Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Pedagang Wisata Sedudo saat Pandemi Covid-19

Jadi Buruh Tani untuk Menyambung Hidup

28 Mei 2021, 15: 29: 44 WIB | editor : Adi Nugroho

Wisata

RAMAI : Setelah tempat wisata mulai dibuka, pemasukan mulai ada namun tidak banyak. (Habibah A. Muktiara - radarkediri.id)

Share this          

Pandemi Covid-19 sangat berdampak pada perekonomian pedagang di tempat wisata Sedudo. Pedagang banyak yang gulung tikar. Bahkan, sebagian besar pedagang yang bertahan berjualan harus nyambi pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

HABIBAH A. Muktiara, Sawahan. JP Radar Nganjuk.

“Sepi,” ujar Wandiyah, pemilik warung makanan di kawasan Wisata Sedudo saat ditemui wartawan koran ini pada Rabu (18/5). Warung lesehan yang sebelum pandemi Covid-19 selalu ramai pengunjung ini terlihat sangat lengang. Hanya ada beberapa pengunjung. Kendaraan yang parkir di tepi warung juga bisa dihitung jari. Padahal, sejak Selasa (17/5) wisata Sedudo sudah resmi dibuka. Namun, harapan pengunjung akan ramai seperti sebelum virus korona menyerang masih sebatas impian.

Baca juga: Uji Coba PTM Dievaluasi: Tidak Ada Pemakaian Masker Skuba

Meski demikian, perempuan 43 tahun ini masih bisa sedikit menyunggingkan senyum. Harapan pengunjung wisata Sedudo yang ramai mulai muncul. Ini berbeda saat virus korona mulai muncul pada 2019. Akibat virus korona yang masuk ke Indonesia, pemerintah mewajibkan tempat wisata harus tutup total. Ini untuk mencegah penularan Covid-19. Wisata Sedudo yang menjadi andalan Pemkab Nganjuk untuk menarik wisatawan lokal dan mancanegara juga terkena imbasnya. Kawasan wisata Sedudo ditutup total. Pedagang harus mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.  “Mudah-mudahan korona wis hilang jadi tetap buka terus dan pengunjung ramai lagi,” harap wanita asal Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabuaten Nganjuk ini.

Sepinya pengunjung wisata Sedudo tersebut membuat Wandiyah dan pemilik warung di sana tidak menggantungkan pendapatan dari warung. Mereka tetap bekerja di sawah saat pagi hari. Hal ini sama saat mereka tidak boleh berjualan karena wisata Sedudo tutup total. “Mulai pukul 05.00 WIB sampai pukul 10.00 WIB saya kerja jadi buruh tani. Setelah itu, baru jualan di warung,” ujar ibu dua anak ini.

Apalagi, Wandiyah dan suaminya juga tidak memiliki pekerjaan lain selain berjualan di warung. Mereka juga tidak punya sawah. “Kalau tidak jadi buruh tani iya tidak makan,” keluhnya.

Kondisi tersebut juga dialami Sumarni, pedagang warung lesehan di Sedudo. Pengunjung yang datang ke warungnya bisa dihitung jari. Akibatnya, nasi jagung yang dijualnya seharga Rp 5 ribu tersebut sering tidak habis. “Kami makan sendiri karena sering tidak habis,” ujar wanita berusia 46 tahun ini.

Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan pedagang untuk menarik pengunjung wisata Sedudo. Salah satunya dengan menjual makanan dan minuman sesuai dengan harga di pasaran. Makan nasi jagung dan minum kopi hanya Rp 8 ribu. “Harga murah saja sepi apalagi mahal,” ujarnya pasrah. 

Sumarni mengaku terpaksa bertahan untuk berjualan setiap hari. Karena tidak memiliki pekerjaan yang lain. Agar tidak rugi, nasi jagung yang dibuatnya tidak banyak. “Mudah-mudahan pengunjung wisata Sedudo ramai lagi,” harapnya.

(rk/ara/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news