Selasa, 18 May 2021
radarkediri
icon-featured
Features

Kampung Kauman, Cerita dan Tradisi yang Bertahan hingga Sekarang (11)

Seni Kesukaan Mbah Kiai Itu Kini Punah

04 Mei 2021, 13: 07: 35 WIB | editor : Adi Nugroho

PUSAT KEGIATAN: Penulis berada di dekat bedug Masjid Darussalam di Kampung Kauman Bandarkidul.

PUSAT KEGIATAN: Penulis berada di dekat bedug Masjid Darussalam di Kampung Kauman Bandarkidul. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Ada beberapa pantangan yang masih diyakini warga Kampung Kauman Bandarkidul hingga sekarang. Mereka tak boleh mementaskan wayang kulit atau jaranan bila menggelar hajatan. Bila melanggar, risikonya besar.

==============================

==============================

Ada cerita menarik saat pendirian masjid Darussalam di Kampung Kauman Bandarkidul. Bukan hanya soal potongan kayu rimba untuk kerangka masjid yang diambil dari hutan di Desa Petok, Kecamatan Mojo,  Kabupaten Kediri saja. Juga tentang proses membawanya. Warga mengiringi iring-iringan pembawa kayu itu dengan kesenian jidor.

“Jidor ini kesenian yang disukai Mbah Kiai Zaenal,” terang Abdul Ghofur. 

Lelaki 46 tahun ini, dulunya, adalah pemain jidor. Bertugas sebagai penabuh gendang. Dia merupakan generasi kelima sebagai seniman jidor di Kampung Kauman ini.

Menurut pria dengan tiga putera itu, kesenian jidor dibawa oleh pendiri Kampung Kauman, Kiai Zaenal Karim. Seni itu digunakan sebagai media dakwah. Dari cerita orang tua Ghofur, jidor digunakan agar warga Kauman tidak membuang waktu dengan sekadar cangkrukan saja. Mereka diajak memainkan jidor dengan lagu bersyair salawatan.

Upaya Kiai Zaenal itu membuahkan hasil. Warga Kampung Kauman menyukainya. Mereka pun selalu menampilkan kesenian jidor setiap kali memperingati hari besar agama Islam.

Ghofur belajar seni jidor dari ayahnya. Selalu ikut ketika sang ayah tampil saat Maulid Nabi, Rajab, atau di malam Suro. “Jidor Kauman sering tampil sampai ke luar kelurahan,” beber lelaki yang kesehariannya bergiat di usaha kerajinan tenun ikat ini.

Dari orang tuanya pula dia mendapat cerita tentang meluasnya Islam di tempat ini yang salah satunya karena seni jidor. Berkat kesenian Jidor banyak warga di Kauman tertarik masuk Islam.

Kampung Kauman memang terkenal sebagai kampungnya orang kaum, orang yang kemampuan beragamanya tinggi. Tak hanya keseniannya yang bernuansa Islam kental. Juga, ada beberapa pantangan bagi warga yang tak bisa sembarangan menghadirkan kesenian. Seperti warga yang hajatan dilarang mementaskan wayang ataupun jaranan. Bila ada warga yang nekat melakukan itu, konon, hidupnya akan terus dirundung masalah.

“Ada pendatang yang nekat menggelar wayangan. Tidak lama setelah acara, orang yang dulunya kaya menjadi miskin dan semua hartanya habis,” kata Ghofur.

Dia juga menyaksikan sendiri ada warga yang memainkan musik jaranan. Ketika diarahkan ke Gang VII, gang Kampung Kauman, suaranya langsung hilang. Orang yang sengaja melakukan itu kini sakit-sakitan.

Lelaki berkumis tipis ini percaya, Kiai Zaenal telah memagar Gang VII-IX di Kauman dari wayangan ataupun jaranan. Orang yang membabat alas Kauman itu seperti sedang meninggalkan amanah bagi warga di lingkungan sekitar masjid bisa tetap melestarikan jidor.

Sayang, perubahan zaman tidak bisa dibendung. Seni tradisional yang dibawa Kiai Zaenal pun akhirnya sirna. Orang tua yang menjadi pemain Jidor kebanyakan sudah menghadap Sang Khalik. Sekarang,  yang tua tinggal dua orang. satunya sudah pikun. Sedangkan anak mudanya saat itu masih ada tiga orang termasuk Ghofur dan Panji Soebagiyo.

Diakui Ghofur, seni Jidor ini terakhir kali dimainkan setelah orang tuanya meninggal dunia. Terakhir kali dimainkan pada 2010. “Almarhum Bapak (Supangat, Red) memainkan terakhir di rumah bersama kelompoknya,” ucapnya.

Dia masih ingat, saat ayahnya masih hidup anggota jidor punya semangat tinggi. Selepas kepergiannya, permainan jidor mulai ditinggalkan. Apalagi jumlah pemainnya kian berkurang.

Setelah ayahnya meninggal dunia, alat yang sebelumnya menumpuk di rumahnya kini diserahkan ke orang lain untuk dirawat. Ghofur berdalih, rumahnya tidak cukup untuk menampung alat tersebut. Jika diperlukan, dia berusaha menghidupkan lagi salawat jidor di Kampung Kauman Bandarkidul.(rq/fud/bersambung)

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news