Minggu, 13 Jun 2021
radarkediri
icon-featured
Features
Bidan Desa

Harus Hadapi Calon Ortu yang Acuh

05 Mei 2021, 14: 32: 18 WIB | editor : Adi Nugroho

Harus Hadapi Calon Ortu yang Acuh

(ilustrasi: Afrizal - radarkediri.id)

Share this          

Tugas bidan desa sangat kompleks. Sekompleks masalah kesehatan di masyarakat. Parahnya lagi, para bidan desa ini masih harus menghadapi satu masalah pelik lagi. Yaitu, cueknya para calon orang tua!

Sikap acuh para calon orang tua itu terlihat saat masa kehamilan. Para calon ibu, dan juga calon ayah, tidak begitu peduli pada kesehatan kandungan. Apalagi bila mereka tak merasa ada masalah dalam masa kehamilan itu.

“Padahal (sikap) itu sangat berbahaya,” ingat Dotik Sukismi, 47, bidan Desa Tertek, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Akibat yang bisa muncul dari sikap acup para calon ibu itu sangat fatal. Tidak hanya pada sang calon ibu tapi juga pada janin. Risiko terbesarnya adalah kematian pada ibu dan bayi. Atau, bila kelahirannya selamat sang bayi akan menderita stunting.

Sosok yang saat ini menjadi ketua majelis pertimbangan etika bidan IBI Kabupaten Kediri ini mengatakan, acuhnya calon orang tua disebabkan banyak hal. Salah satunya adalah kurangnya pengetahuan calon ibu.

Dalam beberapa kasus, calon ibu acuh dengan kondisinya karena hamil di luar nikah. Mereka malu memeriksakan kondisi kandungannya. “Lalu yang lainnya ada karena masalah ekonomi. Di mana calon ibu termasuk orang yang tidak mampu,” tutur perempuan berkerudung tersebut.

Orang-orang seperti itulah yang menjadi target utama para bidan desa. Pasalnya, orang-orang tersebut memiliki risiko yang paling tinggi.

Untuk menghadapi kondisi seperti itu, bidan desa akan melakukan tracing. Dilakukan terperinci dengan dibantu para kader kesehatan. Mereka akan memberi edukasi bahwa acuh di masa kehamilan adalah sikap berbahaya. Berusaha mengubah sikap mereka secara total.

Pemeriksaan kesehatan kandungan biasanya dilakukan tiap trimester. Trimester 1 calon ibu wajib memeriksakan kandungannya minimal 2 kali. Pada trimester 2, minimal 1 kali pemeriksaan. Dan trimester 3 calon ibu wajib memeriksakan kandungannya sebanyak 2 kali. “Tapi akan lebih baik jika tiap bulan sekali dilakukan pemeriksaan,” imbuhnya.

Hasil akhir pemeriksaan akan mengarah pada penentuan perawatan yang cocok bagi calon ibu. Agar ibu melahirkan dengan sempurna serta bayi lahir sehat, normal, dan tidak stunting.

Dotik menambahkan, kasus kematian ibu dan bayi sering ditemukan pada kehamilan usia remaja. Merujuk dari survei di Desa Tertek, Dotik menunjukkan fakta bahwa banyak remaja masih memiliki pola makan tidak sehat. “Seperti pagi makan mie instan, nanti siang dan sore (juga) begitu,” tutupnya sembari mengatakan diskusi kepada remaja rutin dilakukannya tiap bulan. (wib/fud)

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news