Minggu, 13 Jun 2021
radarkediri
icon-featured
Features
Jejak Bangsawan Bawean di Rumah Panggung

Kampung Kauman, Cerita dan Tradisi yang Bertahan hingga Sekarang (18)

11 Mei 2021, 13: 39: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

PANGGUNG: Rumah kuno yang menjadi tempat tinggal Mbah Syuaib, bangsawan Bawean yang meramaikan Kampung Kauman.

PANGGUNG: Rumah kuno yang menjadi tempat tinggal Mbah Syuaib, bangsawan Bawean yang meramaikan Kampung Kauman. (Dewi Ayu Ningtyas - radarkediri.id)

Share this          

Orang menyebutnya dengan sebutan toko panggung. Bangunan kuno ini merupakan saksi bisu sejarah Kampung Kauman Pare.

=============================

Rumah panggung ini berada di timur Pasar Pamenang. Berdiri di antara deretan toko-toko lain. Ukurannya kecil. Letaknya persis di sebelah papan penunjuk Jalan Moch. Yusuf II.

Orang-orang menyebutnya dengan sebutan ‘Toko Panggung’. Berjualan kitab-kitab agama Islam. Termasuk pula beberapa kitab kuning dijual di toko ini.

Bangunan dua lantai itu masih terjaga keorisinilannya. Mulai dari tembok, jendela kayu, pondasi, tangga, tembok, hingga ornamen di ujung atap. Semuanya masih merupakan bangunan lama.

Toko panggung inilah yang menjadi warisan Mbah Syuaib, generasi pertama dari bangsawan Bawean yang meramaikan Kampung Kauman Pare. Kini, bangunan selebar 4 meter dengan panjang 10 meter itu dihuni generasi keempat dari Mbah Syuaib, Rafika Kusuma Wardani.

Sebenarnya Fika-panggilan wanita ini-bukanlah keturunan asli dari Mbah Syuaib. Sebab, pendiri surau yang kini jadi Masjid At-Taqwa tersebut tak punya anak. Dia kemudian mengangkat keponakan menjadi anaknya. Fika ini merupakan cucu dari H Mohammad Akip, keponakan yang diangkat anak itu.

Fika menuturkan, asal muasal keluarganya dari Aceh. Generasi pertamanya adalah Kiai Rawi, yang kemudian merantau ke Bawean Madura. “Anak-anaknya yang merantau ke Pare dan Kediri,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Konon ada empat anak Kiai Rawi yang merantau ke Pare dan Kediri. Mbah Syuaib adalah yang memilih pergi ke Kampung Kauman Pare. Kemudian mengembangkan Kampung Kauman. Termasuk mendirikan surau.

Sementara, Akip yang diangkat anak oleh Mbah Syuaib adalah putra dari Adawiyah. “Dia adik perempuannya Mbah Syuaib,” jelas Fika.

Di Toko Panggung terdapat prasasti yang tertulis angka tahun, 1908. Prasasti itu tertempel di dinding depan. Sebagai penanda berdirinya rumah itu.

Fika adalah anak Haji Muhammad Akip dan Nur Furi Hayati. Menurutnya, rumah itu hanya empat tahun dijadikan tempat tinggal murni. Setelah itu dijadikan toko.

Selain jadi tempat usaha, Toko Panggung juga jadi saksi pergerakan. Pada 1980-an jadi markas Pelajar Islam Indonesia (PII). Sementara, satu rumah Mbah Syuaib lagi juga sempat jadi markas tentara saat perang Kemerdekaan. Rumah ini kemudian disewa oleh orangArab. “Pertama sewa, sekitar tahun 2000-an dilakukan sistem kontrak,” ujarnya.

Setelah sekitar 50 tahun, kepemilikan rumah tersebut baru  kembali pada pihak keluarga. Itu pun dengan pengurusan hingga ke pengadilan di Surabaya. “Pajaknya, kakek saya (Mbah Syuaib, Red) yang membayar,” jelasnya.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news