Selasa, 18 May 2021
radarkediri
icon-featured
Features

Mengenang Agus Sunyoto Sang Budayawan Nusantara (6)

Lunturkan Mistik Pak Harto di Sumber Gundi

04 Mei 2021, 13: 50: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

Mengenang Agus Sunyoto Sang Budayawan Nusantara (6)

Share this          

Kisah Agus Sunyoto dengan Soeharto bukan hanya tentang penelusuran silsilahnya. Tapi, juga upaya spiritual menjelang kejatuhan penguasa Orde Baru tersebut.

=========================

Beberapa bulan sebelum reformasi pada 1998, Mas Agus mengajak melakukan ritual, memasang tumbal untuk melunturkan kekuatan mistik Pak Harto. Saya ditugasi untuk mencari tanah di sebuah kuburan wingit, di lereng Gunung Wilis.

Dengan berbekal sedikit informasi tentang lokasi kuburan plus bertanya beberapa kali kepada warga sekitar, akhirnya saya sampai di lokasi. Waktu itu sekitar pukul 15.00 sore. Kuburan umum ini berada di pinggir sungai. Dikitari pagar tembok bata. Di dalamnya ada dua makam tokoh yang dicungkup.

Mobil saya parkir di dekat pintu pagar tembok masuk. Sekitar kuburan sepi. Tidak ada seorang pun terlihat di sekitar tempat itu. Dengan berbekal obeng dan tas kresek kecil, saya masuk ke tengah kuburan. Saya jugil tanah kuburan dengan obeng. Beberapa genggam tanah saya masukkan tas kresek, kemudian saya simpan saku celana.

Sambil membersihkan tangan dari tanah, tiba-tiba saya dikejutkan datangnya tujuh pria dewasa dengan tergesa-gesa. “Sampeyan siapa? Sampeyan dari mana? Mau apa ke kuburan ini?,” tanya salah seorang dari mereka dengan nada membentak.

Dengan berusaha setenang mungkin, saya jawab bahwa saya dari Kediri dan mau ziarah. “Kalau mau ziarah, sana ketemu juru kunci dulu. Rumahnya seberang sungai, timur jalan,” tambah salah seorang dari mereka, tetap dengan nada tidak bersahabat.

“Wo nggih, saya tak sowan ke mbah juru kunci,” jawab saya sekenanya.

Mobil saya putar balik, terus pura-pura menuju rumah juru kunci makam. Namun, ketika lewat depan rumah juru kunci, saya tidak berhenti. Melainkan terus pulang. Pikir saya, wis kabul kajate, ‘tanah syarat’ sudah didapat. Tapi, lain waktu, saya sowan juru kunci makam tersebut. Minta diikhlaskan sambil memberi salam tempel Rp 100 ribu.

Setelah mendapatkan ‘tanah syarat’ tersebut, saya menelpon Mas Agus di Malang. Memberitahukan hasil perburuan saya. Besoknya dia datang ke Kediri. Lalu, dengan ditemani almarhum Pak Ja’ali, komandan Banser Papar, dan saya, Mas Agus mengajak ke Sendang Tirta Kamandanu di Desa Menang, Kecamatan Pagu.

Selain membawa tanah dari kuburan wingit itu, kami juga menyiapkan kendil kecil yang biasa untuk tempat ari-ari bayi. Ketika sampai Sendang Tirta Kamandanu, jam menunjukkan pukul 9 malam. Tapi ternyata kami harus berpindah tempat. “Bukan di sini,” kata Mas Agus singkat.

Dia minta diantar ke kolam sumber air lain yang ada di sekitar daerah tersebut. Akhirnya, kami antar ke Sumber Gundi, sekitar 4 kilometer sebelah selatan Sendang Kamandanu. Kendil kecil saya serahkan Mas Agus. Kemudian diberi sedikit tanah dari kuburan wingit, ditambah beberapa batu kerikil yang didapat dari Sumber Gundi.

Beberapa saat mulut Mas Agus komat-kamit membaca doa. Tanah dan kerikil dalam kendil sedikit diludahi. Setelah itu diletakkan di permukaan air, tepi kolam. Saat itulah tiba-tiba kendil bergerak sendiri ke tengah kolam. Sekitar 1,5 meter kemudian berhenti. Lalu, terdengar suara berdesis, “Sssssss….,” seperti karbit diberi air.

Seiring dengan itu muncul asap tipis berwarna putih keluar dari kendil. Disusul pletikan-pletikan api kecil. Lalu, kendil itu meledak tiga kali. “Dhuar… dhuar… dhuar…”

Saya dan Pak Ja’ali ketenggengen. Mas Agus hanya diam berdiri sambil memelintir kumisnya. Pak Ja’ali lalu bertanya kenapa sampai meledak seperti itu. Mas Agus menjawab, itu pertanda kekuatan magis sasaran sudah dihancurkan. Dan, ledakannya sesuai dengan kekuatan yang dihancurkan tersebut. “Semakin kekuatannya besar, semakin keras ledakannya,” tambah Mas Agus.

Setelah dari Sumber Gundi itu, esoknya, saya dan Pak Ja’ali disuruh menanam tumbal di beberapa tempat di Kediri. Berupa kendil berisi tanah, kerikil, dan beberapa bunga. Di situlah lagi-lagi terjadi keanehan. Sewaktu saya dan Pak Ja’ali menanam tumbal, mendung yang semula menutup sinar matahari tiba-tiba menyibak. Sehingga sinar matahari menyinari penuh proses penanaman tumbal tersebut. Baru, setelah selesai, mendung kembali menutup matahari.

Malam hari berikutnya, saya dan Pak Ja’ali diajak Mas Agus ke Danau Sarangan, Magetan. Di sana Mas Agus kembali melakukan prosesi seperti di Sumber Gundi. Yang menyenangkan, sewaktu tiba di Sarangan pas tengah malam, bulan sedang purnama penuh. Sehingga saya dan Pak Ja’ali bisa melihat seluruh prosesi yang dilakukan Mas Agus secara jelas dan lengkap.

Ritual memasang tumbal untuk melunturkan kekuatan mistik Pak Harto dilanjutkan ke Jogjakarta.  Yaitu, di Museum Monumen Jogja Kembali. Di tempat yang merupakan simbol kemenangan Pak Harto ini, Mas Agus hanya menaburkan tanah yang dibawa dari Kediri. (abu muslich/hid/bersambung)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news