Selasa, 18 May 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Ekspedisi Bentang Kendeng Timur

Menelusuri Jejak Zaman Purba di Nganjuk (21)

Fosil Tengkorak Kerbau Purba Paling Berkesan

03 Mei 2021, 12: 08: 44 WIB | editor : Adi Nugroho

Fosil

LANGKA: Petugas museum Anjuk Ladang menunjukkan fosil tengkorak kerbau purba yang jadi koleksi di sana. Temuan ini tergolong istimewa karena fosil masih dalam kondisi relatif utuh. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Banyak fosil hewan purba yang ditemukan di Nganjuk dan disimpan di museum Anjuk Ladang. Meski demikian, fosil tengkorak kepala kerbau dianggap istimewa karena bentuknya relatif utuh dan merupakan temuan fosil pertama.

Fragmen fosil bovidae banyak ditemukan di kawasan hutan Rejoso. Mulai dari Desa Bendoasri, Tritik, hingga Sambikerep. Salah satu yang paling sering ditemukan adalah fragmen bovidae jenis banteng dan kerbau purba. Hanya saja, ukuran dan bentuknya tidak selalu dalam kondisi yang relatif utuh.

Tidak seperti temuan kerangka tengkorak kerbau purba yang ditemukan di Desa Sambikerep ini. Temuan ini berkesan karena merupakan temuan pertama dalam bentuk yang relatif utuh. Fosil ditemukan langsung oleh Kasi Sejarah, Museum dan Kepurbakalaan Disparporabud Kabupaten Nganjuk Amin Fuadi, 2017 silam.

Baca juga: Siapkan Ribuan Rapid Test untuk Pemeriksaan Acak

Kala itu, Amin menemukan fosil tersebut secara tidak sengaja. Sejatinya tim disparporabud berada di sana untuk melakukan verifikasi temuan fosil gading stegodon atau gajah purba. “Jaraknya pun dekat dengan lokasi temuan fosil gading gajah purba. Hanya sekitar 50 meter,” ujar Amin kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

Adalah kecurigaan Amin terhadap benda menonjol di sana yang membuatnya menemukan fosil tersebut. Dia lantas mengeruk benda yang sepintas terlihat menonjol itu. Rupanya, setelah tergali secara utuh diketahui jika benda tersebut adalah fosil kerbau purba.

Ayah tiga anak tersebut menjelaskan, bentuk yang ditemukan sama persis dengan yang dikoleksi sekarang ini. Fosil bisa diambil secara utuh karena dia memahami ilmu dan cara untuk melakukan pengangkatan fosil. “Karena bentuknya yang masih utuh itu jadi untuk mengidentifikasinya lebih mudah,” sambung Amin.

Lebih jauh Amin menuturkan, fosil telah diteliti oleh tim ahli dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran. Hasilnya, fosil ini diidentifikasi memiliki umur mencapai 500 ribu hingga 800 ribu tahun yang lalu.

(rk/tar/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news