Senin, 17 May 2021
radarkediri
icon-featured
Features
Melongok Nasib Perguruan Taman Siswa

Ada Penyeragaman, Keunikan Terkikis

04 Mei 2021, 12: 32: 06 WIB | editor : Adi Nugroho

MENJADI PELOPOR: Kondisi sarana fisik yang berada di sekolah Taman Siswa Kota Kediri. Fasilitas belajar di sekolah ini sudah memadai.

MENJADI PELOPOR: Kondisi sarana fisik yang berada di sekolah Taman Siswa Kota Kediri. Fasilitas belajar di sekolah ini sudah memadai. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Sekolah Taman Siswa (Tamsis) di Kota Kediri tidak tinggal diam ketika jumlah siswanya menyusut. Setelah menutup Taman Muda (SD) pada 1980-an, lalu disusul Taman Madya (SMA) pada 2004, sekolah yang didirikan Soewardi Soerjoningrat ini harus bertahan dengan beragam cara.

Ketua Yayasan Taman Siswa Supomo pernah melakukan terobosan baru untuk menarik minat siswa bersekolah di tempatnya. Pada 2019, sekolah menyiapkan satu kendaraan motor matic dan dua sepeda gunung sebagai hadiah bila mendaftar siswa baru.

“Cara itu terpaksa kami lakukan, hasilnya tetap tidak bisa maksimal. Hanya 40 yang daftar,” ucapnya.

Motor dan dua sepeda itu diundi setelah siswa mengikuti orientasi studi dan pengenalan sekolah. Karena jumlah pendaftar sedikit, program hadiah motor akhirnya ditiadakan. Hasil evaluasi Supomo, siswa baru lebih memilih gedung bagus dan akan meninggalkan sekolah yang sarana fisiknya tidak bagus.

“Padahal, di sekolah ini fasilitas belajar sudah memadai. Bahkan kerap dijuluki Mbahe Otomotif,” ujarnya. Julukan itu diberikan karena sekolah yang pertama membuka jurusan otomotif di Kediri adalah Tamsis. Saat sekolah swasta dan nasionalis lainnya mengekor, lagi-lagi Tamsis kalah bersaing.

Agar tidak ditutup, Tamsis Kediri lalu mempelopori jurusan komputer. Saat itu, ada penambahan jumlah pendaftar. Sayangnya, Tamsis tetap tidak bisa mempertahankannya ketika sekolah lain ikut membuka jurusan sama. Tamsis kalah bersaing karena sarana fisik di bawah rata-rata sekolah swasta lainnya.

Sementara itu, peneliti di Pusat Studi Budaya dan Laman Batas Universitas Brawijaya FX Domini BB Hera punya cara pandang berbeda terkait faktor meredupnya Taman Siswa. “Produk Taman Siswa di Kediri ada Irna H.N Hadi Soewito. Dia penulis buku Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara, Red) dalam pengasingan,” kata pria yang akrab disapa Sisco ini.

Irna menceritakan banyak hal tentang sekolah Taman Siswa Kediri, khususnya tingkat Taman Dewasa. Dia diterima di Tamsis setelah keluar dari SMP Negeri Kediri. Saat itu, ia kena marah kepala sekolahnya gara-gara ikut menari di Madiun. Di Tamsis, Irna mendapat cara pandang berbeda tentang sekolah dan kehidupan. Nasionalisnya terangkat sehingga punya karakter.

Menurut Sisco, Tamsis itu sekolah yang menyenangkan. Karena itu Irna merasa cocok. Bahkan, Ki Hajar lekat dengan sari suoro yang lekat dengan kesenian. Karena punya karakter kuat, sekolah ini dulu banyak digemari. Faktor yang membuat sekolahnya sekarang tidak lagi diminati karena karakter dan keunikan sekolah ini sudah terkikis.

Setelah wafatnya Ki Hajar Dewantara, sekolah lambat-laun mengalami pergeseran. Terutama adanya kebijakan penyeragaman dari pemerintah. Tamsis tidak lagi berjalan seperti awal pendiriannya. Sekarang semua seragam, jika tidak diikuti tidak bisa dapat bantuan. Padahal, Ki Hajar membangun Tamsis dengan kemandirian tanpa bantuan.

Selain keunikan yang pudar, masalah lain adalah peristiwa 1965. Peristiwa itu menyebabkan sekolah-sekolah Tamsis dipaksa tutup. Imbasnya peristiwa berdarah itu terjadi hampir di semua tempat di Indonesia. Memudarnya keberagaman di Tamsis itulah yang mengakibatkan sekolah ini menjadi seragam dengan lembaga pendidikan lainnya. Masalah ini ikut menjadi penentu, siswa lebih memilih sekolah lain daripada masuk Tamsis.(rq/ndr)  

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news