Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Events
icon featured
Events

Bolehkah Tiup Lilin Ulang Tahun?

DIALOG JUMAT

04 Juni 2021, 19: 00: 13 WIB | editor : Adi Nugroho

Bolehkah Tiup Lilin Ulang Tahun?

Share this          

Dalam peringatan ulang tahun biasanya dirayakan dengan tasyakuran. Ada pula yang menyajikan roti tar yang kadang dihias lilin lalu ditiup. Yang ingin kami tanyakan, bagaimana hukumnya tiup lilin itu? Mohon penjelasan. (Happy, 082259883xxx)

Jawaban: 

Hari lahir bagi sebagian orang menjadi momen spesial yang tidak ingin dilewatkan begitu saja. Perayaan ulang tahun menjadi tradisi yang banyak dilakukan umat Islam saat ini. Banyak ragam kegiatan yang dilakukan untuk merayakan ulang tahun itu. Mulai mengundang teman, kerabat, dan tetangga. Ada juga yang melakukannya dengan bersedekah kepada anak yatim dan kaum dhuafa.  

Baca juga: Coach Gethuk Menyikapi Perubahan Format Kompetisi Liga 1

Salah satu hal yang banyak dilakukan dalam acara ulang tahun adalah meniup lilin. Kalau melihat dari sisi sejarah, perayaan ulang tahun dan termasuk tradisi tiup lilin bukan berasal dari ajaran Islam. Rasulullah tidak pernah mengajarkan atau menganjurkan tradisi perayaan ulang tahun termasuk di dalamnya tradisi meniup lilin. Oleh karena itu bagi sebagian ulama, seperti Lembaga Fatwa Arab Saudi dan para ulamanya, tradisi tersebut dianggap haram karena Rasulullah SAW tak pernah melakukan atau mengajarkannya.

Terlebih bahwa perayaan ulang tahun merupakan tradisi barat non-muslim, yang mana kaum muslimin dilarang untuk menyerupai tradisi mereka. Rasulullah SAW bersabda: ‘Barang siapa menyerupai dengan suatu kaum, maka ia bagian dari kaum itu’ (HR Abu Dawud). 

Di sisi yang lain sebagian ulama seperti Lembaga Fatwa Mesir dan Lembaga Fatwa Palestina mengatakan, merayakan hari ulang tahun diperbolehkan. Dengan syarat perayaan tersebut tidak mengandung perbuatan yang diharamkan. Seperti bercampur dengan yang bukan mahram, kemaksiatan, dan lainnya. Mereka beralasan, merayakan hari ulang tahun merupakan salah satu cara mengingat nikmat kelahiran (kehidupan) dan satu momen melantunkan doa bagi orang yang berulang tahun. 

Ucapan rasa syukur atas nikmat kelahiran itu  pernah diisyaratkan melalui lisan Nabi Isa AS. “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (QS. Maryam [19: 33).  

Langkah serupa pernah dilakukan Rasulullah SAW saat berpuasa pada Senin. Latar belakang puasa Rasulullah di hari tersebut, merupakan wujud syukur kepada Allah SWT  atas nikmat kelahiran pada hari itu. Ini seperti tertuang di hadis Muslim dari Abu Qatadah al-Anshari.

Tidak ada catatan sejarah resmi asal usul tradisi tiup lilin pada saat ulang tahun. Namun yang jelas tradisi ini masuk ke kita melalui tradisi Barat. Menurut sebagian sumber tradisi ini sudah lahir sejak zaman Yunani Kuno. 

Dalam sejarah disebutkan bahwa menyalakan lilin adalah sebuah cara khusus seseorang untuk membayar seperti upeti kepada dewi bulan yang terdapat dalam mitologi Yunani, yakni dewi Artemis. Pada zaman dahulu, kue yang dipakai haruslah berbentuk bulat agar dapat melambangkan bulan dan lilin yang diletakkan di atasnya sebagai lambang cahaya bulan. Sebelum orang-orang Yunani Kuno meniup lilin, mereka terlebih dahulu akan berdoa memohon sesuatu hajat.

Kaidah fikih mengatakan, keluar dari perselisihan ulama adalah disukai dan menghindari perkara yang masih syubhat adalah diperintahkan. Melihat dari pro dan kontra di atas, walaupun tidak sampai menghukumi haram tradisi tiup lilin saat ulang tahun, namun sebaiknya tradisi itu dihindari karena ada nuansa tradisi ritual non-muslim. 

Sebaiknya mengisi acara ulang tahun dengan kegiatan positif yang sejalan dengan nilai-nilai Islam, seperti bersedekah,  merayakannya bersama anak yatim, dan kegiatan-kegiatan positif lainnya. Wallahu a’lam. (Dr H Ahmad Syakur, Lc, MEI, dosen FEBI IAIN Kediri) 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news