Minggu, 13 Jun 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Kampung Kauman di Kediri: Beginilah Cerita Pasar Gurah Dimulai (37)

06 Juni 2021, 13: 19: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

pasar gurah

JEJAK: Dua orang duduk di pintu masuk Pasar Gurah (4/6). (DEWI AYU NINGTYAS - radar kediri)

Share this          

Keberadaan Pasar Gurah tak bisa lepas dari Kampung Kauman. Pendirinya pun juga orang yang sama, Mbah Dullah.

Pasar Gurah adalah salah satu pasar tradisional yang ramai di wilayah Kabupaten Kediri. Apalagi lokasinya berada di jalur padat, jalur dari Kediri menuju wilayah Pare. Jalan ini menjadi jalur utama bagi warga Kediri yang menuju Malang. Juga, jalur alternatif utama menuju ke Surabaya.

Pasar yang saat ini dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Kediri ini menyimpan cerita yang sangat terkait dengan keberadaan Kampung Kauman Gurah. Pendirinya merupakan orang yang sama. Yaitu sosok Mbah Haji Abdullah atau yang biasa disapa Mbah Dullah.

Baca juga: Ambil ‘Ranjau’ Sabu Depan Rumah, Warga Purwoasri Tertangkap

Konon, Mbah Dullah masih berdarah biru. Punya garis keturunan dari Prabu Amangkurat, dari jalur penguasa tanah perdikan Taman, Madiun. Sosok inilah yang menurut Etik Husnatul Marati, salah satu keturunan Mbah Dullah, yang mengawali beroperasinya Pasar Gurah.

Awalnya, pasar ini merupakan milik pribadi Mbah Dullah. Pasar itu berada di barat rumah. Bila sekarang, rumah itu berada tepat di depan Polsek Gurah, yang masih masuk wilayah Kampung Kauman.

“Pasar Gurah itu  awalnya yang punya kakek buyut saya, milik pribadi. Tapi tidak tahu ceritanya Haji Abdullah selanjutnya,” terang Etik, salah satu tetua Kampung Kauman yang tersisa.

Lalu kapan rintisan Pasar Gurah dimulai? Etik tak bisa menyebutkan secara pasti. Pasalnya rentang kejadiannya sudah terlalu panjang. Selain itu, cerita dari sang ibu pun tak menyampaikan angka tahun secara pasti.

Namun, Etik memastikan, awal keberadaan Pasar Gurah itu telah ada sejak zaman Belanda ratusan tahun silam. Yang mengawali saat itu sang kakek buyutnya itu, Mbah Kaji Dullah.

Semula Mbah Dullah hanya membuat petak-petak di kanan kiri rumah. Jumlahnya juga tidak sedikit. Petak-petak itulah yang kemudian disewakan kepada orang yang ingin berjualan di tempat itu.

“Ibu saya (masih sempat) ikut nariki  uangnya (meminta uang sewa, Red),” ungkap Etik.

Sistem sewa bangunan petak saat itu dilakukan dengan tiga cara. Pertama sewa harian, kemudian ada yang mingguan, dan ketiga model sewa bulanan. Petak-petak untuk berjualan itupun langsung laris. Apalagi saat itu sudah banyak pedagang dari tempat lain yang datang. Mereka datang dari wilayah di sekitar Gurah seperti Pagu, Plemahan, dan Ngasem. Jualannya pun aneka rupa. Mulai sayuran, bahan dapur, hingga kain.

Luasnya saat itu  hampir sama dengan sekarang. Bedanya adalah bangunannya. Dulu masih berupa petak-petak saja.

Setelah Mbah Dullah meninggal, pengelola pasar itu dilanjutkan keturunannya yang bernama Raden Imran, yang juga punya nama lain Mbah Haji Burhan. Setelah itu, Etik tak pernah tahu bagaimana cerita pasar itu selanjutnya. Hingga sekarang dikelola oleh Pemkab Kediri. (wi/fud)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news