Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Fiqih, Ekologi, dan  Etika Lingkungan

02 Juni 2021, 11: 24: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Abbas Sofwan

Oleh : Abbas Sofwan Matla’il Fajar

Share this          

Bencana lingkungan terjadi karena sikap manusia terhadap lingkungan  dan industrialisasi yang berorientasi teknologi. Mengakibatkan penipisan sumber daya alam. Kasus tersebut dapat ditemukan di lereng Gunung Kelud. Industrialisasi dan penambangan pasir secara masif berdampak rusaknya sumber daya alam.

Etika pemanfaatan lingkungan di wilayah tersebut menarik diteliti dalam perspektif fiqih ekologi. Bertujuan untuk menjawab pertanyaan : 1) Bagaimana etika pemanfaatan lingkungan membangun fiqih ekologi? 2) Bagaimana model etika pemanfaatan lingkungan yang dilakukan oleh masyarakat Lereng Gunung Kelud? dan 3) Bagaimana etika pemanfaatan lingkungan masyarakat Lereng Gunung Kelud dalam mengonstruksi fiqih ekologi?

Etika pemanfaatan lingkungan yang dilakukan masyarakat Lereng Gunung Kelud telah lama ada. Semakin pesatnya industrialisasi di era modern, keberadaan etika terhadap pelestarian lingkungan tersebut ada yang tetap lestari dan ada yang mengalami perubahan. Sebagai bentuk pemahaman masyarakat terhadap pelestarian lingkungan yang berlandaskan etika agama fiqih ekologi.

Baca juga: Kampung Kauman  di Kediri, Masih Tersisa Rambu dan Rel Kereta Api (32)

Etika pemanfaatan lingkungan dalam membangun fiqih ekologi adalah berpondasi pada nilai-nilai universalitas Alquran. Bahwa semua unsur alam memiliki tugas untuk selalu mengakui kebesaran Allah (tasbīḥ) dengan caranya masing-masing. Meskipun teknisnya tidak dapat terdeteksi indra manusia.

Bagi makhluk yang bernyawa dan memiliki akal maka tasbīḥ mereka disebut dengan  al- tasbīḥ al-irādi ikhtiyari. Sedangkan bagi selain yang memiliki nyawa dan akal seperti hewan dan tumbuhan maka tasbīḥ mereka disebut dengan al-tasbīḥ al-taskhÄ«ri al-fiá¹­ri. Termasuk dalam kategori kedua ini seluruh benda di alam mulai dari air, udara, api, tanah, bebatuan, dan gunung. Sehingga dalam pandangan Islam semua benda yang ada di alam ini memiliki jiwa untuk selalu mensucikan Sang Pencipta.

Bentuk-bentuk praktis dalam penerapan etika pemanfaatan lingkungan dalam fiqih ekologi adalah mengacu kepada al-Sunnah yang terlebur dalam pola al-ri’ayah. Yaitu berupa preservasi, konservasi, dan restorasi dengan mempertimbangkan komiditi yang terbarukan (al-mawārdi al-mutajaddidah) dan komoditi yang tak terbarukan (al-mawārid al-ghayru mutajaddidah).

Model etika pemanfaatan lingkungan yang dilakukan masyarakat Lereng Gunung Kelud berupa kolaborasi harmonis antara nilai tradisi, agama, dan modernitas. Masyarakat Lereng Gunung Kelud di wilayah Kabupaten Kediri membangun etika lingkungan berbasis dari doktrin keagamaan dan budaya. Berangkat dari keyakinan gunung adalah bagian dari kehidupan mereka.

Dilihat dari sudut pandang wilayah lima kecamatan, dengan 914 koresponden, nilai probabilitas yang didapat di atas 0,05. Hal ini menujukan bahwa mereka memiliki tingkat kepedulian masyarakat terhadap lingkungan pada angka yang sama di lima kecamatan.

Etika pemanfaatan lingkungan masyarakat Lereng Gunung Kelud sebagai konstruksi fiqih ekologi dapat diidentifikasi melalui pendekatan bingkai perubahan (framing transformation). Argumentasi tentang terjadinya perubahan tersebut berdasarkan paradigma pascaerupsi Februari 2014. Di wilayah lereng Kelud telah terjadi perubahan morfologis alami (natural) berupa penumpukan material gunung api, erosi, tanah longsor, dan perubahan sumber daya alam berupa tekstur gunung dan bentuk lahan.

Perubahan ini juga memengaruhi sikap masyarakat dalam berinteraksi dengan Gunung api tersebut. Bagi masyarakat Kediri, Gunung Kelud diyakini sebagai bagian dari kehidupan kulturalnya. Sehingga persepsi dan perlakuan mereka terhadap gunung merupakan bentuk praktis dari etika pemanfaatan lingkungan.

Pemahaman masyarakat terhadap alam dalam bentuk interaksi dengan Gunung api Kelud, peneliti menemukan bentuk etika pemanfaatan lingkungan yang mengandung nilai-nilai ajaran Islam. Berupa penerapan fiqih ekologi yang mengacu kepada potensi (maslaḥaḥ) dan ancaman (mafsadah) sebagai kerangka berpikir Maqāṣid BÄ«’ah.

Gunung Kelud bagi masyarakat Kediri adalah limpahan anugerah Tuhan. Berupa kekayaan sumber daya alam, keharmonisan antar-agama, dan keluhuran nilai budaya dalam menjaga keseimbangan ekologi. Proses interaksi dengan sumber daya alam berupa kekayaan material pasir, sumber mata air yang melimpah, bentang lahan yang subur, dan daya tarik wisata yang menakjubkan telah menumbuhkan motivasi etika pemanfaatan lingkungan yang terbangun atas nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal.

Arah dari bingkai transformasi etika lingkungan dapat berbentuk vertikal (warisan nenek moyang) maupun horizontal (respon aktual). Berupa simbol-simbol kultural pelestarian lingkungan, ucapan yang bernilai kebijaksanaan dalam menjaga keseimbangan sumberdaya alam, dan langkah-langkah praktis dalam meningkatkan potensi alam. (Penulis adalah Direktur Pascasarjana IAI Tribakti Lirboyo Kediri)   

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news