Minggu, 13 Jun 2021
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Kondisi Perpusda Nganjuk Menyambut Hari Buku Nasional

17 Mei 2021, 14: 41: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

Perpus

LAUTAN ILMU: Eka DW mengecek buku-buku koleksi di Perpustakaan Daerah Nganjuk. Pandemi Covid-19 membuat pengadaan buku banyak terpotong. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Sudah dua kali ini anggaran pengadaan buku koleksi Perpusda Nganjuk masuk refocusing Covid-19. Dari yang semula mencapai ratusan juta rupiah, kini tinggal belasan juta rupiah. Perpusda pun hanya mampu menambah koleksi buku dengan jumlah minim.

Pandemi Covid-19 membuat pemerintah pusat dan daerah mengencangkan ikat pinggang. Penghematan dan refocusing anggaran dipilih sebagai salah satu jurus ampuh.

Seluruh sektor terdampak. Tidak ada yang tidak. Termasuk anggaran pengadaan buku koleksi Perpustakaan Daerah (Perpusda) Nganjuk yang tak luput dari pemotongan. Jumlahnya tidak main-main. Jika 2019 lalu pengadaan buku dipatok Rp 180 juta, tahun 2020 lalu tinggal Rp 21 juta atau terpotong lebih dari 88 persen!

Baca juga: Mobil Penumpang Umum Tumbang Melawan Zaman

Perpus

Anggaran Pengadaan Buku (Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub - radarkediri.id)

Dengan anggaran Rp 180 juta, dinas arpus bisa membeli sekitar 2.500 eksemplar buku. Selain buku fisik, mereka juga bisa membeli buku elektronik. “Tahun 2019 lalu total ada 1.500 judul buku elektronik,” ujar Kepala Dinas Arpus Nganjuk Putu Winasa melalui Kabid Perpustakaan Purwo Bujono.

Dengan anggaran Rp 21 juta pada 2020 lalu, Purwo menyebut pihaknya sudah tidak bisa lagi membeli buku elektronik. Bahkan, pengadaan buku fisik saja hanya bisa sebanyak 300 eksemplar.

Kondisi tersebut ternyata tidak hanya terjadi setahun. Di 2021 diharapkan jadi momen kebangkitan usai pandemi. Tetapi, hal tersebut ternyata juga baru sekadar mimpi. Sebab, pemotongan anggaran tahun ini semakin menjadi-jadi.

Jika tahun lalu pengadaan buku masih mendapat Rp 21 juta, tahun ini justru tinggal Rp 12 juta. “Anggaran itu kalau kami gunakan untuk membeli buku hanya bisa dapat 112 eksemplar saja,” tutur pria yang sebelumnya bertugas di badan perencanaan pembangunan daerah (bappeda) itu.

Dengan kondisi tersebut, pihaknya hanya bisa mengandalkan buku koleksi yang sudah ada di sana. Total, buku koleksi Perpusda Nganjuk saat ini mencapai 48.520 eksemplar. Terdiri dari klasifikasi buku fiksi, nonfiksi, non-book, dan referensi.

Ke depannya, Purwo berharap anggaran pengadaan buku bisa ditambah lagi. Sehingga, koleksi buku di sana bisa semakin banyak dan lengkap. Dengan begitu, pengunjung pun akan puas dan tidak perlu bingung untuk mencari bahan bacaan.

“Sayang juga kalau minat baca yang tinggi tidak dibarengi dengan koleksi buku yang memadai,” tandasnya.

Bahkan, ia memiliki pandangan agar koleksi buku di Perpusda Nganjuk ke depan bisa lebih mengedepankan sektor digital. Yakni dengan memperbanyak buku elektronik. Terlebih dengan kondisi pandemi ini buku elektronik dirasa mampu menjadi oase di tengah gurun pasir.

(rk/tar/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news