Minggu, 16 May 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Mbah Pani, Nenek yang Tinggal di Rumah Tidak Layak

Tak Pernah Bisa Tidur dengan Tenang

03 Mei 2021, 14: 24: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

Rumah

BERATAP LANGIT: Mbah Pani berdiri di rumahnya di Desa Dadapan, Ngronggot yang ambruk karena lapuk dimakan usia. Keterbatasan ekonomi membuatnya kesulitan untuk memperbaiki tempat tinggalnya itu. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Kondisi rumah Mbah Pani di Desa Dadapan, Ngronggot sangat memprihatinkan. Atap rumahnya baru saja ambruk lantaran dimakan usia. Keterbatasan ekonomi membuatnya tidak bisa memperbaiki kerusakan yang terjadi sejak seminggu lalu itu.

ANDHIKA ATTAR. NGRONGGOT, JP Radar Nganjuk.

Mbah Pani sedang duduk di kursi bambu panjang di teras rumahnya, di Desa Dadapan, Ngronggot kemarin sore. Sedikit membungkuk, mata lansia itu terlihat sayu. Pandangannya kosong. Keriput yang ada di wajahnya membuat air mukanya semakin sendu.

Baca juga: Seretnya Pencairan BLT Dana Desa di Kabupaten Nganjuk

Mbah Pani termasuk kelompok warga yang masuk dalam program keluarga harapan (PKH). Rumahnya pun seperti kebanyakan rumah warga Kota Angin di pedesaan. Sederhana. Bahkan bisa dikatakan jauh dari kata layak. Belum lagi jika melihat ke dalam rumah.

Ruang tamu rumahnya terang benderang. Bukan karena lampu yang dipasang sangat terang. Melainkan lantaran separo atap ruang tamunya menganga. Atap rumahnya seminggu lalu ambrol. Rusak dimakan usia.

“Sudah puluhan tahun rumah ini. Sejak pertama dibangun sampai sekarang tidak pernah direnovasi,” ujar nenek berambut putih tersebut saat didatangi oleh Jawa Pos Radar Nganjuk.

Menurut keterangannya, atap tersebut ambruk sekitar seminggu yang lalu. Kejadiannya berlangsung sekitar pukul 07.00. Beruntung saat material genteng dan kayu jatuh, tidak ada orang di bawahnya. Dia dan anggota keluarga lain sedang berada di ruangan terpisah.

Hanya ada sebuah meja dan kursi kayu yang tertimpa reruntuhan tersebut. Tidak ada perabotan rumah tangga maupun barang elektronik lainnya yang rusak. “Hanya ada meja dan kursi saja karena adanya juga hanya itu,” imbuh Mbah Pani.

Atap ruang tamu ambrol begitu saja. Tidak ada angin, hujan, maupun gempa bumi pada saat kejadian. Murni karena kondisinya yang lapuk dimakan usia.

Sejatinya, beberapa bulan sebelumnya Mbah Pani sudah khawatir dengan kondisi atapnya yang melengkung. Hampir di seluruh ruangan yang ada di rumah tersebut. Oleh karena itu, ia pun berinisiatif untuk memasang plafon dari triplek agar tidak kejatuhan genteng apabila ambrol.

Plafon sederhana itu dipasang di kamar yang ditempati bersama sang anak dan cucunya. Namun, untuk ruang tamu sengaja tidak dipasangi plafon serupa. Hal itu lantaran ruangan tersebut tidak digunakan untuk istirahat. Sehingga, relatif aman jika ada kerusakan. “Pas ambrol kebetulan semua sudah keluar rumah untuk kerja. Saya juga pas di depan rumah,” tuturnya.

Meski ada anggota keluarganya yang bekerja, mereka tetap tidak mempunyai cukup uang untuk memperbaiki rumahnya. Sebab, pendapatan anaknya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja.

Oleh karena itu, seminggu pascakerusakan rumahnya, mereka juga belum bisa berbuat banyak. Hanya membersihkan sisa-sisa puing bangunan yang ambrol.

Hingga kemarin masih ada beberapa rangka bambu dengan kondisi yang rawan dan masih belum diturunkan. “Saya sudah minta anak saya melapor ke pemerintah,” tuturnya sembari menyebut sudah melapor ke desa dan kecamatan. Tetapi, hingga kemarin belum ada kelanjutannya.

Mereka masih diminta melengkapi dokumen lebih dulu. “Belum ada kepastian kapan diperbaiki,” sambung Suyono, 60, anak kedua Mbah Pani.

Yono, begitu ia akrab disapa, mengaku sangat prihatin dengan kondisi yang menimpa ibunya tersebut. Namun, ia pun tidak bisa berbuat banyak. Sebab, lansia itu juga tidak memiliki cukup uang untuk membantu. “Harapan kami agar kondisi ini segera ditindaklanjuti. Kasihan ibu saya jika terus dibiarkan seperti ini,” harap Yono.

Sejak atap rumahnya rusak seminggu lalu, Mbah Pani memang selalu gelisah. Dia tidak bisa tidur dengan nyenyak di malam hari. Terutama jika angin di lingkungannya berembus cukup kencang. Belum lagi jika tiba-tiba hujan mengguyur daerah mereka.

Jika kondisi demikian terjadi, Mbah Pani memilih terjaga. “Takut kalau terjadi apa-apa. Wong material yang ada ini juga umurnya sudah tua semua,” beber Mbah Pani.

(rk/tar/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news