Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Sardi, Penderita Penyakit Kusta yang Puluhan Tahun Hidup Terasing

Keluarga dan Tetangga Menjauh

17 Mei 2021, 15: 03: 47 WIB | editor : Adi Nugroho

Lepra

SEMBUH: Sardi beristirahat di rumahnya Desa Kampungbaru, Tanjunganom. Meski sudah dinyatakan sembuh dari kusta, dia masih belum sepenuhnya bisa bermasyarakat kembali. (Iqbal Syahroni- radarkediri.id)

Share this          

Sekitar 30 tahun menderita penyakit kusta, Sardi hidup tersiksa. Tidak hanya harus tinggal terpisah dari keluarganya, dia juga harus menghadapi stigma. Pun setelah petugas kesehatan menyatakan dia sudah sembuh.

IQBAL SYAHRONI, TANJUNGANOM. JP Radar Nganjuk

Dengan wajah berpeluh, Sardi meletakkan sabit yang baru digunakannya untuk merumput, Selasa (4/5) lalu. Sejurus kemudian, pria yang tinggal di Dusun Kurunglor, Desa Kampungbaru, Tanjunganom itu memutar radio yang terletak di dekat pintu.

Baca juga: Berbenah, Narapidana di Rutan II B Nganjuk Ingin Perbaiki Diri

Tembang-tembang lawas jadi pilihan pria berusia 62 tahun itu untuk didengarkan. “Saya tadi baru saja nyari rumput,” ujar Sardi membuka pembicaraan sambil menyandarkan kepalanya untuk melepas lelah.

Sepintas memang tidak ada yang aneh pada tubuh pria berbaju batik itu. Tetapi, jika diperhatikan dengan teliti, ada beberapa bagian tubuhnya yang tidak sama dengan orang kebanyakan.

Ya, jari-jari tangan pria tua itu banyak yang peretel. Terutama ibu jari tangan kiri yang nyaris habis. Adapun beberapa jari lain di tangan kiri juga tidak utuh lagi. Sebagian terlihat melengkung.

Kondisi jari tangan kanannya juga tak lebih baik. Beberapa jarinya melengkung dan sebagian sudah tidak utuh. “Sebelumnya juga baik-baik saja,” lanjut pria bertubuh kurus itu tentang kondisi jari-jarinya itu.

Penyakit kusta yang dideritanya sejak 30 tahun lalu mengubah semuanya. Dia sama sekali tak menyangka jika rasa sakit yang dirasakan di sekujur tubuhnya saat dia berusia sekitar 30 tahun itu akan membalikkan dunianya.

Saat itu, tangan, kaki, hingga kulitnya terasa sakit. Setelah diperiksakan ke dokter, dia divonis menderita penyakit kusta. “Tidak tahu tertular dari siapa. Tiba-tiba saja diberitahu kalau menderita penyakit kusta,” urainya.

Penyakit akibat bakteri mycobacterium leprae. Anak ke delapan dari sembilan bersaudara itu harus berpisah dengan istrinya. Beberapa saat kemudian dia juga harus tinggal terpisah dari keluarganya. Sebab, mereka tidak ingin tertular penyakit tersebut.

Dalam kesedihannya, pria yang sehari-hari hanya mencari rumput untuk pakan kambing dan sapi itu hanya bisa pasrah. Dia pun menempati gubuk beratap jerami di dekat kandang kambing dan kandang sapi di rumahnya.

Masih lekat dalam ingatannya bagaimana keluarganya mengantarkan makanan. “Makan tetap tiga kali sehari, tetapi (keluarga, Red) mengantarkan makanan sampai di depan gubuk (tidak masuk, Red) karena takut tertular,” urainya.

Hingga saat ini Sardi hanya dirawat oleh keluarganya. Kakaknya yang bertugas membuatkan makanan. Dia bersyukur karena tetangganya juga banyak yang peduli.

Hidup terasing di keramaian, agaknya Sardi sudah terbiasa. Dia menyadari jika penyakitnya mudah menular. Tentunya, tidak ada orang yang ingin tertular. Keluarga terdekatnya sekali pun.

Puluhan tahun tinggal sendiri, radio merupakan satu-satunya teman Sardi. Selain mendengarkan lagu-lagu lawas, biasanya dia juga memutar gending kesukaannya.

Setelah puluhan tahun melawan kusta, Sardi bersyukur mulai mendapat penanganan medis yang layak sejak sekitar 10 tahun lalu. Sebelumnya dia hanya mengonsumsi obat untuk mengeringkan lukanya. Akibatnya, beberapa jarinya peretel diserang bakteri leprae.

Sekitar 10 tahun menjalani pengobatan, petugas medis menyatakan pengobatannya sudah tuntas. Dia juga dinyatakan sembuh dari kusta.

Di sisi lain, derita yang dialami Sardi juga memantik kepedulian dari pemerintah dan Kodim 0810 Nganjuk. Pria yang semula tinggal digubuk ini dibangunkan rumah sederhana. “Dulu atapnya jerami, sekarang genting,” urainya senang.

Jika dahulu saat hujan dia harus kebingungan, sekarang air tidak lagi merembes ke dalam rumahnya. Dia pun bisa lebih tenang menjalani hari-harinya.

Meski kondisinya sudah jauh lebih baik dari puluhan tahun lalu, ada satu hal yang masih mengganjal di benaknya. Sardi yang sudah sembuh dari kusta ingin kembali bermasyarakat.

Walaupun saat ini keluarga sudah terbiasa berkomunikasi dengannya, Sardi sadar jika masih banyak tetangganya yang takut. “Sebelum mereka menghindar, biasanya saya menghindar duluan,” kenangnya kangen akan masa-masa mudanya dulu saat belum terkena kusta.

(rk/syi/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news