Minggu, 13 Jun 2021
radarkediri
icon-featured
Features
Surau Kecil itu Jadi Masjid Besar

Kampung Kauman, Cerita dan Tradisi yang Bertahan hingga Sekarang (17)

11 Mei 2021, 12: 48: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

LAMA: Imron menunjuk ornamen kaca di Masjid At-Taqwa.

LAMA: Imron menunjuk ornamen kaca di Masjid At-Taqwa. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Masjid ini berawal dari surau kecil, yang konon dibangun pada 1910. Menjadi simbol pemersatu umat Islam. Sekaligus jadi pusat aktivitas sosial warga Kampung Kauman Pare.

Babad alas Kampung Kauman Pare diperkirakan mulai terjadi 1830. Setelah berakhirnya Perang Jawa dengan kekalahan pasukan Pangeran Diponegoro. Para anggota pasukan sang pangeran inilah yang kemudian menyebar ke wilayah timur Pulau Jawa. Di antaranya di Kampung Kauman ini.

Namun, simbol utama Kampung Kauman Pare dibangun beberapa puluh tahun setelahnya. Yaitu Masjid At-Taqwa yang hingga saat ini berdiri kokoh di Jalan Muria. Masjid ini diperkirakan mulai dibangun pada 1910.

Pembuatnya adalah bangsawan asal Bawean. Itupun, bukan berupa masjid besar seperti sekarang. Tapi bermula dari surau kecil. Dibangun oleh seorang saudagar Bawean. Garis keturunan pembangun surau itu juga masih ada hingga sekarang. Sudah masuk pada generasi keempat.

Di halaman belakang masjid At-Taqwa juga terdapat makam seorang ulama yang juga generasi dari sang pendiri. Di makam itu Mbah Syuaib dikuburkan. Mbah Syuaib merupakan generasi kedua dari pendiri surau.

Beberapa ciri surau itu tetap dipertahankan hingga sekarang. Di antaranya adalah empat tiang masjid yang menyangga di bagian tengah, ornamen kaca berwarna di bagian atas dan di tembok imaman, serta satu jendela kecil dari kayu yang ada di tembok bagian selatan.

“Pondasi untuk saka guru ini agak ditinggikan saat renovasi,” terang Imron, yang pernah menjadi sekretaris remaja masjid (remas) At-Taqwa.

Ornamen kaca yang tetap dipertahankan itu salah satunya berbentuk bulat tepat di bagian imam. Kaca bulat itu terdiri dari kaca-kaca kecil berbentuk seperti bilah baling-baling. Ada empat warna, kuning, hijau, merah, dan biru.

Jenis kaca yang sama juga ada di bagian atas, Persis di bawah cungkup. Area persegi itu diwarnai dengan kaca aneka warga dengan bentuk persegi pula.

Seiring perkembangan, surau kecil itu menjadi surau besar.  Perbaikannya pun berdasarkan kebutuhan masyarakat saat itu yang semakin banyak beraktivitas di Masjid At Taqwa. Meski tidak direnovasi secara total hingga saat ini.

Yang mengawali aktivitas di masjid At Taqwa yakni golongan Syarikat Islam yang dipimpin oleh H.O.S Cokroaminoto. “Kemungkinan H.O.S Cokroaminoto pernah ke Pare,” ujar Imron.

Masjid ini juga menjadi pemersatu aktivitas ibadah antara Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. “Saat itu sedang kencang-kencangnya masa pergerakan organisasi masyarakat (ormas) muslim,” imbuhnya.

Fungsi masjid At Taqwa pun tidak terbatas hanya sebagai tempat ibadah umat Islam. Melainkan juga tempat musyawarah lingkungan, perdagangan, dan hal sosial warga Kampung Kauman dan juga warga yang lain.

Meski didominasi kauman, masyarakat dari luar pun juga beraktivitas di Masjid tersebut. “Karena Lokasi berdirinya Masjid At Taqwa saat itu dekat dengan Pasar Lama Pare,” Jelas Imron.

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news