Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Catatan
icon featured
Catatan

Jangan Mudah Tergoda

06 Juni 2021, 13: 44: 53 WIB | editor : Adi Nugroho

Endro Purwito

Oleh: Endro Purwito (radar kediri)

Share this          

Polah bocah jelata itu memang bikin jengah. Bagaimana tidak? Di siang bolong yang terik, dia dengan santai mondar-mandir di jalan kampung. Tangan kanannya membawa es krim. Tangan kirinya memegang es lilin merah jambu.

Sambil melenggang dijilati ujung es krimnya. Sebentar kemudian, ganti es lilin yang diemut dan dikulum. Dalam gerak slow motion seakan tak rela butir air es itu meleleh percuma. Tak peduli siapa yang memperhatikan.

Tingkah polahnya bak provokasi. Seolah sengaja menggoda anak-anak lain. Bahkan yang lebih dewasa. Bukannya malu, ketika bertemu orang, dia malah pamer. Bocah dekil itu memeragakan menikmati es krim layaknya iklan di televisi.

Baca juga: Indun Munawaroh, Satu-satunya Plt Kalaksa BPBD Perempuan Se-Jatim

Disentuhkan di bibir. Dikecup, disedot lalu dijilat-jilat sebelum ditelan. Lebih gemas lagi, dia menyorong-nyorongkan es yang dibawanya saat berpapasan. Mau nggak..mau nggak..pasti mau lah, masak enggak? Tentu itu hanya PHP (pemberi harapan palsu). Orang-orang hanya bisa menelan ludah.

Entah dari mana bocah jelata itu tiba-tiba muncul. Barangkali tak begitu mengusik jika kejadiannya bukan di bulan Ramadan. Saat banyak orang berpuasa. Namun si bocah tak ambil pusing. Dia cuek menikmati esnya seenaknya. Tak pula peduli penampilannya lusuh, kumal, dan dekil. Abai terhadap sekelilingnya. Acuh dengan orang-orang yang menahan diri lantaran puasa. Di mata mereka, bocah yang nggak mbois blas ini dipandang benar-benar mbeling. Tak punya rasa hormat.

Melihat tingkah bocah itu, beberapa membiarkan saja. Polah bocah tersebut dianggap godaan. Untuk menguji apakah mereka mudah tergoda atau tidak. Namun tak semua berpikir sama.

Seorang pemuda akhirnya menegur. Dia mengingatkan supaya menghormati yang berpuasa. Tak terpuji bila makan atau minum saat ada orang puasa. Dia pun melarang lantas menasihati seharusnya si anak itu juga ikut berpuasa. Bukan justru menggoda makan es krim.

Mendengar tuturan pemuda tersebut, bocah jelata ini justru balik bertanya. Benarkah saya menggoda? Sedemikian gampangkah Anda tergoda? Anda hanya berpuasa selama Ramadan. Hanya sebulan menahan tidak makan dan minum. Itu pun sebatas jelang Subuh hingga azan Magrib. Bisa saja di luar waktu itu kalian justru menikmati yang berlebihan.

Menahan lapar dan dahaga fisik saja, Anda begitu mudah tergoda. Bagaimana dengan mengekang hawa nafsu? Benarkah Anda menahannya selama Ramadan?

Nyatanya, di bulan suci itu masih ada saja yang tergiur materi duniawi. Simak saja kasus dugaan korupsi bermodus upeti dan sogokan jual beli jabatan di Kabupaten Nganjuk. Peristiwanya terjadi kurang dari sepekan jelang Idul Fitri lalu (13-14/5).

Saat itu, Minggu (9/5), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Bareskrim Polri melakukan operasi tangkap tangan (OTT). Operasi polisi dan KPK di Kota Angin itu terkait seleksi, promosi, dan mutasi jabatan di tingkat desa dan kecamatan.

Berdasar data yang diperoleh penyidik tipikor Bareskrim Polri, duit untuk jual beli jabatan bersumber dari bawah. Berjenjang mulai tingkat desa sampai kecamatan. Besaran uangnya beragam. Mulai Rp 2 juta sampai Rp 50 juta. Namun data KPK menyebut besaran uang yang mengalir dalam perkara itu Rp 10 juta sampai Rp 50 juta (Jawa Pos, 12 Mei 2021).

Orang-orang terlibat praktik korupsi yang terkuak pada 10 hari terakhir puasa itu pun bukan ecek-ecek. Bukan bawahan kelas ketengan sanda jepit. Apalagi bocah jelata penikmat es lilin.

Tetapi orang nomor satu di kabupaten. Ya, Bareskrim telah menahan Bupati Novi Rahman Hidayat. Tapi dia tidak sendiri. Ada 4 camat dan satu mantan camat ikut ditangkap. Ajudan sang bupati pun ikut ditahan. Ketujuh orang itu ditetapkan tersangka. Mereka adalah Camat Pace, Tanjunganom, Berbek, Loceret, dan eks Camat Sukomoro serta si ajudan bupati.

Dari segi materi finansial, para tersangka korupsi ini sejatinya bukanlah orang yang kekurangan. Dengan jabatannya mereka bisa hidup berkecukupan. Setidaknya, jauh lebih sejahtera bila dibandingkan si bocah penikmat es lilin sebagai manifestasi rakyat jelata.

Tapi kata berkecukupan rupanya tak berarti cukup bagi mereka. Kata cukup dimaknai sama dengan pas-pasan. Makanya selalu merasa kurang. Mereka ingin lebih. Bahkan sampai berlebihan menumpuk kekayaan. Tak peduli meski menghalalkan segala cara yang melanggar norma hukum dan agama. Syahwat memperkaya diri sendiri inilah yang menumbuhkan sifat serakah dan tamak.

Si bocah jelata barangkali hanya sebulan menggoda puasa warga kampung. Namun orang-orang yang mudah tergoda dengannya punya 11 bulan lain di luar Ramadan hingga mereka bertemu puasa berikutnya. Kelak, godaan itu akan datang lagi. Tidak hanya secara lahiriah tetapi juga batin. Mengekang amarah, syahwat, dan hawa nafsu itu yang berat. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

 

 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news