Minggu, 13 Jun 2021
radarkediri
icon-featured
Features
Yetty Setianingsih

Kadernya Lansia, Edukasinya di Tempat Wisata

Inovasinya Berbuah Prestasi

05 Mei 2021, 14: 40: 07 WIB | editor : Adi Nugroho

TUGAS : Bidan Yetty Setianingsih, ketika berada di Puskesmas Gurah kemarin.

TUGAS : Bidan Yetty Setianingsih, ketika berada di Puskesmas Gurah kemarin. (Karen Wibi - radarkediri)

Share this          

Awalnya, bidan ini resah melihat situasi di desanya. Banyak orang tua yang bekerja dari pagi hingga petang. Sementara, tanggung jawab pengasuhan anak diberikan pada kakek-neneknya.

============================

KAREN WIBI, KABUPATEN, JP Radar Kediri

============================

Perempuan itu duduk di sudut ruangan, di Puskesmas Gurah. Maskernya terpasang rapat. Kedua tangannya bergelut dengan lembaran kertas penuh coretan. Matanya disipitkan, memberi tanda sedang fokus melihat sesuatu. Suara riuh di puskesmas itu tak mampu membuyarkan konsentrasinya.

Wanita itu adalah Yetty Sherot Setianingsih. Bidan Desa Kranggan, salah satu desa di Kecamatan Gurah. Wanita 45 tahun ini dikenal sebagai bidan yang punya banyak prestasi.

Di antara penghargaan yang dia dapatkan adalah juara dalam lomba Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PBHS). Lomba ini diadakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri bersama dengan kelompok pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK) dan keluarga berencana (KB) pada 2017. Bidan Desa Kranggan sejak 1997 ini meraih juara pertama di tingkat Kabupaten. Kemudian, saat tampil di tingkat provinsi meraih peringkat ketiga.

Yetty terpilih dalam lomba itu berkat inovasinya. Dia melatih banyak orang lanjut usia (lansia) sebagai kader kesehatan. Menariknya, para lansia yang menjadi kader kesehatannya itu mampu mempresentasikan soal kesehatan ibu dan anak dengan baik.

Menampilkan kader yang sudah lansia saja merupakan satu hal yang unik. Umumnya, kader kesehatan selalu berusia muda. Biasanya lagi, adalah wanita yang masih punya anak balita.

Mengapa Yetty menggaet kader kesehatan para lansia? “Di Desa Kranggan mayoritas warganya, termasuk ibu-ibu, adalah seorang pekerja. Mereka berangkat pagi dan pulang sore,” terang Yetty.

Karena waktu sehari-hari habis untuk bekerja, akhirnya anak mereka diasuh oleh kakek atau neneknya. Hal itulah yang membuatnya resah. Bila dibiarkan berlarut-larut akan berpengaruh pada tumbuh kembang sang anak. Apalagi, sebagian kakek dan nenek itu tak punya pengetahuan cukup merawat anak yang baik dan benar.

Dari keresahan itu muncullah ide. Yetty akhirnya merekrutnya jadi kader kesehatan. Ide yang muncul pada 2014 itu bak gayung bersambut. Warga dan kepala desa merespon positif.

Awalnya, Yetty tidak bisa mengumpulkan banyak peserta. Kemudian, dia punya pemikiran, edukasi itu harus dilakukan dengan cara menyenangkan. “Jadi saya ajak mereka ke beberapa tempat wisata,” tutur perempuan dengan tiga anak tersebut.

Trik itu tak hanya membuat jumlah lansia yang mau jadi kader bertambah. Tapi juga materi yang disampaikannya bisa cepat masuk. “Bahkan di desa saya itu salah satu lomba tujuhbelasannya tentang penyuluhan yang dilakukan lansia itu,” terangnya.

Mata Yetty melirik ke arah atas saat menceritakan lomba yang berlangsung pada 2017 itu. Dia ingat sekali para lansia itu fasih dalam presentasi. Beberapa juri yang bertanya juga dijawab dengan enteng. “Itu saya ingat. Jurinya bilang ini desanya yang paling murni,” ucap Yetty menirukan perkataan juri.        

Perempuan yang juga menjadi pengurus Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Kabupaten Kediri itu mengatakan bahwa dirinya memiliki banyak cita-cita. Salah satunya, dirinya akan berusaha keras dalam pemberdayaan masyakarat. “Salah satunya adalah dengan memberikan inovasi secara terus menerus,” tutupnya.(wib/fud)

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news