Minggu, 16 May 2021
radarkediri
icon-featured
Features
Megengan pun Masih Bertahan hingga Kini

Kampung Kauman, Cerita dan Tradisi yang Bertahan hingga Sekarang (10)

04 Mei 2021, 12: 43: 26 WIB | editor : Adi Nugroho

MONUMENTAL: Masjid Darussalam, tempat ibadah utama warga Kampung Kauman di Kelurahan Bandarkidul.

MONUMENTAL: Masjid Darussalam, tempat ibadah utama warga Kampung Kauman di Kelurahan Bandarkidul. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Di Kampung Kauman Bandarkidul, beberapa tradisi tetap bertahan. Termasuk tradisi menjelang Ramadan, megengan.

Metode dakwah yang dilakukan Zaenal Karim ketika datang di Kediri bercirikan kelembutan. Tanpa ada cerita perang atau kekerasan. Cara dakwah lembut itu bisa ditelusuri di Kampung Kauman Bandarkidul saat ini. Yaitu masih bertahannya beberapa tradisi.

“Di sini masih ada megengan yang dilaksanakan sebelum puasa Ramadan,” kata Panji Subagiyo.

Bapak empat anak ini mengatakan, megengan itu sebagai tanda lembutnya metode dakwah Islam yang dilakukan Kiai Zaenal Karim. Membuat Islam bisa berdampingan dengan kegiatan warga yang lebih dulu tinggal di kampung ini.  Konon, saat berdakwah, para anggota pasukan Diponegoro ini memberikan sebidang tanah khusus untuk mereka yang masuk Islam.

Panji mengatakan, nama asli Syech Zaenal Karim adalah Suro Dimejo Ontowiryo. Nama Jawa itu harus diubah sesuai permintaan Diponegoro yang saat itu diasingkan ke Sulawesi. Perubahan nama itu membuat Zaenal bisa lebih mudah berdakwah. Hingga berhasil mendirikan Masjid Darussalam di Kauman.

Dosen Psikologi Sosial IAIN Kediri Sunarno membenarkan bahwa megengan merupakan tradisi Jawa yang sudah berakulturasi dengan Islam. Tradisi ini sudah menyebar hampir di semua tempat, khususnya di Jawa Timur.

“Makna megeng kan ngempet. Ngempet itu menahan. Jadi mengingatkan masyarakat untuk menahan makan dan tidak minum,” paparnya. Karena itu, dilaksanakan menjelang Ramadan. Biasanya disertakan dengan berbagi makanan.

Menurut Sunarno, saat masih menggunakan tradisi Jawa, megengan biasanya dilakukan warga di rumah masing-masing. Doa dipanjatkan menggunakan bahasa Jawa. Penyebutan Tuhan dengan nama Gusti atau Pangeran. Setiap rumah biasanya sudah menyediakan nasi ingkung disertai dengan buah, terutama pisang.

Dulu warga akan berkeliling dari rumah ke rumah. Belakangan tradisi megengan itu mulai mengalami perubahan. Jika sebelum megengan itu digelar di rumah masing-masing warga, kini pelaksanaannya dilakukan bersama-sama di musala atau pun masjid. “Intinya kegiatan dijadikan dalam satu tempat,” ucapnya.

Bukan saja polanya yang berubah, bacaan doa yang dipanjatkan juga sudah diganti dengan bahasa Arab. Termasuk dengan bacaan tahlil. Karena itu tidak saling bertentangan maka akulturasi Jawa dan Islam ini masih ada sampai sekarang.

Bagi Sunarno, megengan ini sebagai wujud perayaan penyambutan Ramadan. Dilaksanakan lewat berkumpul dan makan bersama. Makan bersama berarti persembahan rasa syukur atas keberlimpahan pangan. Karena itu perlu dibagi kepada orang-orang di sekitar.(rq/fud/bersambung)

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news