Rabu, 16 Jun 2021
radarkediri
icon-featured
Features

Mengenang Agus Sunyoto, sang Budayawan Nusantara (8)

Di Cendono, Angkat Gus Dur Jadi Pangti Banser

05 Mei 2021, 14: 45: 34 WIB | editor : Adi Nugroho

Mengenang Agus Sunyoto, sang Budayawan Nusantara (8)

Share this          

Jika Soeharto yang presiden adalah panglima tertinggi (pangti) ABRI maka Gus Dur yang ketua umum PB NU adalah pangti Banser. Itulah ‘sindiran’ yang dicetuskan oleh Agus Sunyoto dari Kediri.

=============================

Meski penampilannya kalem, cenderung pendiam, kadang Mas Agus bisa menjadi manusia usil. Tapi, keusilannya tersebut tetap berkelas. Juga guyon parikena. Kelihatannya guyon, eh ternyata terjadi betulan.

Inilah yang terjadi ketika Mas Agus menggagas pengangkatan Gus Dur, KH Abdurrahman Wahid, menjadi Panglima Tertinggi (Pangti) Banser. Pada tahun 1998, sahabat-sahabat Ansor Kabupaten Kediri kami kumpulkan di Masjid Cendono, Kecamatan Kandat (kini masuk Kecamatan Ringinrejo, Red). Sekitar 200 orang kader Ansor dan Banser hadir.

Dalam kesempatan itu, secara bergurau, Mas Agus mengatakan, “Yang asli Cendono, ya Desa Cendono ini. Kalau rumahnya Pak Harto di Jalan Cendana, Jakarta, itu baru.”

Inilah yang saya sebut usil berkelas. Sebagai aktivis yang menguasai geopolitik dan mengerti budaya, selorohan di atas bisa menjadi sentilan untuk Pak Harto yang waktu itu menjadi penguasa Orde Baru.

Hadir dalam acara ini KH Mas Yusuf Muhajir, pengasuh Pondok Pesantren Sidoresmo, Surabaya; Prof DR KH Diya’uddin Kuswandi dari Surabaya; dan sahabat KH Syaifuddin Zuhri, mantan ketua GP Ansor Kabupaten Kediri. Tentu saja Mbah Kiai Shodiq, sesepuh Masjid Cendono, juga menunggui.

Acara dimulai tengah malam. Diawali bacaan tahlil mendoakan arwah Pak Harto. “Lho Mas, bukankah Pak Harto masih hidup. Kok ditahlili?,” spontan saya bertanya kepada Mas Agus. Dia pun menjawab dengan senyum khasnya, “Yo ngene iki carane ngadepi Pak Harto. Tidak boleh secara frontal.”

Menurut Mas Agus, Pak Harto memiliki ilmu kanuragan tinggi. Dia memiliki banyak guru spiritual dan melakukan berbagai ritual rahasia. Bahkan konon Pak Harto memiliki ajian Canda Bhairawa. Menghadapi jenis manusia seperti ini, tidak bisa dihadapi juga dengan ilmu kanuragan. Dia akan lebih kuat.

Dalam menghadapi Pak Harto, kata Mas Agus, caranya seperti menghadapi Prabu Salya dalam cerita pewayangan Perang Baratayudha. Prabu Salya adalah panglima perang Negara Astina. Dialah yang memiliki ajian Canda Bhirawa.

Jika mantra ajian itu dibaca, yang bersangkutan akan berubah wujud menjadi seorang raksasa kecil. Hebatnya, jika raksasa kecil ini terkena senjata tajam dan meneteskan darah, tetesan darahnya itu akan menjelma menjadi raksasa serupa. Kalau menetes lagi, akan menjelma jadi raksasa lagi.

Karena itu, ketika Prabu Salya dihadapi Werkudara dan Arjuna, kedua senapati Negara Amarta ini kalah dan lari dari gelanggang Payudan Kurusetra. Keduanya dikeroyok ribuan raksasa kecil, jelmaan dari ajian Canda Bhirawa milik Prabu Salya.

Tapi, ketika dihadapi Prabu Puntadewa, Prabu Salya kalah dan binasa. Karena Puntadewa adalah ksatria yang memiliki hati suci, ikhlas, dan memiliki kepasrahan total kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ajian Canda Bhirawa menjadi hilang kekuatannya, dan justru akhirnya meninggalkan Prabu Salya, kemudian ngenger kepada Prabu Puntadewa.

Seperti itulah seharusnya menghadapi kekuatan Pak Harto, yang memiliki ambisi besar terhadap kekuasaan disertai ilmu kanuragan tinggi. “Nyatanya waktu reformasi, kekuatan Pak Harto lumpuh sampai lengser ketika menghadapi gelombang tekanan mahasiswa yang berjuang ikhlas, tanpa pamrih,” terang Mas Agus ketika Pak Harto sudah lengser.

Kembali pada acara pengangkatan Gus Dur menjadi Pangti Banser di Masjid Cendono. Dalam menghadapi Pak Harto, kata Mas Agus, justru dengan cara didoakan yang “baik”. Dalam hal ini doa tahlil. Makanya, tahlil untuk Pak Harto malam itu langsung menggema.

Usai tahlil itulah, Mas Agus yang mengawali ceramah pemantapan memberikan prolog. Dikatakan, dalam situasi yang serba-tidak menentu seperti kala itu, diperlukan pimpinan NU yang kuat dan ditaati secara total tanpa reserve oleh Ansor dan Banser sebagai benteng ulama dan dan benteng bangsa. “Kita perlu mengangkat KH Abdurrahman Wahid, Gus Dur, sebagai Panglima Tertinggi Banser. Pangti Banser,” tandasnya yang langsung disambut teriakan serentak, “Siap!” oleh para hadirin.

Ceramah dilanjutkan oleh Kiai Diya’uddin Kuswandi dan Kiai Mas Yusuf Muhajir. Terakhir Kiai Syaifuddin Zuhri. Di akhir ceramahnya, Kiai Syaifuddin Zuhri memberi ijazah membaca Surat Alam Taro (al Fil) sebanyak tiga kali. Dan, ketika membaca kalimat ‘tarmihim’ diulang tiga kali. Suasana pun benar-benar terasa sakral dan khidmat.

Lalu, sebelum baiat dimulai, dikibarkan Bendera Kanjeng Kiai Tunggul Wulung. Bendera warna hitam ini terbuat dari kain beludru, di tengahnya bertulisan dua kalimah syahadat. Kiai Mas Yusuf Muhajir kemudian memandu Ansor dan Banser yang ikut hadir dalam acara tersebut untuk berbaiat, mengangkat Gus Dur sebagai Pangti Banser, serta taat secara sami’na wa atha’na kepadanya.

Sengaja dipilih bendera Tunggul Wulung sebagai lambang gerakan ini, meniru pusaka ampuh milik Kesultanan Yogyakarta yang dibuat dari kiswah, potongan kain penutup Kakbah. Di tengahnya ada beberapa tulisan kaligrafi dalam bentuk rajah.

Bendera Pusaka Kanjeng Kiai Tunggul Wulung dikeluarkan jika terjadi wabah pagebluk atau bencana alam. Ketika Jogja terkena wabah penyakit pes awal kemerdekaan, bendera pusaka itu dikeluarkan untuk diarak keliling.

Besoknya, berita pengangkatan Gus Dur sebagai Pangti Banser itu saya tulis di Jawa Pos dan masuk halaman daerah. Mas Agus yang pulang ke rumah ibunya di Surabaya dan bertemu salah seorang saudaranya yang menjadi intel Kodam V/Brawijaya, langsung ditanya.

“Enek apa, Gus? Beritamu gawe geger,” tanya saudaranya itu seperti diceritakan kepada saya. 

Dengan santai dan sambil bergurau, Mas Agus menjawab bahwa tidak ada apa-apa. “Biasa ae. Ansor dan Banser mengangkat Gus Dur sebagai pangti, hal yang biasa. Kan Gus Dur ketua umum PB NU. Otomatis harus didengarkan dawuhnya, ditaati perintahnya,” jawab Mas Agus.

Beberapa minggu kemudian, NU Jawa Timur menggelar Istighotsah Akbar di Makodam Brawijaya, Surabaya. Jutaan warga NU Jawa Timur tumpek blek di sana. Sehingga menimbulkan kemacetan di banyak tempat. Banser dan Ansor Kabupaten Kediri juga mengirimkan ribuan kadernya. Bahkan, di arena istighotsah akbar ini, bendera Tunggul Wulung kembali dikibarkan dengan megahnya.

Konon, setelah peristiwa itu, Mas Agus menjadi incaran pusat kekuasaan Orde Baru. Dan, dari sinilah Mas Agus kenal dan dekat dengan KH Hasyim Wahid alias Gus Iim, adik bungsu Gus Dur. “Eh, ternyata setelah jadi presiden, Gus Dur benar-benar menjadi Panglima Tertinggi TNI. Dulu kita angkat menjadi Pangti Banser, menjadi kenyataan, menjadi Pangti TNI,” kata Mas Agus tersenyum, sambil memelintir kumis lebatnya. (abu muslich/hid/bersambung)

(rk/han/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news