Rabu, 16 Jun 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Ekspedisi Bentang Kendeng Timur

Menelusuri Jejak Zaman Purba di Nganjuk (26)

Bukti Keberadaan Laut di Nganjuk

07 Mei 2021, 12: 05: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Fosil

UTUH: Fosil cangkang hewan purba jenis chepalopoda jadi bukti wilayah Nganjuk sisi utara dahulu merupakan lautan. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Salah satu fosil hewan laut purba yang cukup menyita perhatian adalah temuan keluarga chepalopoda. Cangkang hewan yang diduga merupakan jenis nautilus itu jadi bukti jika dahulu wilayah Nganjuk utara merupakan lautan.

Cephalopoda merupakan salah satu hewan air laut. Keberadaannya telah diketahui sejak zaman prasejarah. Chepalopoda ini beranggotakan cumi-cumi dan sotong. Kebanyakan chepalopoda tidak memiliki cangkang atau cangkok luar.

Hanya ada satu jenis chepalopoda saja yang memiliki “rumah” seperti siput. Yakni nautilus. Berdasarkan data yang dihimpun koran ini, nautilus tergolong sebagai moluska laut pelagis. Nama nautilus awalnya merujuk pada gurita pelagis dari genus Argonauta atau dikenal sebagai nautiluses kertas.

Baca juga: Keluarga Besar H. Imam Mukhayat Syah Berbagi di Tengah Pandemi

Nautilus mempunyai bentuk yang mirip dengan bentuk umum cumi-cumi. Bentuk kepalanya menonjol dengan tentakel yang panjang, lembut, dan fleksibel. Nautilus biasanya memiliki lebih banyak tentakel dari cephalopoda lainnya. Jumlahnya bisa mencapai hingga sembilan puluh tentakel.

Temuan cangkang nautilus ini sekaligus jadi bukti penguat jika wilayah Nganjuk sisi utara dahulu merupakan kawasan lautan. Sebagian besar permukaan pulau Jawa terdiri dari endapan vulkanik dan sedimen kuarter. Terutama berhubungan dengan aktivitas vulkanik dan tektonik.

Konfigurasi pulau Jawa yang sedemikian rupa merupakan hasil dari sebuah proses panjang. Meliputi proses pengangkatan permukaan dasar laut sebagai pergerakan lempeng tektonik, letusan gunung berapi, dan pelipatan jajaran pegunungan.

“Hewan ini juga termasuk tergolong tua,” Kasi Sejarah, Museum dan Kepurbakalaan Disparporabud Kabupaten Nganjuk Amin Fuadi kepada Jawa Pos Radar Nganjuk kemarin.

Amin menegaskan hal tersebut karena hewan ini berada di lautan. Notabene, kawasan lautan ini telah ada jauh sebelum terbentuknya masa daratan hingga seperti yang kita kenal sekarang ini. “Umurnya bisa mencapai lebih dari satu juta tahun,” imbuh pria yang tinggal di Kelurahan Begadung, Kota Nganjuk tersebut.

Lebih lanjut Amin menuturkan fosil tersebut ditemukan di aliran sungai di kawasan situs Putri Ayu. Posisi fosilnya berada di dalam pasir. Saat dilakukan pengerukan untuk memperlancar sumber mata air, fosil itu tidak sengaja ditemukan. “Ditemukannya juga dalam kondisi utuh seperti ini karena cangkangnya pun memang relatif kuat,” pungkas Amin.

(rk/tar/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news