Rabu, 16 Jun 2021
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal
Tren Judi Beralih ke Online

Tak Bertatap Muka, Penjudi Lupa Risiko Pidana

10 Mei 2021, 12: 05: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

Judi

Praktik Judi Online (Ilustrasi : Afrizal Saiful Mahbub - radarkediri.id)

Share this          

Judi jadi penyakit masyarakat yang belum bisa diberantas hingga sekarang. Di era digital seperti sekarang, tidak sedikit pejudi yang beralih ke judi online. Mereka lupa jika risiko pidana sama besarnya dengan judi konvensional.

Judi online memang dianggap lebih praktis. Untuk berjudi mereka tidak perlu bertemu dengan pengecer dan menuliskan nomor togel yang diinginkan. Melainkan cukup membuka situs judi. Penjudi juga bebas memilih bursa dari berbagai negara. Mulai Singapura, Hongkong, Sidney, dan Taiwan.

Untuk bermain judi, tidak butuh komputer dengan spek tinggi. Melainkan, bisa menggunakan ponsel android dengan tipe paling jadul sekalipun. Selama penjudi memiliki paket data, mereka bisa bermain judi. “Itu yang membuat masyarakat lupa. Mudahnya akses internet membuat perjudian online marak,” kata Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejari Ngajuk Roy Ardian Nur Cahya.

Baca juga: Mas Novi Paparkan Kawasan Industri Nganjuk kepada GDTC Maroko

Catatan Kejari Nganjuk, selama Maret lalu total ada 11 kasus judi. Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan judi online. Jumlah kasus judi selama Maret menurut Roy jauh lebih banyak dibanding kasus narkotika yang biasanya ada di urutan atas. Yakni, hanya 10 kasus.

Judi online, tutur jaksa asli Ngronggot itu, digemari oleh berbagai kalangan. Hanya saja, mayoritas pemainnya adalah kelompok menengah ke bawah. Selain ketagihan dengan hasilnya, mereka semakin keranjingan karena mudahnya mengakses judi tersebut.

Pengguna ponsel bisa dengan mudahnya membuat taruhan di berbagai bursa. Mulai memainkan togel 2D atau menebak dua digit angka, 3D atau menebak tiga digit angka, hingga 4D atau menebak empat digit angka. “Hasil taruhannya memang besar kalau menang,” lanjut Roy tentang digandrunginya judi online.

Para pelaku judi online, jelas Roy, sebenarnya telah berupaya menghapus website yang mereka akses agar tidak terlacak. Tetapi, mayoritas pejudi lupa jika sekarang ada tim cybercrime dari kepolisian yang mengawasi aktivitas di dunia maya.

Salah satu fungsi mereka adalah mengawasi praktik perjudian online. “Kebanyakan pejudi hanya melihat keuntungan judi saja tanpa mempertimbangkan akibat perbuatannya (setelah tertangkap polisi, Red),” jelasnya.

Belajar dari kasus yang ditangani Kejari Nganjuk, mayoritas pejudi memang tidak menyadari risiko yang ditanggungnya. Seperti diakui oleh

Hadi Sujoko, 37. Terdakwa kasus judi togel online ini mengaku memainkan judi sekitar setahun.

Penjual bakso asal Desa Ngrawan, Berbek itu agaknya merasa aman memainkan judi lewat internet. Dia semakin gemar karena pernah memenangkan uang hingga Rp 1 juta.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, perbuatannya diendus polisi cyber pada Januari lalu. Dia pun harus mendekam di Rutan Kelas II B Nganjuk sembari mengikuti rangkaian persidangan kasusnya.

Berbeda dengan judi konvensional, Hadi tidak hanya dijerat dengan pasal 303 KUHP tentang Perjudian. Melainkan juga UU ITE. Konsekuensi yang ditanggungnya pun jauh lebih besar. “Proses hukum terhadap pelaku judi online ini kami harapkan bisa menimbulkan efek jera,” tandas Roy.

Praktik Judi Online:

-Penjudi cukup mengakses situs judi lewat ponsel

-Untuk bermain mereka bisa memilih jenis taruhan dan mentransfer uang ke admin

-Pemenang akan langsung mendapatkan uang yang dijanjikan

-Praktik judi online diawasi oleh polisi cyber, yang tertangkap langsung diproses secara hukum

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news