Minggu, 13 Jun 2021
radarkediri
icon-featured
Show Case
Tenun Ikatnya Jadi Ikon Kerajinan Kota Kediri

Kampung Kauman, Cerita dan Tradisi yang Bertahan hingga Sekarang (14)

07 Mei 2021, 13: 51: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

MENENUN: Sudarman bekerja menggunakan ATBM di rumah produksinya kemarin.

MENENUN: Sudarman bekerja menggunakan ATBM di rumah produksinya kemarin. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Tidak ada catatan kapan tenun ikat mulai masuk ke Kampung Kauman Bandarkidul. Ada yang mengaitkan dengan pedagang Tiongkok hingga kedatangan orang Arab.

=========================

Warga Kauman di Kelurahan Bandarkidul sudah tidak lagi menggunakan alat tenun tradisional atau gedogan. Alat gedogan itu mulai berganti dengan alat tenun bukan nesin (ATBM) sejak 1993. Seperti yang dikisahkan Sudarman, 73, pengerajin tenun ikat asli Kauman, Kelurahan Bandarkidul. Alat tenun tradisional sudah bergeser ke ATBM karena dianggap bisa lebih cepat memproduksi kain atau sarung.

“Di sini alat tradisionalnya sudah tidak ada. Mungkin, alat itu masih bisa ditemukan di luar Jawa seperti di wilayah Sumbawa atau Lombok,” ucap lelaki yang lahir 1948 ini.

Di rumah produksi Sudarman, kemarin terlihat ada enam unit ATBM. Beberapa alat yang lain dibawa warga yang juga menjadi perajin tenun. Para perajin itu biasanya bekerja secara borongan. Mereka menyetorkan hasil karyanya ke perajin besar seperti Sudarman ini.

Abdul Ghofur adalah salah satu perajin tenun yang bekerja secara borongan untuk disetor ke perajin besar. Dia memilih seperti itu karena bisa tetap bekerja dari rumah. “Alat yang ada di tempat produksi sedikit, kebanyakan dibawa ke rumah,” kata Ghofur, lelaki 46 tahun tersebut.

Karena sistem borongan maka hasilnya sangat tergantung dari kerja keras perajin. Semakin gigih bekerja maka hasilnya bisa maksimal. Rata-rata, satu ATBM bisa menghasilkan satu potong kain tenun dalam sehari. Warga bisa membawa ATBM ke rumahnya jika sudah dianggap mumpuni.

Ghofur mengatakan, warga Kampung Kauman Bandarkidul identik dengan tenun ikat. Tidak bisa dipisahkan. Yang menjadi perajin tak didominasi perempuan. Justru di tempat Sudarman itu misalnya, yang banyak justru perajin laki-laki.

Dari mana asal mula warga bisa menenun? Khusus Sudarman, ilmu itu dia peroleh dari ayahnya, Masahid. Ayahnya itu telah meninggal di usia 70 tahun beberapa tahun lalu. Sang ayah itu juga mendapat keahlian menenun dari sang kakek, Torjo.

“Saya hanya tahu sebatas itu. Sekarang, tenun ikat ini saya ajari ke anak-anak sebagai bekal jika ingin buka usaha tenun,” beber bapak enam anak itu.

Karena turun-temurun, usaha tenun ikat Sudarman sudah berlangsung lama. Sudah sejak sebelum masa kemerdekaan. Sementara, dia meyakini bila keberadaan tenun ikat di Kampung Kauman Bandarkidul sejak masa kerajaan dahulu.

Konon, beberapa cerita menyebutkan usaha tenun di kampung ini berasal dari saudagar Tiongkok. Saudagar itu mendirikan tempat produksi tenun yang diikuti oleh pendatang dari Arab. Yang dari Arab itu terkenal dengan sebutan Dullah.

“Dulu dia (Dullah, Red) datang membawa kain kotak-kotak. Tidak bisa bertahan lama karena kalah dengan mesin,” ucapnya.

Sementara itu, ada prediksi jika kedatangan orang dari luar Kauman memproduksi kain tenun itu karena lokasinya dekat dengan pondok pesantren (ponpes). Santri memilih mengenakan kain sehingga menjadi pasar yang bagus untuk produksi kain tenun.(rq/fud/bersambung)

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news