Kamis, 24 Jun 2021
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom

Pemimpin SUPERIOR, Siapa Kau?

11 Mei 2021, 13: 34: 28 WIB | editor : Adi Nugroho

Pemimpin SUPERIOR, Siapa Kau?

Share this          

Pandemi COVID-19 sungguh telah meluluhlantakan perekonomian dunia. Mulai dari negara terbelakang, berkembang, sampai negara maju semua dibuat kalang kabut mengatasinya. Negara Korea Selatan dan Jepang yang selama ini dikenal dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi saja tak terhindar dari imbas kontraksi pertumbuhannya selama 2020. Berdasarkan data yang dikutip dari Bloomberg (2020), Korea Selatan mengalami pertumbuhan ekonomi -1,0, Indonesia -2,1, Amerika Serikat (-3,5) dan Jepang (-5,1).

Kondisi ini tentu menjadikan pemimpin pemerintahan di sejumlah negara tersebut putar otak. Merekayasa keadaan agar bisa segera keluar dari realitas suram yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19 ini. Salah satu cara yang mungkin adalah melalui rekayasa kecenderungan perilaku kepemimpinannya. Perilaku pemimpin yang normatif harus segera diubah menjadi progresif dan empirik, atau yang responsif terhadap realitasnya. Pemimpin yang inferior segera ikhlas menyadari inferioritasnya dan segera berusaha menjadi superior.

Baca juga: Pemudik Harus Isolasi

Kepemimpinan superior dapat diartikan sebagai kecenderungan perilaku pemimpin yang tangguh, unggul, dan cakap dalam mengerahkan segenap potensi di dalam pemerintahannya. Begitu juga dengan potensi yang dimiliki masyarakat harus dikelola optimal untuk mencapai tujuannya secara efektif, efisien, dan berdaya saing tinggi.  Pemerintah dan masyarakat masing-masing diarahkan untuk mampu mencapai kinerja melampaui batas yang biasanya dicapai. Bahkan, harus mengesampingkan masing-masing kepentingannya demi mengembalikan kejayaan bangsa melalui pembangunan ekonomi secara nasional.

Lantas, siapa sebenarnya pemimpin superior itu? Superior dalam tulisan ini sebenarnya saya maksudkan sebagai singkatan atau bisa juga disebut akronim. Sebagai singkatan maka penulisannya menjadi SUPERIOR sebagaimana semisal TNI yang merupakan singkatan Tentara Nasional Indonesia. Penjelasan yang relatif masuk akal terkait akronim SUPERIOR adalah sebagai berikut.

S (simple) diartikan bahwa sebagai pemimpin, seseorang harus memiliki sifat sederhana. Kesederhanaan itu diwujudkan dalam penampilan fisik maupun sosialnya. Jujur dan tidak sombong. Berkarakter genuine atau tulus dalam interaksi sosialnya. U (understable) mengerti tentang apa yang menjadi kebutuhan rakyatnya atau orang yang dipimpinnya.

P (positive thinking) diartikan bahwa seorang pemimpin harus selalu berpikir positif. Selalu berusaha terhindar dari berbagai pikiran negatif yang justru menjadi penghalang kinerjanya. E (energic) artinya adalah bahwa pemimpin memiliki dan memelihara energitas yang tinggi dan bersemangat untuk mencapai kemajuan.  R (reliable) sebagai seorang pemimpin hendaknya dapat diandalkan dalam kepemilikan social skill maupun conceptual skill. Memiliki kecakapan sosial sekaligus kecakapan konseptual.

I (intelegences) adalah kecerdasan, yakni bahwa sebagai pemimpin seseorang hendaknya memiliki kecerdasan dalam pembuatan keputusan. Terutama berbagai keputusan yang memiliki manfaat bagi kelangsungan hidup rakyatnya. O (oriented on vision) artinya bahwa seorang pemimpin harus selalu menjaga konsistensi pada orientasi visi kepemimpinannya.

Yang terakhir adalah R (resolute) yaitu ketegasan. Artinya harus tegas terhadap pelaksanaan keputusan yang telah dibuat. Termasuk di antaranya adalah tegas dalam pelaksanaan sanksi atas pelanggaran dan adil dalam perlakuan terhadap rakyatnya.  Tegas juga terhadap penyimpangan yang dapat menghambat pencapaian visi dan pemulihan ekonomi melalui pembangunan yang dilaksanakan.

Kesederhanaan seorang pemimpin seringkali dipahami akan menjatuhkan kewibawaan. Tetapi sejatinya justru akan meningkatkan wibawa dan performance kepemimpiannya. Untuk sekedar contoh, kita bisa berkaca pada kepimpinan Jenderal Soedirman dalam menghalau penjajah di bumi pertiwi yang kita cintai ini.

Pemimpin juga memang dituntut untuk selalu mengerti kebutuhan rakyatnya. Walaupun hal itu kadang terasa sulit dilaksanakan, tetapi dengan energitas tinggi, didukung pikiran positif terhadap semua situasi yang dihadapi, maka  upaya memulihkan kondisi perekonomian demi kesejahteraan masyarakat akan segera menemukan titik kesempurnaannya. Bukan sekedar catatan visi yang tak terjangkau.

Itulah pemimpin SUPERIOR yang akan mampu menjadikan ekonomi tumbuh dan bangkit hingga pada level yang mungkin melampaui keadaan sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Semoga. (Penulis adalah dosen Pascasarjana Universitas Kadiri)

(rk/jpr/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news