Minggu, 13 Jun 2021
radarkediri
icon-featured
Features

Mengenang Agus Sunyoto Sang Budayawan Nusantara (9)

Temukan Situs Karaeng Galesong di Ngantang

07 Mei 2021, 13: 45: 39 WIB | editor : Adi Nugroho

Mengenang Agus Sunyoto Sang Budayawan Nusantara (9)

Share this          

Bukan hanya pendarmaan Dewasimha, Agus Sunyoto juga berhasil menemukan makam Karaeng Galesong, putra Raja Gowa Sultan Hasanuddin, yang sebelumnya menjadi misteri. Dengan bantuan santri-santrinya di Kediri.

==========================

Penemuan ini berawal dari keterangan almarhum sahabat Ja’ali, komandan Banser Kecamatan Papar. Suatu ketika, ia bercerita kepada Mas Agus Sunyoto bahwa di desa asalnya, di Ngantang, ada makam tua. Orang menyebutnya sebagai makam Mbah Glengsong. Uniknya, makam itu seperti makam bayi karena sangat pendek.

“Alhamdulillah, insya Allah ini makam Karaeng Galesong yang saya cari selama ini,” komentar Mas Agus spontan begitu mendengarnya.

Saat itu juga, Mas Agus mengajak Pak Ja’ali dan saya meluncur ke Makam Mbah Glengsong di Ngantang. Letaknya di utara makam umum Desa Ngantang. Di sana terdapat makam tua yang dikitari tembok bata merah kuno.

UNGKAP MISTERI: Makam Karaeng Galesong di Ngantang dan prasasti yang dibuat oleh Yayasan Ansorullah.

UNGKAP MISTERI: Makam Karaeng Galesong di Ngantang dan prasasti yang dibuat oleh Yayasan Ansorullah. (ist)

Begitu masuk, terlihat makam tua seperti diceritakan Pak Ja’ali. Panjangnya hanya sekitar 50 sentimeter. Terbuat dari tumpukan bata merah. Demikian juga nisannya, terbuat dari batu bata merah besar dan kuno.

Kami lantas duduk mengitari makam kecil itu. Mas Agus memimpin tahlil mendoakan ahli kubur di makam tersebut. “Benar, ini makam Karaeng Galesong,” kata Mas Agus selesai tahlil.

Mas Agus bercerita, sudah sekitar sepuluh tahun dirinya mencari makam tersebut. Itu berawal dari beberapa kali mimpinya. Ia didatangi seorang pria gagah, berkumis tipis, dan mengenakan udeng (kain penutup kepala, Red) tinggi model bangsawan Gowa, Makassar. Di kemudian hari diketahui, pria gagah yang beberapa kali menemui dalam mimpinya itu adalah Karaeng Galesong.

Dari situlah Mas Agus melakukan penelusuran terhadap pangeran Goa kelahiran 1655 Masehi tersebut. Versi Mas Agus, Karaeng Galesong memilih keluar dari kerajaan karena tidak setuju terhadap sikap Sultan Hasanuddin, ayahandanya, yang berdamai dengan VOC. Dengan naik kapal perahu Bugis, Karaeng bersama pasukannya yang berjumlah sekitar 4.000 orang menuju Lombok. Kemudian menyeberangi Bali menuju Jawa, bertemu Adipati Trunojoyo.

Oleh Trunojoyo, Karaeng sempat dinikahkan dengan keponakannya. Lalu, dibantu Karaeng, Trunojoyo berhasil memperoleh kemenangan saat melawan VOC. Tapi, dalam perkembangan selanjutnya, Trunojoyo juga memberontak terhadap Mataram. Di sinilah akhirnya terjadi perselisihan. Karaeng tidak mau lagi membantu karena yang dilawan bukan lagi VOC.

Karaeng Galesong pun dicurigai berkhianat. Akhirnya, dia dieksekusi oleh Trunojoyo. Tapi, Karaeng terkenal sakti. Ia bisa hidup kembali begitu jasadnya menyentuh tanah. Karena itulah, Karaeng lantas dipenggal. Kepala dan tubuhnya dipisahkan. Kepalanya dimakamkan di Ngantang. Sedangkan tubuhnya di Sumur Upas yang berjarak sekitar 6 kilometer dari Ngantang.

Jadi, makam tua berukuran pendek yang kami datangi saat itu adalah makam kepala Karaeng Galesong. “Jangan-jangan Mbah Glengsong beberapa kali menemui Mas Agus dalam mimpi itu karena ingin agar pemakaman jenazahnya disempurnakan,” komentar Pak Ja’ali begitu mendengar keterangan tersebut.

Ketika hal itu ditanyakan, seperti biasanya, Mas Agus hanya tersenyum simpul. Lalu, setelah mengambil segenggam tanah di makam kepala Karaeng Galesong itu, kami diajak ke Sumur Upas. Tempat pemakaman tubuh Karaeng.

Begitu tiba di Sumur Upas, keanehan terjadi. Langit yang sebelumnya terang berderang tiba-tiba disaput mendung. Disusul hujan gerimis rintik-rintik. Selama ini, tempat yang disebut Sumur Upas itu memang dikenal masyarakat sekitar sebagai daerah angker dan wingit. Tidak ada orang berani mencari rumput di sana.

Mas Agus kemudian mengajak kami duduk mengitari Sumur Upas, memanjatkan doa tahlil. Setelah selesai, Mas Agus menaburkan tanah dari kuburan kepala Karaeng Galesong ke dalam Sumur Upas.

Pulang dari ziarah tersebut, kami memesan prasasti batu marmer hitam dari Tulungagung. Untuk dipasang di makam Karaeng Galesong. Mas Agus punya ide, nama dalam prasasti ditambahi menjadi Karaeng Galesong Tumenanga ri Hantang. Artinya, Karaeng Galesong yang gugur di Hantang (Ngantang).

Di sini masalah muncul. Mas Agus bermimpi lagi didatangi arwah Karaeng Galesong. Dalam mimpi itu, Karaeng memprotes julukan yang hendak ditulis di prasasti tersebut. Dia minta agar diganti menjadi: Karaeng Galengsong Tumenanga ri Tapakna. Artinya, Karaeng Galengsong yang gugur di atas telapak kakinya. Maksudnya, Karaeng Galengsong gugur dalam mempertahan kebenaran yang diyakini.

Alhamdulillah akhirnya klir. Kami segera menghubungi perajin batu marmer di Tulungagung agar mengganti konsep awal tulisan prasasti. Sehingga, lengkapnya tertulis begini: “Di sini makam pejuang agung yang pantang menyerah menentang VOC dan kedzaliman di abad ke-17, putra Sultan Hasanuddin, Raja Goa ke-16, menantu Raden Trunojoyo, murid Panembahan Giri, Panglima Perang Lasykar Makassar di Jawa Timur. Karaeng Galesong Tumenanga ri Tapakna. Ngantang, 1 Muharam 1420 H. Jamaah Ansorullah.”

Ya, prasasti itu dibuat atas nama Jamaah Ansorullah. Sebab, seluruh proses penemuan hingga pembuatan prasasti memang melibatkan para pengurus dan anggota Yayasan Lembaga Pemberdayaan Umat Ansorullah. Pendiri yayasan ini adalah Mas Agus sendiri, saya, dan sahabat Hudan Dardiri. Tercatat pada akta yang dibuat oleh notaris Habib SH, 17 Maret 1999. 

Istimewanya, KH Hasyim Wahid atau Gus Iim, adik ragil KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, masuk dalam struktur pengurus sebagai penasihat. Mas Agus Sunyoto menjadi ketua I, saya ketua II, Hudan Dardiri sekretaris, dan Imam Mubarok bendahara.

Sekitar sebulan setelah ziarah, prasasti batu marmer itu kami pasang di makam Karaeng Galesong di Ngantang. Setelah itu, suatu ketika, Mas Agus ganti berziarah ke makam Sultan Hasanuddin di Gowa, Sulawesi Selatan. Pulangnya membawa segenggam tanah dari makam tersebut.

Waktu saya sowan ke rumah Mas Agus di Malang bersama sahabat Mahfudz, Purwanto, dan almarhum Mbah Di, kami disuruh ziarah ke makam Karaeng Galesong. Untuk menaburkan tanah dari makam Sultan Hasanuddin. Subhanallah, sewaktu tanah saya taburkan, ada bau semerbak wangi mengitari makam Karaeng Galesong. Suasana ini bertahan sampai doa tahlil selesai kami panjatkan.

Setelah itu, makam Karaeng Galesong semakin banyak dikunjungi masyarakat. Tak kurang dari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang berkunjung ke sana pada 2013. Begitu pula tokoh Makassar lainnya, Marwah Daud Ibrahim. Bahkan, Marwah sempat diantar langsung oleh Mas Agus. Di sana, Marwah sempat menangis mengingat beratnya perjuangan Karaeng Galesong. (abu muslich/hid/bersambung)

(rk/han/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news