Selasa, 18 May 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Pameran 26 Topeng Karakter

Seniman dan Pegiat Literasi Rayakan Hari Kebebasan Pers

04 Mei 2021, 13: 54: 51 WIB | editor : Adi Nugroho

SIMBOL: Pertunjukan pembacaan puisi dan topeng karakter di Warung Budoyo Jawi, Kelurahan Banaran Minggu malam (2/5) untuk merayakan hari kebebasan pers sedunia.

SIMBOL: Pertunjukan pembacaan puisi dan topeng karakter di Warung Budoyo Jawi, Kelurahan Banaran Minggu malam (2/5) untuk merayakan hari kebebasan pers sedunia. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri - Hari kebebasan pers sedunia 2021 di Kota Kediri tidak hanya dirayakan awak media. Seniman serta pegiat literasi ikut serta menyemarakkan World Press Freedom Day (WPFD) yang digelar di warung Budoyo Jawi, Kelurahan Banaran, Kota Kediri Minggu (2/5) pukul 20.00.

          Kasus kekerasan terhadap Jurnalis Tempo di Surabaya menjadi alasan komunitas di luar pers ini berkumpul lalu menyuarakan sikap bersama. Mereka menolak kekerasan terhadap wartawan yang sedang menjalani tugas. Penolakan seniman dan pegiat literasi ini disampaikan dengan cara cukup tidak biasa. Ada yang memainkan musik, berpuisi, menari topeng, hingga pameran topeng teatrikal. 

“Kesadaran masyarakat di Kediri sudah terbangun,” ucap Danu Sukendro, ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kediri yang menginisiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, publik mulai paham saat kerja jurnalis dibungkam dan mendapat tindakan kekerasan maka hak publik menerima informasi ikut terhambat. Alasan itulah yang menyebabkan berbagai komunitas hadir lalu menyampaikan kegelisahan mereka lewat puisi.

Baca juga: Botol Sampo Berisi Sabu

Seperti Zanuarifki dari Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Kabupaten Kediri mengaku hadir di acara itu karena tindakan kekerasan terhadap jurnalis menjadi ancaman kebebasan pers. Seperti syair yang dia bacakan “aku bingung terhadap negara”. Ketakutan dipelihara sepanjang masa. Baginya, syair dari Hang Kafrawi itu sudah cukup menjadi representasi kejadian di nagara ini.

“Kekerasan tidak hanya menimpa jurnalis. Perilaku premanisme juga dialami oleh pegiat literasi mulai dari pembubaran lapak baca hingga sweeping buku. Tindakan itu tidak bisa dibenarkan dan harus selalu disuarakan,” katanya kepada JP Radar Kediri.

Selain dari pegiat literasi, seniman musik juga ikut meramaikan acara tersebut. Sesekali mereka mengiringi pembacaan puisi. Antusiasme itu juga ada pada gerakan mahasiswa dan lembaga pers kampus. Karena tidak semua bisa hadir sebagian dari mereka mengirimkan puisi lewat video yang ditampilkan serentak pada malam hari.

Selain puisi, ada pula lapak buku. Keunikan lainnya adalah pertunjukan pameran 26 topeng karakter. Pameran topeng karakter itu dipajang di halaman warung Budoyo Jawi. Hasil karya seniman asli Kediri, Maswanto tersebut menarik perhatian pengunjung. Bentuknya yang unik dan terkesan horor menjadi daya tarik pengunjung.

“Pameran Topeng Karakter sebagai simbol saja,” kata Maswanto. AJI Independen dan komunitas pegiat literasi menjadikan pameran topeng di WPFD ini sebagai momentum memerangi angkara murka yang berusaha memberangus kemerdekaan pers. (rq/dea) 

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news