Minggu, 13 Jun 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Menuai Kontroversi

Eko Jarwanto dan Buku NGANDJOEK Dalam Lintasan Sejarah Nusantara

Minim Literatur, Kumpulkan Materi Lima Tahun

18 Mei 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Buku

KADO UNTUK NGANJUK: Eko Jarwanto menunjukkan buku “NGANDJOEK Dalam Lintasan Sejarah Nusantara, karyanya yang diterbitkan akhir Maret lalu. (Dewi Ayu Ningtyas - radarkediri.id)

Share this          

HUT Nganjuk pada 10 April lalu jadi momen istimewa bagi Eko Jarwanto. Pria yang berprofesi sebagai guru itu menuliskan sejarah Nganjuk lewat NGANDJOEK Dalam Lintasan Sejarah Nusantara. Nyalinya tak surut meski buku tersebut sempat menuai kontroversi.

DEWI AYU NINGTYAS, NGANJUK, JP Radar Nganjuk

“Hadirnya buku ini menjadi jalan tengah untuk kontroversi-kontroversi sejarah yang ada di Nganjuk,” ujarnya membuka perbincangan dengan Jawa Pos Radar Nganjuk pada Selasa (23/3) lalu.

Baca juga: Pemkab Tunggu Anggaran dari Pusat

Diakui Eko, sapaan akrab Eko Jarwanto, sebelumnya sudah ada beberapa buku yang mengupas tentang sejarah Nganjuk. Pria asli Bagor itu khusus mengupas sejarah Nganjuk dari lima periode. Mulai pra-aksara, klasik, periode Islam, Hindia Belanda, dan awal kolonial Hindia Belanda.

Eko yang saat ini mengajar di SMA As-Saadah, Gresik itu mengaku terketuk untuk menulis sejarah Kota Angin. Sebab, selama beberapa tahun terakhir pria asli Nganjuk itu justru lebih banyak menulis sejarah daerah lain.

Karenanya, jelang peringatan HUT Nganjuk tahun ini, dia melakukan sejumlah riset sebelum menulis buku bertema sejarah Nganjuk. Dalam perjalanan penelitian, Alumnus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini mengaku mendapat banyak hambatan. Sebab, tidak banyak buku yang mengupas tentang tanah kelahirannya itu. “Buku sejarah Nganjuk yang terbit resmi dan diketahui dinas itu terakhir pada 1993 silam,” lanjutnya.

Mengetahui minimnya buku tentang sejarah Nganjuk, Eko semakin terlecut untuk melakukan riset dan menulis sejarah Nganjuk. Tujuannya, selain mengisi kekosongan juga untuk memberi banyak alternatif bacaan sejarah untuk masyarakat.

Buku setebal 382 halaman itu menjadi berbeda dengan buku sejarah Nganjuk lain karena juga membahas masa pra-aksara. Yakni, membahas tentang peradaban di bumi Anjuk Ladang ini saat awal mula peradaban.

Selain membahas masa dimana masyarakat belum mengenal tulisan, buku yang dominan berwarna cokelat itu juga membahas sejarah di periode klasik. Termasuk pada masa Hindu dan Budha. Di sini, Eko menguraikan kronologi masa kerajaan di Nganjuk.

Di periode ini pula yang jadi penentu hari jadi Kabupaten Nganjuk. “Pangkalnya, masyarakat perlu tahu dari prasasti anjuk ladang,” tuturnya.

Tak hanya periode pra-aksara, buku karya Eko juga membahas periode Islam yang belum ada di buku sejarah lainnya. Padahal, menurutnya periode itu berlangsung sekitar 300 tahun.

Eko pun menuturkan kondisi Kabupaten Nganjuk pada masa kerajaan Islam Demak, Panjang, dan Mataram Islam.  Penuturan beberapa periode sejarah di Nganjuk ini agaknya sempat memunculkan kontroversi di masyarakat.

Terkait hal itu, Eko menyebut kondisi Nganjuk sekarang tidak bisa disamakan dengan masa lampau. Baik dari segi luas wilayah dan kekuasaan yang jauh berbeda.

Jika sekarang Nganjuk merupakan satu kesatuan, dahulu terdiri dari empat kadipaten. “Ada kadipaten Nganjuk, Berbek, Kertosono, dan Pace,” beber alumnus SMAN 3 Nganjuk itu.

Apa yang coba diluruskannya lewat buku NGANDJOEK itu? Eko menuturkan, hari jadi Nganjuk diambil dari prasasti Anjuk Ladang yang terletak di Candi Lor pada 1937 silam. Sedangkan peringatannya memgambil waktu boyongan atau perpindahan ibu kota kabupaten dari Berbek ke Nganjuk pada 1880 lalu. “Itu berbeda hampir satu abad,” tegasnya.

Dengan perbedaan itu, Eko hanya mencoba meneropong dan mengungkap peristiwa sejarah yang terjadi  di Nganjuk mulai periode pra aksara hinga kolonial. ”Ini bahasan berhenti saat kolonial untuk kelanjutan penulisan jilid kedua,” aku pria kelahiran Oktober 1986 tersebut.

Bagaimana Eko menyikapi kontroversi itu? Dia mengaku hanya menjelaskan peristiwa sejarah. Tidak membuat satu kesimpulan sendiri untuk membuat pembaca percaya.

Itu pun sesuai dengan latar belakang akademis yang dimilikinya. Terkait perbedaan versi sejarah, Eko mengaku hanya memberi gambaran tidak menjustifikasi sejarah. “Biar pembaca sendiri yang menilai,” urai guru sejarah itu.

Eko lantas menuturkan usaha kerasnya untuk merampungkan buku itu. Jika awalnya dia menargetkan bisa menuntaskan buku dalam waktu setahun, pria yang memakai kaus hitam ini butuh waktu 4-5 tahun untuk mengumpulkan referensi. Adapun penyusunannya butuh waktu 5-6 bulan. “Kesulitan mencari sumber (sejarah, Red),” papar alumnus pascasarjana pada 2013 silam itu.

Kendala lain, dia juga harus mengartikan berbagai bahasa. Mulai bahasa Jawa Kuno dan bahasa Belanda. Untuk proses penerjemahan, dia juga harus konsultasi dengan kenalannya yang lebih ahli.

Posisi Eko yang sekarang menetap di Gresik juga jadi kendala lainnya. Dia pun harus sering berdiskusi dengan ahli sejarah Nganjuk untuk bisa membuat tulisannya menjadi bernas. “Bolak-balik dari Gresik ke Nganjuk sudah tak terhitung lalu,” terangnya seraya tertawa.

Karenanya, begitu bukunya sudah selesai dan diterbitkan, Eko mengaku lega. Dia berharap buku tersebut bisa bermanfaat bagi masyarakat Nganjuk. Terlepas dari bukunya yang belakangan menuai kontroversi, Eko memilih tidak ambil pusing. “Kalau tidak ada kontroversi tidak ada perhatian,  jika ada yang bertanya yang betul yang mana? Silahkan dibaca,” tandas alumnus SMPN 2 Bagor itu.

(rk/tar/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news