Minggu, 16 May 2021
radarkediri
icon-featured
Features

Mengenang Agus Sunyoto, sang Budayawan Nusantara (4)

Jadi Tahanan Selundupan demi Wawancara

04 Mei 2021, 12: 47: 35 WIB | editor : Adi Nugroho

Mengenang Agus Sunyoto, sang Budayawan Nusantara (4)

Share this          

Bukan hanya meninggalkan kader. Agus Sunyoto juga punya banyak jejak di Kediri berupa catatan. Salah satunya sempat bikin geger, yaitu reportase tentang Mbah Sumo.

======================

Suatu hari pada 1995. Mas Agus tiba-tiba datang ke kantor biro Jawa Pos di Kediri. Saat itu masih bertempat di ruko Jl Brawijaya 27-D. “Lih (panggilan akrab Agus Sunyoto kepada Abu Muslich, Red), aku ingin wawancara orang ini,” katanya kepada saya sambil menjelaskan siapa yang dimaksud.

Saat itu Mas Agus memang sudah mengundurkan diri dari Jawa Pos. Tapi, jiwa kewartawanannya tetap melekat. Bahkan, almarhum masih aktif sebagai wartawan. Freelance. Bisa menulis untuk media mana saja yang mau menerima tulisannya.

Yang dimaksud Mas Agus yang waktu itu baru datang dari Surabaya adalah Mbah Sumo. Orang Ngadiluwih yang sedang dipenjara karena dituduh sebagai penyebar ajaran yang meresahkan. Statusnya sebagai narapidana (napi) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kediri.

Mas Agus tertarik karena ajaran yang didakwakan kepada Mbah Sumo cukup dikenalnya. “Ini mirip dengan tantris,” lanjut Mas Agus yang saya tahu memang mendalami ilmu-ilmu mistis dan magis.

Itu adalah ilmu mistis yang digunakan untuk memperoleh kesaktian. Mbah Sumo diciduk polisi setelah namanya disebut-sebut oleh sejumlah tersangka pemerkosa bocah di bawah umur sebagai gurunya. Konon, untuk memperoleh kesaktian, salah satu syaratnya adalah menggauli perempuan yang belum menstruasi.

Tapi, di pengadilan, Mbah Sumo menampik tuduhan itu. Ia mengaku sudah tidak punya murid dan sudah tidak menguasai lagi ilmu tersebut. Semua sudah dilunturkannya. Meski demikian, majelis hakim tak yakin atas pengakuan itu dan tetap mengganjarnya dengan hukuman penjara. Kasus ini beberapa kali dimuat di Jawa Pos.

Saya dan Mas Agus lantas berdiskusi. Sebab, tak mudah untuk mewawancarai napi di dalam penjara. Bahkan sebagai wartawan. Apalagi, materi yang hendak dikorek Mas Agus cukup sensitif. Si empunya ‘ilmu’, Mbah Sumo, belum tentu mau berbicara kepada orang lain apalagi wartawan.

Kami sempat mendapat ide. Mas Agus harus bisa masuk ke dalam penjara selayaknya tahanan. Bahkan harus satu sel dengan Mbah Sumo. Dengan begitu Mas Agus bisa melakukan wawancara investigatif tanpa harus membuat Mbah Sumo curiga.

Tapi, bagaimana caranya? Pikir punya pikir, ketemu. Kebetulan saya kenal baik dengan kapolwil waktu itu, Kolonel Abdul Syukur. Maka saya antar Mas Agus menemui beliau. Setelah menceritakan semuanya, alhamdulillah, Pak Kapolwil mau membantu. Mas Agus akan ‘diselundupkan’ sebagai tahanan ke lapas.

Lalu, sesuai skenario, Mas Agus pun ditempatkan satu sel dengan Mbah Sumo. Kalau tidak salah 3-5 hari Mas Agus berada di dalam penjara. Seluruh waktu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendekati Mbah Sumo. Dan, mengorek semua keterangan yang dibutuhkan darinya. Juga dari para napi dan tahanan lain tentang keseharian Mbah Sumo.

Dari situlah Mas Agus mendapat cerita dari para penghuni lain bahwa Mbah Sumo memang sosok yang kuat. Punya tenaga melebihi orang pada umumnya. Buktinya, saat lomba tarik tambang Agustusan di lapas, Mbah Sumo menang melawan beberapa orang sekaligus. Sedangkan dia sendirian. Sambil duduk pula. Sementara lawannya berdiri.

Tapi, saat coba dikorek, Mbah Sumo tetap menutup diri. Seperti di pengadilan, ia membantah mengajarkan ilmu itu. Ia pun tidak pernah menyuruh orang memperkosa gadis-gadis cilik yang belum datang bulan agar bisa menguasai ilmu tersebut. Mbah Sumo mengaku sudah melunturkan ilmunya. Caranya, seperti dikatakan kepada Mas Agus, dengan melafalkan mantra-mantranya di dalam kakus.

Walau demikian, keterangan Mbah Sumo itu justru membuat Mas Agus yakin bahwa ilmu yang disebutnya sebagai tantris masih ada di masyarakat. Dan, ada orang yang mempraktikkannya. Walaupun, ada pula yang menyimpangkan.

Inilah yang kemudian menjadi dasar tulisannya. Mas Agus pun menggunakan julukan yang sudah diberikan masyarakat saat itu untuk menyebut Mbah Sumo. Yaitu, Sumo Bawuk. Tulisan tersebut diterbitkan oleh tabloid yang masih menjadi satu grup dengan Jawa Pos. (dituturkan oleh abu muslich/hid/bersambung)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news