Minggu, 13 Jun 2021
radarkediri
icon-featured
Features

Mengenang Agus Sunyoto Sang Budayawan Nusantara (10)

Gelar Kiai Ngabehi Warisan dari Pusponegoro

07 Mei 2021, 14: 47: 16 WIB | editor : Adi Nugroho

Mengenang Agus Sunyoto Sang Budayawan Nusantara (10)

Share this          

Jika Agus Sunyoto memiliki berbagai ilmu ‘linuwih’ yang tak dimiliki orang awam, itu bisa dimaklumi. Leluhurnya bersambung hingga Brawijaya V. Ia juga pengamal tarekat yang bersambung hingga Syaikh Siti Jenar

==================

Persahabatan saya dengan Mas  Agus Sunyoto sangat dekat. Saking akrabnya, sudah seperti saudara kandung. Saya mengenal keluarga dan leluhurnya, seperti saya mengenal keluarga dan leluhur saya sendiri. Saya sering diajak mengunjungi saudara-saudaranya dan ziarah ke makam-makam leluhurnya.

Ayah Mas Agus bernama Kiai Ngabehi Amir Arifin. Ibunya bernama Hajah Dalichah binti Kiai Musban. Keluarga ini tinggal di Kelurahan Gundih, Kecamatan Bubutan, barat Pasar Turi, Surabaya. Mas Agus Sunyoto adalah anak tertua, lahir 21 Agustus 1959. Kemudian adik-adiknya berturut-turut adalah R.A. Darminingsih, Kiai Ngabehi Abu Hamirun, Prof DR Kiai Ngabehi Imron Arifin, dan yang bungsu R.A. Amiretnoningsih. Saya kenal akrab dengan semua adik-adik Mas Agus, terutama yang laki-laki.

Jika dilacak ke atas, ayahanda Mas Agus, Kiai Ngabehi Amir Arifin adalah putra Kiai Ngabehi Kertorejo Gurnodo, putra Kiai Ngabehi Kertodirdjo (Demang Prambon, Kedungsogo), putra Kiai Ngabehi Mertoredjo Mertodirdjo (Demang Prambon, Kedungboto), terus sampai Kiai Tumenggung Pusponegoro, Bupati Gresik Kaping I (1688-1696).

TERANGKAN SEJARAH: Agus Sunyoto saat bedah buku Gajah Mada di Jawa Pos Radar Kediri (09/04/19).

TERANGKAN SEJARAH: Agus Sunyoto saat bedah buku Gajah Mada di Jawa Pos Radar Kediri (09/04/19).

Nama lengkap Mas Agus Sunyoto adalah Kiai Ngabehi Agus Sunyoto. Saya tahu, beliau bukan jenis manusia feodal, mriyayeni. Justru sebaliknya. Kehidupannya sangat sederhana, tawadu, rendah hati dan tidak neka-neka.

Gelar kiai ngabehi tersebut adalah warisan keluarga sebagai keturunan Kiai Tumenggung Pusponegoro. Pada masa kolonial Benlanda, diperkuat dengan Besluit Gouverneur General 30 September 1936, nomor 31, pasal 6 ke-2 bab “Regeling van de Inheemse adelijk titulatur.” Juga aturan peralihan regening pasal 8, bab turunnya sebutan gelar “Ngabehi, Kiai Ngabehi, dan Mas Ngabehi, untuk tedak turunnya Kiai Tumenggung Purponegoro, Bupati Gresik Kaping I.”

Kesediaan Mas Agus untuk menyandang gelar keluarga “Kiai Ngabehi” semata-mata untuk ngleluri tradisi peninggalan leluhur yang adiluhung.

“Para sederek ingkang memperhatikan dumateng perkawis sebutan ngabehi, kiai ngabehi, raden ngabehi, ingkang lumrah dipakai tedak turunipun Kiai Tumenggung Pusponegoro menika ingkang leres. Awit sebutan menika mboten namung nglarahaken trah leluhur, ananing ugi saget ambangun karukunan keluarga,” tulis Mas Agus dalam buku Serat Kekancingan Putra Wayah Trah Kiai Tumenggung Pusponegoro.

Pertama kali saya diajak ziarah ke Makam Kiai Tumenggung Pusponegoro sekitar 1993. Berada di sebelah barat kompleks Makam Syaikh Maulana Malik Ibrahim di Desa Gapuro, Sukolilo, Gresik. Makam Pusponegoro dibangun cungkup cukup besar dan megah.

Di tembok cungkup bagian depan, dipahat gambar kala yang disamarkan dengan ukiran lung-lungan. Bagian paling luar lambang surya candra yang mengisyaratkan bahwa Pusponegoro adalah keturunan raja Majapahit. Di sela ukiran ada 8 ruang kosong, yang diberi tulisan Arab, tentang konsep ruhani Thariqah Sathoriyah. Yaitu tulisan, Muhammad, Adam, Makrifat, Asma’, Sifat, Dzat, Tauhid, dan Allah.

“Eyang Pusponegoro memang pengamal Thariqah Sathoriyah dari jalur Sunan Giri,” kata Mas Agus.

Di sebelah utara cungkup makam, berdiri prasasti yang menerangkan silsilah leluhur Pusponegoro. Yakni, Kiai Tumenggung Pusponegoro, putra Ki Kemis atau Kiai Ageng Setro II, putra Ki Muruk atau Kiai Ageng Temasik II, putra Ki Tempel atau Kiai Ageng Temasik I, putra Ki Ketib atau Kiai Ageng Setra I, putra Ki Gaib atau Arya Banding atau Kiai Ageng Terung.

Ki Gaib adalah putra Arya Terung Adipati Sengguruh, putra Raden Kusen Adipati Terung, putra Arya Damar, putra Brawijaya V Prabu Kertawijaya Wijaya Parakramawardhana.

Semasa kecil, Mas Agus sering dikerjai tetangga-tetangganya yang ndableg dan senang bergurau. Pernah, waktu berangkat sekolah, dia dipanggil beberapa tetangganya di poskamling. Kata mereka, “Arek Suroboyo harus bisa minum (mabuk).” Agus Sunyoto kecil lalu diberi minuman tuak. “Jadi, saya berangkat sekolah sambil berjalan sempoyongan setengah mabuk,” ujarnya sambil tertawa.

Sewaktu SD, dia bukan jenis anak yang lurus-lurus saja. Salah satu kegemarannya adalah menonton atraksi penjual jamu di Pasar Turi. Kebetulan, Pasar Turi adalah jalurnya berangkat ke sekolah. Seringkali, bukannya menuju sekolah, Mas Agus justru berbelok. Mas Agus lebih memilih menonton atraksi penjual jamu itu daripada belajar di kelas yang dianggapnya membosankan.

Akhirnya, karena sering terlihat menonton atraksi sulapnya, penjual jamu itu mengajak Mas Agus ikut bermain. Ia diminta agar mau pura-pura disihir. “Kalau saya bilang turu, kamu pura-pura tidur,” bisik penjual jamu itu seperti dikisahkan Mas Agus kepada saya.

Akting Mas Agus dinilai cukup berhasil menarik perhatian pengunjung. Sebagai imbalan meningkatkan omzet penjualannya, usai pertunjukan, Mas Agus diberi uang. Tapi, Mas Agus tidak langsung pulang. Melainkan menunggu teman-temannya yang masih sekolah. Begitu mereka bubar sekolah, bukunya dipinjam. Untuk disalin catatan pelajaran hari itu. Termasuk tugas-tugasnya. Lalu, diberi nilai sendiri oleh Mas Agus: 100.

Tapi, lama-lama aksi Mas Agus ketahuan juga. Pada akhir tahun ajaran, ayahnya diundang ke sekolah untuk menerima rapor. Ternyata, Mas Agus tidak naik kelas. “Ya bagaimana bisa naik kelas, wong gak pernah masuk sekolah,” kenang Mas Agus.

Lalu, dari mana Mas Agus mendapatkan ilmu kanuragan dan olah spiritual yang tidak dimiliki orang kebanyakan? Yang pertama-tama adalah dari ayahandanya sendiri, Kiai Ngabehi Amir Arifin. Baik secara langsung maupun tidak langsung dalam interaksi harian keluarga. Sang ayah sering menyampaikan ajaran agama dan kearifan para leluhurnya.

Hal itu kemudian diperdalam dengan nyantri kepada KH Agus Ghufron Arif, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haq, Peneleh, Surabaya. Di sini, Mas Agus belajar ilmu hikmah, ilmu debus, dan tenaga dalam.

Dari Kiai Ghufron pula Mas Agus mengenal Thariqah Rifaiyyah. Dia pernah menjalani laku tidak tidur selama satu tahun. Secara fisik terlihat tidur. Mata terpejam. Tapi, pikiran terus aktif. Masih mendengar dan tahu dengan jelas pembicaraan orang dan semua peristiwa yang terjadi di sekitarnya.

Setelah berjalan satu tahun, laku ini diakhiri. Tidak kuat. Kata Mas Agus, kalau diteruskan bisa stres. Hijab batiniahnya terus membuka selapis demi selapis. “Bagaimana tidak stres kalau ketemu orang, kita tahu bahwa orang itu akan meninggal. Kita tahu bahwa orang itu akan mengalami kecelakaan. Dan seterusnya. Bahkan diri kita sendiri akan mengalami kecelakaan juga tahu,” tambahnya.

Mas Agus juga berguru kepada Kiai Mas Rahmatulloh Muslih, Mutih, Demak. Saya dua kali diajak sowan kepada ulama keturunan Mas Karebet Jaka Tingkir ini.

Adapun dalam menjalani laku tasawuf, Mas Agus baiat Thariqah Sadziliyah di Pondok Pesulukan Thariqah Agung (PETA) Tulungagung kepada KH Abdul Djalil bin Mustaqim. Di pondok PETA inilah, Mas Agus mendapat gemblengan ruhani dari KH Abdul Ghofur, kakak Kiai Djalil.

Dalam perjalanan ruhaninya, Mas Agus juga belajar Thariqah Akmaliyah. Silsilah kemursyidan tarekat ini nyambung ke Sinuwun Bagus Solo atau Paku Buwana IV, turun dari Sultan Agung Mentaram, turun dari Panembahan Senopati, turun dari Sultan Hadiwijaya, turun dari Ki Ageng Pengging, turun dari Syeikh Datu Abdul Jalil Siti Jenar. Ke atas nyambung ke Sahabat Abu Bakar RA, dari Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Dari menyelam ke dalam samudera ilmu Thariqah Akmaliyah inilah, Mas Agus akhirnya menulis novel berjudul “Suluk Abdul Jalil Perjalanan Ruhani Syaikh Siti Jenar” sampai 7 jilid. (abu muslich/hid/bersambung)

(rk/han/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news