Minggu, 13 Jun 2021
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Dinkes Temukan 46 Kasus

Januari- Maret Belum Ada Pasien Meninggal

18 Mei 2021, 12: 13: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

Dinkes Temukan 46 Kasus

(ilustrasi: Afrizal - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Temuan kasus human immunodeficiency virus (HIV) dan acquired immune deficiency syndrome (AIDS) masih tinggi di Kota Kediri.

Baru tiga bulan di awal tahun ini, sedikitnya dinas kesehatan (dinkes) sudah menemukan 46 kasus.

Pengidap paling tinggi kini justru ada pada laki-laki. Jumlahnya sebanyak 35 kasus. Sedangkan perempuan ditemukan 11 kasus. Kasi Pencegahan dan Penularan Penyakit Menular (P2P) Dinkes Kota Kediri Hendik Suprianto mengaku prihatin dengan temuan tersebut.

Baca juga: AKDP dan AKAP Mulai Beroperasi Lagi Hari Ini

Apalagi kasus dari risiko yang cukup tinggi berasal dari faktor homo atau penyuka sesama jenis. “Temuan kami, kasus dari faktor homo ini menempatkan peringkat kedua setelah hetero,” ungkapnya.

Untuk posisi tertinggi, menurutnya, fakor risiko paling tinggi berasal dari hetero. Hubungan antara laki-laki dan perempuan. Hingga Maret lalu, ada 28 kasus. Sedangkan dari  faktor homo jumlahnya sebanyak 17 kasus.

Sedangkan temuan kasus dari faktor perintal hanya ada satu. Kasus ini menimpa bayi yang dilahirkan penderita HIV/AIDS. Bayi tertular dari ibu yang menyusuinya. “Dari total 46 kasus hingga Maret, belum ada laporan kasus meninggal dunia awal tahun ini,” kata Hendik.

Yang mengejutkan, lanjut dia, kasus ini mengalami kenaikan cukup tinggi pada kalangan artis atau perajin. Dibanding tahun sebelumnya, kenaikan kasusnya melonjak 500 persen. Dari dua kasus pada 2020, kini menjadi 12 kasus. “Kemungkinan masih bisa bertambah, karena data ini akan selalu berubah hingga akhir tahun nanti,” ucap pria berkacamata ini.

Lalu, kasus terbanyak kedua ditemukan pada karyawan. Jumlahnya sebanyak 10 kasus. Kemudian yang cukup mencengangkan adalah kasus pada pelajar dan mahasiswa masuk pada deretan atas bergandengan dengan ibu rumah tangga. “Masing-masing-masing jumlahnya enam kasus,” urai Hendik.

Adapun sisanya, ditemukan pada petani tiga kasus. Lalu, buruh kasar satu kasus, dan profesi nonmedis satu kasus. Sementara itu, kelompok dari pekerja seks komersial (PSK) di awal tahun ini belum ditemukan kasusnya.

Hendik mengatakan, pekerja seks sekarang lebih sulit dimonitor. “Sekarang pekerjaan mereka (PSK, Red) dilakukan dengan senyap menggunakan aplikasi seluler,” bebernya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news