Minggu, 13 Jun 2021
radarkediri
icon-featured
Features
Madrasah Darussalam Itu Jadi MIN 2 Kota

Kampung Kauman, Cerita dan Tradisi yang Bertahan hingga Sekarang (13)

05 Mei 2021, 14: 51: 53 WIB | editor : Adi Nugroho

BERSEPEDA: Beberapa bocah melintas di dekat gedung MIN 2 Kota Kediri di Kampung Kauman Bandarkidul.

BERSEPEDA: Beberapa bocah melintas di dekat gedung MIN 2 Kota Kediri di Kampung Kauman Bandarkidul. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Kampung Kauman Bandarkidul sangat identik dengan syiar Islam. Selain Masjid Darussalam, ada delapan musala di kampung ini. Juga, ada satu madrasah yang punya prestasi bagus.

==========================

Upaya untuk menjadikan Kampung Kauman sebagai sentral kegiatan agama Islam bukan perjuangan yang mudah. Harus melewati jalan terjal nan berliku. Semuanya dirintis oleh Kiai Zaenal Karim, yang melakukan babad alas Kampung Kauman.

Pada awal berdirinya kampung ini, usai kekalahan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa pada 1830, Kiai Zaenal Karim berusaha menjadikan kampung yang dirintisnya itu sebagai tempat syiar Islam. Dulu, setiap ada orang yang masuk Islam akan diberi hadiah berupa tanah. Hal itu yang membuat Kampung Kauman-yang kini berada di wilayah Kota Kediri-menjadi salah satu induk kegiatan keagamaan.

“Selain Pondok Lirboyo, di sini ada Pondok Bandar,” kata Kiai Abdul Qudus, generasi keempat Kiai Zaenal Karim saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Kediri.

Karena menjadi sentral kegiatan agama, aktivitas di Masjid Darussalam yang didirikan Kiai Zaenal Karim terus dihidupkan. Sebelum ada listrik masjid ini menggunakan corong. Kiai Qudus mengaku masih menangi situasi seperti itu. Waktu itu, rumah warga di Kampung Kauman masih sedikit.

Kini, permukiman ini sudah padat penduduk. Masjid yang dibangun Kiai Zaenal Karim juga sudah mengalami pemugaran. Bangunan yang dulu rendah kini sudah ditinggikan. Kemudian, listsrik juga sudah masuk.

Seingat Kiai Qudus, wilayah Kampung Kauman mulai ramai sekitar 1996. Banyak orang dari luar daerah berdatangan ke Kampung Kauman. Meski Masjid Darussalam sebagai ikon, warga di lingkungan mulai mendirikan musala.

Panji Subagiyo, yang ditemui di tempat terpisah, mengatakan di Kampung Kauman saat ini ada delapan musala. “Ini membuktikan bahwa Islam di Kauman ini sangat kental,” ucapnya.

Delapan musala itu semuanya didirikan setelah masa kemerdekaan. Musala tertuanya adalah Musala Syafiiyah. Didirikan sejak 1950. Hingga kini, musala yang berada di gang sempit itu masih berdiri kokoh. Sedangkan lainnya berada di tepi jalan besar.

Tidak hanya musala, ciri keislaman lain yang masih bisa ditemukan di kampung Kauman ini adalah pendidikannya. Dekat dengan Masjid Darussalam ada sekolah berbasis agama. Yakni Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Kota Kediri. Pengakuan Panji, sekolah tersebut dulunya bernama Madrasah Darussalam.        

Berdirinya sekolah madrasah itu untuk memberikan pendidikan agama Islam kepada anak-anak di Kampung Kauman. Dibangun di atas tanah wakaf, madrasah itu lalu diserahkan ke Kementerian Agama (Kemenag).

“Dulu diserahkan ke pemerintah agar pengelolaannya bisa lebih baik dan menjadi tempat anak-anak Kauman mengenyam pendidikan,” ucapnya.

Perubahan nama menjadi madrasah ibtidaiyah negeri itu terjadi sejak 1997. Berubah dari swasta menjadi negeri. Hingga 2017 lalu, sekolah yang dirintis untuk pendidikan warga Kauman ini menjadi MIN 2 Kota Kediri. Siswanya terbilang ramai. Khususnya dari lingkungan Kauman.(rq/fud/bersambung)

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news