Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Lebaran, Kesalehan, dan Tanggung Jawab Sosial

29 Mei 2021, 18: 50: 51 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh : Badrus

Oleh : Badrus

Share this          

Berita Terkait

 

 Lebaran tahun ini, yang baru saja berlalu, ibaratnya seperti Lebaran yang mencemaskan bagi masyarakat. Rasa suka cita terhadang oleh ancaman penularan virus korona. Juga protokol kesehatan yang ketat. Namun, bagi umat Islam, Idul fitri tidak boleh kehilangan maknanya. Lebaran tetap kita rayakan sekalipun dalam tingkat yang sederhana.  

Secara filosofis, Lebaran menuntun manusia pada perasaan terbuka dan menerima semua kejadian yang dihadapi. Lebaran berarti selesai. Lebaran terambil dari kata Jawa “bubar”. Bar tandang gawe. Bar pasa. Bar tapa, dan seterusnya.

Baca juga: Korsleting, Kandang dan Motor Terbakar

Makna lebaran dalam konteks Idul Fitri, manusia telah selesai melakukan ibadah puasa. Manusia kembali suci, karena berhasil menundukkan hawa nafsu untuk dunia. Nafsu sahwat, nafsu bermusuhan, nafsu menipu, dan sejenisnya. Sekarang manusia menuai hasilnya. Menjadi merdeka dan menang terhadap aneka ragam tipu daya nafsu.

Wujud kemenangan tersebut adalah manusia tidak lagi disibukan perkara yang menjerumuskan pada kenistaan. Sebaliknya yang ada pada diri manusia hanya memikirkan kemaslahatan, kenikmatan bersama, dan memajukan umat manusia dari ketidakberdayaan dalam menghadapi kehidupan. Manusia pada posisi ini telah terbangun kekuatan jiwanya. Kebahagiaanya bersumber dari pancaran kebahagiaan orang lain.

Oleh karena itu, manusia menjadi merdeka dan kreatif. Selalu berupaya mewujudkan situs-situs baru sebagai wahana berpikir maju. Jika indikator ini dicapai oleh orang yang berpuasa, inilah barangkali yang menjadi tujuan utama berpuasa. Yaitu jadi orang yang sempurna dalam beragama (muttaqin).

Walaupun demikian, orang-orang, termasuk saya, bertanya-tanya. Mengapa pelaku maksiat seperti mencuri uang negara, jual beli jabatan, dan menyuap itu tidak sedikit dilakukan oleh orang yang saleh dalam beragama? Padahal mereka melakukan salat, puasa, dan haji. Bahkan mereka sedang menjalankan puasa.

Pikiran saya mengatakan, seakan tidak ada hubungan antara ketaatan beragama dengan kejujuran. Kalau tidak ada hubungan, mengapa agama selalu menganjurkan kejujuran.

Untuk mencari jawaban pertanyaan itu, tidak henti-hentinya saya mencari literatur apa saja, baik koran, kitab suci, buku-buku, sampai sejumlah penelitian sosial. Jawabannya, mungkin, ada di penelitian  Chatjuthamard dan kawan-kawan. Yang meneliti hubungan kesalehan beragama dengan tanggung jawab sosial, dimuat di jurnal Applied Economics Letters pada 2014. Mereka menemukan bahwa kesalehan beragama seseorang dapat menginspirasi seseorang untuk melakukan tanggung jawab sosial lebih kuat termasuk berbuat jujur.

Namun Chatjuthamad selanjutnya mengatakan, hubungan kuat itu hanya terjadi ketika kesalehan beragama cukup kuat. Ketika melampaui ambang batas tertentu. Artinya pengaruh kesalehan beragama terhadap tanggung jawab sosial itu bersifat kontemporer.

Ada kemungkinan besar bersifat kausal (sebab akibat). Artinya ketika orang bertahan jujur walaupun desakan dari kanan kiri cukup kuat, ia tetap bersikeras jujur. Ini terjadi ketika imannya sedang dipuncak. Namun sebaliknya, sekalipun ia rajin beribadah, tetapi komitmenya terhadap Tuhannya lagi menurun, maka ia tergiur juga pada kenikmatan duniawi yang terlarang (curang).

Hasil penelitian Chatjudhamad di atas, saya rasa benar. Tetapi yang membuat saya lebih bingung lagi, ketika menanyakan, bagaimana mengatasi kecurangan kaum agamawan itu. Ini pekerjaan yang rumit. Terus terang, di negeri ini terjadi sejumlah kasus yang akal kita menolak. Yaitu orang yang taat beragama tetapi menganggap berbuat curang suatu hal yang biasa. 

Pada titik tertentu, sempat terbersit apa ada yang salah dalam agama? Apa ada content agama yang memberi peluang pemeluknya berbuat curang? Bila didalami ayat demi ayat dalam Alquran, sangat jelas dan rinci dalam memberi larangan, ancaman, dan hukuman pada orang yang berbuat kejahatan (QS Al Maidah:38). Hanya masalahnya aturan Tuhan itu ditegakkan atau tidak oleh manusia. Hal ini perlu direnungkan oleh penegak hukum.

Kembali pada Lebaran. Memang bagaimanapun karena kondisi, marilah Lebaran ini kita rayakan sesederhana mungkin. Masalah bisa sambang famili atau tidak, bisa mudik atau tidak, itu bagian kecil komponen Lebaran, yang sebaiknya kita pahami bersama. Lebaran sendiri berkonotasi bersenang-senang mensyukuri nikmat Tuhan. Adapun senang-senang tidak harus kumpul bersama.

Makna Lebaran yang paling inti adalah, bahwa setelah usainya puasa, selama satu bulan suntuk, diharapkan kita berubah menjadi orang yang terbaik. Hubungan dengan Allah semakin dekat, demikian pula dengan sesama dan alam. Bila perubahan sikap baik itu melekat pada diri kita mulai sekarang hingga akhir hayat.  Semoga. Amiin. (Penulis Dekan Fakultas Dakwah IAI Tribakti Lirboyo Kediri)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news