Selasa, 18 May 2021
radarkediri
icon-featured
Features
Dulu, Jamaah Diba’ Bisa Ratusan Orang

Kampung Kauman, Cerita dan Tradisi yang Bertahan hingga Sekarang (12)

04 Mei 2021, 14: 00: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

SALAWAT: Ghofur menunjukkan kitab diba’ yang dibaca saat mereka menggelar diba’an, rebana, maupun hadrah.

SALAWAT: Ghofur menunjukkan kitab diba’ yang dibaca saat mereka menggelar diba’an, rebana, maupun hadrah. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Bila kesenian jidor menghilang, tidak demikian dengan seni melantunkan salawat nabi yang lain. Di Kampung Kauman Bandarkidul pembacaan diba’ hingga memainkan rebana dan hadrah masih bertahan.

=======================

Abdul Ghofur menunjukkan satu kitab bertuliskan huruf Arab. Kitab itu besampul hijau. Menurut lelaki 46 tahun ini, kitab yang ada di tangannya itu menjadi rujukan utama untuk mereka yang menyelami diba’an, rebana, ataupun hadrah.

“Ciri dari tiga kesenian itu pasti menggunakan kitab ad-Diba’ atau barzanji,” katanya.

Ghofur yang pernah mondok di Lirboyo pernah mendapat materi terkait kitab diba’. Yang menjelaskan bahwa kitab itu berasal dari Spanyol. Isinya tentang pujaan terhadap nabi dan sifat-sifatnya. Kitab itu bisa ditemukan dengan mudah dan dijual bebas.

Menurut Ghofur, tiga kesenian itu masih tetap dimainkan sampai sekarang. Sepengetahuannya, diba’an tersebut sudah mulai popupler di masa Kiai Siddiq. Dia adalah generasi ketiga setelah Kiai Zaenal Karim. Seingat Ghofur, dia masih sempat merasakan semaraknya diba’an.

“Waktu itu, orang yang ikut lebih dari seratus orang lintas generasi,” bebernya. Berbeda dengan rebana atau hadrah yang masih dibantu menggunakan alat, untuk diba’an hanya mengandalkan suara. Semua anggota melantunkan isi kitab diba’ itu dengan penuh kepasrahan.

Apa yang membedakan dulu dan sekarang? Yang berbeda menurut bapak tiga anak itu adalah masalah jumlah anggotanya. Jika awalnya ada ratusan orang, kini paling banyak 50 orang. Itu pun terbagi menjadi beberapa jamiyah diba’.

“Ada yang orang dewasa, anak-anak, ibu-ibu serta anak perempuan,” bebernya. Mereka masih aktif dan punya tempat latihan masing-masing.

Menurut Gufron, kesenian diba’an, rebana, dan hadrah sudah jauh berbeda dengan jidor yang dibawa Kiai Zaenal. Tidak hanya lafaz bacaannya, tetapi juga alat yang digunakan. Jidor punya alat paling unik, yakni gendang seperti beduk berukuran mini. Sementara itu, rebana dan hadrah yang menggunakan alat tidak bisa disamakan dengan jidor.

Meski lafal yang diucapkan berbeda namun esensi dari kesenian itu sama. Yakni sama-sama melantunkan salawat. Sebab itu, warga Kauman hingga kini masih cocok dengan kesenian yang punya nilai keagamaan.(rq/fud)

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news