Minggu, 13 Jun 2021
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Gencarkan Retribusi Memakai Nontunai

11 Mei 2021, 13: 43: 01 WIB | editor : Adi Nugroho

KOMUNIKATIF: Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana saat berbincang dengan pedagang cabai di Pasar Induk Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare kemarin (10/5).

KOMUNIKATIF: Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana saat berbincang dengan pedagang cabai di Pasar Induk Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare kemarin (10/5). (KAREN WIBI - RADARKEDIRI.ID)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana berupaya untuk terus menggenjot pendapatan daerah. Salahnya satu caranya dengan menekan kebocoran dari retribusi pasar.

Karena itu, mulai kemarin (10/5), retribusi pasar dibayarkan secara nontunai melalui e-retribusi. “Selain pembayaran nontunai menjadi pemasukan ke kas daerah lebih transparan, juga menekan potensi penularan Covid-19 melalui uang tunai,” beber Dhito.

Launching e-retribusi ini digelar di Pasar Induk Pare kemarin siang, tepatnya pukul 13.30. Dalam kegiatan tersebut, Dhito mengatakan bahwa pembayaran nontunai adalah masa depan untuk pasar lokal di Kabupaten Kediri.

Baca juga: Pemimpin SUPERIOR, Siapa Kau?

Lalu kenapa harus menggunakan pembayaran digital? Menanggapi pertanyaan tersebut, Dhito mengatakan saat ini pembayaran secara digital dinilai menjadi pembayaran yang paling aman.

Alasan pertama yang diungkapkan oleh Dhito adalah soal kebersihan dari transaksi tersebut. Terlebih, pembayaran tunai merupakan media yang paling ampuh dalam penyebaran virus dan bakteri. “Karena sekarang juga masih dalam masa pandemi. Transaksi contactless harus lebih digencarkan,” tambahnya.

Lebih lanjut Dhito mengatakan, transaksi yang dilakukan secara digital memiliki proses yang lebih cepat. Ditambah transaksi digital lebih bisa diandalkan soal transparasi data.

Dhito mencontokan, kebocoran dana yang terjadi saat pembayaran retribusi tunai sangat sering terjadi. Dhito menceritakan di salah satu daerah, ada sebuah kebocoran dana retribusi hingga miliaran. Ketika mulai menggunakan pembayaran nontunai, kebocoran tersebut bisa segera terlihat. “Jadi kita semua bisa awasi bersama,” ungkap pemimpin muda yang kemarin terlihat mengenakan kemeja batik ini.

Pada peresmian yang berlangsung selama satu jam itu, Dhito mengatakan bahwa Pasar Induk Pare merupakan pasar kedua yang sudah meresmikan pembayaran retribusi nontunai atau e-retribusi. “Sebelumnya Pasar Papar juga sudah menggunakan e-retribusi,” jelasnya.

Dhito mengungkapkan, ke depannya tidak hanya kedua pasar tersebut yang menggunakan e-retribusi. Dalam waktu dekat, Dhito sudah mrencanakan pasar lainnya. Seperti Pasar Kras, Gringging, dan Kandangan untuk juga menggunakan metode pembayaran retribusi secara digital. “Bahkan nantinya semua pasar lokal di Kediri akan dijadikan seperti itu,” tambahnya.

Lalu bagaimana dengan pedagang yang belum menggunakan e-retribusi? Mendapat pertanyaan tersebut, Dhito mengatakan pihak pasar akan tetap melayani dengan pembayaran tunai. Namun jumlahnya akan terus dikurangi bersamaan dengan edukasi yang selalu dilakukan ke pedagang pasar.

Di Pasar Induk Pare, Dhito menargetkan 80 hingga 90 persen pedagang harus menggunakan e-retribusi dalam waktu dekat. “Walaupun sekarang masih sekitar 50 persen. Akan kita kebut terus,” tutupnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news