Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Omzet Tahu Kuning Anjlok

Efek Harga Kedelai Melonjak Naik

25 Mei 2021, 14: 46: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

PENDAPATAN TURUN: Usaha tahu kuning yang masih bertahan di tengah kenaikan harga kedelai di Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren kemarin.

PENDAPATAN TURUN: Usaha tahu kuning yang masih bertahan di tengah kenaikan harga kedelai di Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren kemarin. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri - Habis jatuh tertimpa tangga. Kalimat ini agaknya tepat untuk menggambarkan kondisi produksi tahu kuning di Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren. Pasalnya, setelah terdampak pandemi korona, kini produksi tahu khas Kediri ini harus berhadapan dengan lonjakan harga kedelai yang terus merangkak naik.

Pengakuan produsen tahu di Kota Kediri, Widodo, 30, asal Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren, harga bahan baku tahu kuning ini mengalami kenaikan dari Rp 9 ribu menjadi Rp 11 ribu. “Kenaikannya bertahap, satu minggu ini harganya jadi Rp 11 ribu,” ucapnya. Kenaikan harga bahan baku kedelai itu langsung memukul jumlah tahu kuning yang dia produksi setiap hari.

Produsen tahu kuning generasi kedua ini mengklaim hanya bisa memproduksi 2.300 biji setiap hari. Jumlah tersebut menurun drastis sebelum ada korona. Dalam kondisi normal, dia bisa memproduksi sebanyak 5 ribu biji tahu kuning setiap hari. Pemasarannya menyasar pasar tradisional.

Baca juga: Target Tuntas sebelum Bulan September

Akibat penurunan jumlah produksi itu, omzet penjualannya ikut anjlok hingga Rp 4 juta sehari. Saat harga dan kondisi normal, sehari omzet penjualannya bisa sampai Rp 7,5 juta. Namun sejak jumlah produksi dikurangi, omzetnya sehari hanya Rp 3,45 juta. Disampaikan Widodo, sebelum harga kedelai naik, dia menjual satu paket tahu dengan isi sepuluh biji sebesar Rp 15 ribu sekarang harganya naik jadi Rp 18 ribu per paket.

Widodo terpaksa menaikan harga jual tahun kuning untuk beradaptasi dengan pasar. “Saya punya pekerja delapan orang, mereka tetap bertahan sampai sekarang,” ucap generasi kedua produsen Tahu Tinalan ini. 

Berkurangnya jumlah produksi itu terjadi sejak wabah pandemi satu tahun lalu. Ia mengurangi jumlah produksi secara bertahap sejak awal korona. “Pembelinya sepi,” ucapnya. Sejak naiknya harga kedelai, dia memangkas jumlah produksinya dari Rp 5 ribu menjadi Rp 2.300 biji per hari.

Hingga kini dia belum mengetahui penyebab terjadinya kenaikan harga kedelai. Sejauh ini, ketersediaannya masih cukup. Tidak ada kelangkaan. Untuk pasokan dari petani lokal tidak ada karena kualitasnya dianggap masih lebih rendah dari produk impor.

Widodo berharap dampak wabah korona dan kenaikan harga kedelai tidak membuat produsen tahun kuning makin terpuruk. “Semoga saja bisa cepat berlalu, agar produksi bisa kembali normal,” bebernya.

Sementara itu, Kabid Pengembangan Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindagin) Kota Kediri Anik Sumartini, masih belum mendapat laporan terkait faktor penyebab terjadinya kenaikan kedelai tersebut. “Saya masih koordinasi juga dengan DKPP (Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Red),” katanya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news