Minggu, 13 Jun 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Kisah Pengungsi Longsor Ngetos Merayakan Lebaran dalam Keterbatasan

Sedih, Tak Bisa Lagi Sungkem dengan Sang Ibu

17 Mei 2021, 12: 52: 05 WIB | editor : Adi Nugroho

Kisah

SEDIH: Nurul Kholifah berurai air mata saat menceritakan momen lebaran bersama ibu dan kakaknya. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Nurul Kholifah merupakan satu dari ratusan warga terdampak tanah longsor di Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos. Momen lebaran yang biasanya penuh suka cita kini berganti kesedihan karena dia tak bisa lagi merayakan dengan ibu dan kakaknya.

ANDHIKA ATTAR, NGETOS. JP Radar Nganjuk

Nurul Kholifah sedang duduk bersimpuh di lantai. Punggung dan satu tangannya bersandar di sebuah kursi kayu. Perempuan yang juga korban longsor di Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos itu menempati rumah di utara kantor Kecamatan Ngetos. Kondisinya bisa dikatakan sangat layak.

Baca juga: Petasan Meledak di Pagu Kediri, Rumah Hancur, 1 Orang Tewas

Menyambut Jawa Pos Radar Nganjuk, beberapa kali perempuan berusia 25 tahun itu melemparkan senyum. Meski berusaha terlihat ceria, batinnya tidak bisa ditipu.

Tinggal di rumah kontrakan, tetap saja dia merasa ada yang kurang. Bukan karena perabotan maupun fasilitasnya. “Namanya juga rumah kontrakan, tetap lebih nyaman tinggal di rumah sendiri,” ujarnya.

Sebagai korban longsor, Nurul menjadi salah satu keluarga yang mendapat bantuan dari Pemkab Nganjuk untuk mengontrak rumah. Ini setelah rumah lamanya hancur diterjang material longsor pertengahan Februari lalu.

Selama dua bulan terakhir Nurul menempati rumah itu bersama Juni, 55, ayahnya; M. Rifai, 27, suaminya; dan Zahra, 6, anaknya. Rumah yang dikontraknya adalah milik Marianti, warga setempat, yang tengah merantau ke Surabaya.

Menempati rumah yang bukan milik sendiri, perempuan berambut panjang itu juga harus membiasakan diri tinggal dengan kerabatnya yang tak lagi lengkap. Khasanah, 55, ibunya; dan Sri Utami, 30, kakak kandungnya, gagal menyelamatkan diri dari musibah longsor.

Mereka ditemukan tewas tepat saat perayaan Valentine lalu. Tiga bulan setelah bencana tersebut berlalu, Nurul belajar mengikhlaskan sedikit demi sedikit. Meski, sejatinya sangat berat baginya untuk merelakan semuanya begitu saja. Kenangan dan kebersamaannya dengan sang ibunda dan kakaknya masih melekat erat di kepalanya.

“Kalau bisa ditukar, saya lebih memilih kehilangan seluruh harta-benda yang ada dari pada ditinggal ibu dan kakak,” ungkapnya sembari menangis tersedu-sedu.

Kesedihannya bisa dimengerti. Nurul memang sangat dekat dengan kedua perempuan itu. Apalagi, dia bukanlah tipe orang yang mudah bergaul. Sehingga, ibu dan kakak perempuannya itu selalu menjadi teman di kala susah maupun senang.

Apa pun yang dirasakan atau dialaminya pasti akan diceritakan ke mereka. Nurul lebih nyaman memasrahkan hidupnya dengan keluarganya. Sebab, dia kurang nyaman jika harus bercerita dengan orang luar. Bahkan, kedekatannya dengan sang ayah tidak sedalam ibu dan kakaknya.

“Ya kadang-kadang juga cerita, tetapi tidak bisa selepas kalau dengan ibu dan kakak,” imbuh ibu satu anak tersebut.

Kini, Nurul dan keluarganya harus menerima kenyataan untuk menjalani hidup tanpa kehadiran Khasanah dan Sri. Suasana rumah yang dulunya selalu ramai, sekarang mendadak sepi. Tak jarang Nurul bingung harus menghabiskan waktunya.

Ia sekarang lebih fokus untuk merawat rumah dan keluarganya yang tersisa tersebut. Nurul pun masih menyempatkan diri bekerja di sebuah toko mainan di Desa Sengkut, Berbek. Namun pekerjaannya itu tidak lagi dilakoni hingga petang. Siang hari ia sudah kembali ke rumah lagi.

“Bos saya juga tidak tega kalau di rumah terus nanti malah jadi pikiran. Akhirnya diputuskan tetap bekerja tetapi setengah hari,” tambahnya.

Dulunya, sepulang kerja ia pasti menyempatkan diri untuk berbincang dahulu dengan ibu dan kakaknya. Sekadar berbagi cerita sehari-hari maupun curhat masalah yang sedang dihadapi.

Momen kebersamaan itulah yang membuat hatinya semakin sesak jika mengingat keduanya. Belum lagi kenangan selama menjalani ibadah puasa dan hari raya Idul Fitri ini. Banyak momen yang tidak bisa dilupakannya. Salah satunya saat tarawih dan santap sahur.

“Seringnya pas sahur itu makan telur goreng sama sambel korek. Sederhana memang, tetapi suasanya tidak bisa terlupakan,” ungkapnya.

Nurul seakan tercekat saat menceritakan momen sungkem dengan keluarganya. Di lebaran ini, ritual itu tak lagi dihadiri sang ibunda. Kenyataan tersebut tidak bisa dipungkiri sangat menghancurkan perasaannya.

Tradisi sungkeman sudah seakan mendarah daging. Tak pernah sekali pun dalam hidupnya melewatkan momen sakral tersebut. Namun takdir berkata lain. Tahun ini menjadi tahun pertamanya puasa dan lebaran tanpa kehadiran kedua perempuan yang dikasihinya. “Saya benar-benar tidak pernah membayangkan hal ini terjadi,” ucap lirih yang kemudian disambut tangis membuncah.

(rk/tar/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news