muzadi mengungkapkan alasan Indonesia menggunakan Pancasila adalah karena negara ini multiagama, maka yang dinaikkan bukan salah satu agama, melainkan nilai universal dari seluruh agama yang dikemas dalam ideologi negara, yaitu Pancasila.

Muncullah ungkapan yang beda tidak usah dipaksa sama, tetapi yang sama jangan sekali-kali dibedakan. Artinya, pada tataran ritual tentu setiap agama memiliki perbedaan, sedangkan pada tataran aksi sosial (civil society) bisa dilakukan bersama-sama.

Baca juga: Jangan Lengah di Tengah Kelandaian

Contohnya, setiap agama memiliki ritual agama masing-masing yang berbeda, maka hal itu tidak perlu disamakan. Akan tetapi, semua agama pasti memiliki keinginan yang sama, yaitu dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman. Untuk itu, jika ada yang mengganggu ritual dan merusak tempat ibadah salah satu agama, maka seluruh umat agama bisa bersama-sama saling melindungi dan menjaga.

    Dalam Pancasila ada nilai kemanusiaan. Ada sebuah ungkapan kesalehan pribadi harus menjadi kesalehan sosial. Artinya, religiusitas diri manusia dengan Tuhan pasti akan mewujudkan hubungan baik antara manusia dengan manusia. Orang yang benar-benar beragama, maka dia memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Sekarang agama mana yang menyuruh umatnya membunuh, mengebom, merusak, mencuri, dan sebagainya? Jawabanya tidak ada satu pun agama yang mengajarkan kejahatan, kekerasan maupun peperangan karena muara dari semua ajaran agama adalah kemanusiaan.

    Dalam Pancasila ada nilai persatuan. Bangsa Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa, bahasa daerah, ras, etnis, dan agama yang bersatu tanpa harus menjadi sama. Indonesia bukan negara kebangsaan (nation state), tetapi negara kesatuan. Artinya, setiap warga negara diberi kebebasan memilih agama, menggunakan bahasa daerah, menjadi suku, etnis, dan ras mana saja. Negara tidak memaksa mereka untuk menjadi satu agama, bahasa daerah, suku, etnis, dan ras yang sama. Akan tetapi, negara menyatukan mereka dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika, yaitu berbeda-beda tetapi tetap satu.

Dalam Pancasila ada nilai kebijaksanaan. Makna kebijaksanaan adalah kepandaian menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya); kecakapan bertindak apabila menghadapi kesulitan dan sebagainya (KBBI). Adapun hikmah dari kebijaksanaan adalah tanggung jawab. Artinya, seorang pemimpin yang bijaksana pasti secara cepat dan bertanggung jawab akan dapat menyelesaikan berbagai permasalahan dengan kepandaiannya berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya. Sebaliknya, pemimpin yang melempar tanggung jawab bukanlah seorang pemimpin yang sedang memimpin, tetapi seorang pemain yang sedang mempermainkan.

Dalam Pancasila ada nilai keadilan. Muncul ungkapan sama rata sama rasa dan  sama-sama merasakan. Ungkapan sama rata sama rasa berarti semua diperlakukan sama dan tidak ada perbedaan. Contohnya dalam dunia hukum, siapapun yang melakukan pelanggaran hukum, seperti korupsi baik yang sedikit atau banyak harus sama-sama dihukum. Sementara itu, ungkapan sama-sama merasakan berarti semua merasakan, meskipun jumlahnya tidak sama. Contohnya dalam dunia ekonomi, siapapun berhak mendapatkan kesejahteraan yang merata. Makna merata itu tidak harus sama karena disesuaikan dengan upaya dan kapasitasnya masing-masing dalam menjalani kehidupan.

Oleh karena itu, ungkapan “Saya Pancasila” memang penting untuk diucapkan, tetapi tidak hanya sebatas pada lisan saja, melainkan harus diimplementasikan dalam sikap dan perilaku kehidupan sehari-hari di masyarakat. Kata-kata bijak tentang Pancasila memang penting untuk dituliskan, tetapi tidak hanya sebatas keindahan kata-katanya saja, melainkan harus menjadi renungan dan motivasi untuk merealisasikan nilai-nilai Pancasila di mana pun berada. Lagu Garuda Pancasila penting untuk dinyanyikan, tetapi tidak hanya sebatas pada lantunan lirik dan nada saja, melainkan harus ditanamkan ke dalam jiwa dan raga setiap warga Negara Kesatuan Republik Indonesia. (penulis adalah Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Kota Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news