Selasa, 18 May 2021
radarkediri
icon-featured
Features

Mengenang Agus Sunyoto, sang Budayawan Nusantara (5)

Ziarah ke Pedarmaan Dewa Simha

04 Mei 2021, 12: 58: 06 WIB | editor : Adi Nugroho

Mengenang Agus Sunyoto, sang Budayawan Nusantara (5)

Share this          

Menulis reportase tentang Banser dan PKI. Ini hal lain yang dilakukan Agus Sunyoto pada awal-awal aktif berkiprah di Kediri.

=======================

Banser Berjihad Menumpas PKI. Buku itu terbit Agustus 1996. Penerbitnya, lembaga Kajian dan Pengembangan Pengurus Wilayah (PW) Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur dan Pesulukan Thoriqoh Agung (PETA) Tulungagung.

Itulah judul buku yang ditulis Mas Agus bersama tim setahun setelah intensif saya ajak membina kader-kader Ansor di Kediri. Ya, bukan hanya memintanya untuk mengkader teman-teman Ansor. Seiring terpilihnya saya sebagai ketua GP. Ansor  pada 1995, saya juga mengusulkan Mas Agus untuk masuk di jajaran pengurus Ansor Jawa Timur.

Di Jawa Timur, oleh Cak Anam (Choirul Anam, Ketua GP. Ansor Jawa Timur), Mas Agus dipercaya menjadi Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan. Karena itulah saat Ansor ingin menuliskan sejarah perjuangannya dalam melawan PKI, Mas Agus ditunjuk untuk memimpin timnya. Penulisan buku ini didukung oleh Pondok PETA, tempat Mas Agus belajat Thariqah Sadziliyah kepada Almaghfurlah KH. Abdul Jalil Mustaqim dan KH Abdul Ghofur Mustaqim.

 Tim penulis buku ini ada empat. Selain Mas Agus sebagai ketua, ada saya, Imam Kusnin Ahmad yang juga wartawan, serta Miftahul Ulum. Kami semua aktif di Ansor.

Buku ditulis berdasarkan reportase ala wartawan. Dimulai awal 1996, sekitar bulan Januari-Februari. Kami membuat basis reportase di tiga wilayah. Yaitu, Kediri, Blitar, Jombang sampai Banyuwangi. Tapi, Kediri mendapat porsi paling banyak karena memang banyak peristiwa terjadi di sini. Seperti peristiwa Burengan, Kanigoro (Kras), Tinalan di Kota Kediri, Gurah dan Kepung.

Dipimpin Mas Agus, kami lantas mewawancarai tokoh-tokoh kunci di tiga kabupaten/kota tersebut. Di antaranya KH. Maksum Djauhari (Lirboyo), KH. Abdurrohim Sidiq, Blitar, salah seorang pendiri Banser.

Misinya, mengungkap apa saja peran Ansor dengan Banser dalam menghadapi PKI, menjelang dan pasca-peristiwa 1965. Tak bisa dimungkiri, tahun-tahun itu ketegangan akibat agitasi serta aksi-aksi PKI cukup tinggi. Dan, banyak kiai-kiai NU yang menjadi korbannya. 

Dalam memimpin tim, Mas Agus cukup disiplin dan teliti. Kami selalu dipesan jangan sampai ada sumber yang terlewat. Juga harus tepat waktu menyelesaikan deadline penulisan. Alhamdulillah, dalam waktu tiga-empat bulan, seluruh reportase selesai.

Setelah melalui editing dan proses layout, naskah buku itu masuk ke percetakan dan terbit pada Agustus 1996. Mengapa harus terbit bulan itu? Ini karena Ansor sedang punya gawe. Memperingati ulang tahunnya yang ke-62. Nah, puncak peringatannya digelar di Pondok Pesantren Lirboyo pada 31 Agustus. Harinya, Sabtu. Dan, diramaikan dengan Sarasehan Alumni Banser 1965. Buku itu adalah kadonya.

Dalam menulis buku Banser Berjihad Menumpas PKI, seperti biasanya, Mas Agus selalu menyertai dengan analisanya yang tajam. Diantaranya, dalam menyebut peristiwa G30S PKI, Mas Agus selalu menyebut, peristiwa G30S PKI yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965.

Saya beruntung beberapa kali diajak untuk menemani melakukan penelusuran jejak arkeologis. Salah satunya ketika mencari jejak peninggalan Dewasimha di Kediri. Ini adalah sosok pendiri Kerajaan Kalingga (594-695 Masehi). Yang terkenal dengan pemimpinnya yang adil, yaitu Ratu Sima.

Dalam catatan seorang pengelana China bernama I-Tsing masa Dinasti Tang (618 – 907), menyebut adanya Kerajaan bernama Holing yang berlokasi di Cho-Po. Menurut Mas Agus, yang dimaksud Holing adalah Kerajaan Kalingga. Sedangkan ibukotanya bernama Cho-Po adalah sekarang yang dikenal dengan Kepung, Kecamatan Kepung, Kediri.

Kebetulan di kecamatan tersebut memang ada jejak-jejak toponimi. Ada sejumlah nama tempat di sana yang menunjukkan kemiripan dengan nama-nama masa lalu. Bahkan Keling masih dipakai sebagai nama desa di sana sampai sekarang.

Suatu malam, sekitar jam 22.00, usai acara Ansor di Pare, Mas Agus tiba-tiba mengajak saya untuk mencari petilasan Dewasimha itu.

Bermobil, kami meluncur menuju Kepung. Lalu ke Dusun Bogorpradah. Sebab, dari bacaan Mas Agus, lokasi petilasan Dewasimha ada di sekitar wilayah itu. Kami harus bertanya kepada beberapa orang sebelum akhirnya mendapat petunjuk tentang lokasi sebuah punden tua.

Letaknya di tengah areal kebun jagung. Dari jalan desa harus masuk. Itu jam sepuluh malam. Berdua kami berjalan kaki menembus sela-sela kebun jagung itu. Di kegelapan. Setelah mengamati kondisi sekitar, ternyata memang ada bangunan punden yang sudah tua.

Mas Agus lantas duduk bersila. Melafalkan entah apa saja itu. Saya tidak paham. Sedangkan saya, menggunakan senter, mengamati benda-benda sekitar. Perhatian saya lantas tertuju pada sebuah batu. Ada pahatan-pahatan reliefnya. Saya kemudian mengamati lebih detail sambil meraba-raba bentuknya.

Menurut dugaan saya, relief itu berbentuk kura-kura. Mirip dengan bentuk gambar kura-kura pengimaman Masjid Demak. Temuan ini yang langsung saya beritahukan. Mendengarnya, Mas Agus spontan berucap, “Masya Allah…ya itu.”

Beliau lalu kembali duduk bersila sambil memejamkan mata. Kemudian melaflkan sebuah mantra dalam Bahasa Jawa Kuno. Sesaat setelah itu, tiba-tiba muncul pusaran angin di sekitar punden. Bunyinya “krosok..krosok..krosok.. krosok..krosok.. krosok..” karena menerpa daun-daun di sekitar. Cukup lama. Sekitar tiga menit. Setelah itu mereda. Tenang kembali.

Saya tidak tahu itu pertanda apa. Saya baru berani bertanya kepada Mas Agus setelah perjalanan pulang, “Mas, itu tadi apa?” Kata Mas Agus, begitu saya beritahu tentang keberadaan relief kura-kura di sana, dia langsung bersimpuh. Dalam hati bilang, “Eyang Dewasimha, kula putra wayah panjenengan ingkang sowan.”

Dewa Simha atau Ratu Sima datang bersama pengiringnya. Suara krosok... krosok tersebut adalah suara rombongan pengiring Dewa Simha. Mas Agus menyebut, punden Bogorpradah tersebut adalah tempat Pendarmaan Dewa Simha.

Beberapa waktu kemudian, Mas Agus mengantar Gus Iim atau KH. Hasyim Wahid, adik Gus Dur, beberapa kali ziarah ke pendarmaan Dewa Simha. Bahkan dalam buku Gus Iim berjudul “Tikungan Kapitalis Global Dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia”, menulis persembahan untuk Dewa Simha atau Raja Sima.

Di sampul belakang buku Gus Iim ditulis “Untuk Raja Sima, konsolidator politik pertama di Nusantara, dan untuk semua pihak yang membuat kami tertawa”.  (dituturkan oleh abu muslich/hid/bersambung)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news