Minggu, 13 Jun 2021
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Segera Sidangkan Kasus Upal Kades Rowomarto

Kejari Nganjuk Nyatakan Berkas Lengkap

06 Mei 2021, 14: 25: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

Sidang

BERKAS LENGKAP: JPU Deris Andriani menanyai Hartoyo, Kades Rowomarto, Patianrowo, yang menjadi tersangka kasus uang palsu dan dilimpahkan ke Kejari Nganjuk kemarin. (Habibah A. Muktiara - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk–Kasus pembuatan uang palsu (upal) yang membelit Hartoyo, 58, segera disidangkan. Ini setelah pria yang juga menjabat Kades Romomarto, Patianrowo itu dilimpahkan ke Kejari Nganjuk kemarin. Dalam pemeriksaan, berkas perkaranya dinyatakan sudah lengkap. 

Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejari Nganjuk Roy Ardian Nur Cahya mengungkapkan, usai menerima pelimpahan berkas kemarin, pihaknya langsung bersiap mendaftarkan kasus ke Pengadilan Negeri (PN) Nganjuk. “Perkiraan habis lebaran (sidang, Red). Sambil nunggu penetapan sidang dari majelis hakim,” kata Roy.

Untuk diketahui, dalam pelimpahan berkas kemarin, Jaksa Deris Andriani  kembali melontarkan beberapa pertanyaan untuk Hartoyo. “Menjadi seorang kepala desa, kenapa melakukan ini (membuat uang palsu, Red)?” tanya Deris. Hartoyo yang kemarin belum didampingi penasihat hukum mengatakan, pembuatan uang palsu dilakukan bersama Setyawan dan Fathul Huda, dua temannya.

Baca juga: Jaring Pasangan Bukan Suami Istri di Hotel

Informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, pertemuan Hartoyo dengan dua temannya terjadi pada Agustus 2020 lalu. Saat itu Hartoyo memberi uang Rp 35 juta kepada Setyawan. Uang tersebut digunakan untuk membeli printer dan kertas. Setelah dicoba, ternyata hasil cetakan uang tidak bagus. Selanjutnya, printer itu tidak pernah digunakan.

Gagal membuat uang palsu, agaknya Hartoyo masih penasaran. Pria kelahiran 1963 silam ini lantas membeli upal senilai Rp 2 juta kepada Ho, yang saat ini menjadi DPO. Dari pria yang tinggal di Jombang itu, Hartoyo mendapat upal pecahan Rp 100 ribu senilai Rp 4,5 juta.

Uang inilah yang menyeret Hartoyo ke penjara. Sebab, uang tersebut diberikan kepada Fathul Huda yang kemudian diserahkan ke Setyawan. Aksi Hartoyo terungkap setelah Setyawan ditangkap oleh Polres Mojokerto. Sebab, dia menggunakan upal tersebut untuk transaksi di sana.

Akibat perbuatannya, Hartoyo dijerat dengan tiga pasal. Yakni, pasal 36 ayat (2) UU No.7/2011 tentang Mata Uang. Kemudian, pasal 36 ayat 3 UU No. 7/2011 tentang Mata Uang, dan pasal 245 KUHP tentang Pemalsuan Mata Uang dan Kertas.

(rk/ara/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news