Rabu, 16 Jun 2021
radarkediri
icon-featured
Features
Gubuk Kecil Itu Jadi Musala, lalu Jadi Masjid

Kampung Kauman, Cerita dan Tradisi yang Bertahan hingga Sekarang (9)

30 April 2021, 14: 02: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

LELUHUR: Panji Subagiyo berada di makam Syech Zaenal Karim pendiri Kampung Kauman Bandarkidul.

LELUHUR: Panji Subagiyo berada di makam Syech Zaenal Karim pendiri Kampung Kauman Bandarkidul. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Kampung Kauman tak hanya di Kelurahan Kampungdalem. Di Bandarkidul juga ada. Dulu jadi lokasi persembunyian pasukan Diponegoro.

Kampung Kauman di Bandarkidul jauh dari alun-alun, pendapa, ataupun pasar. Namun, ada satu ciri khas yang menandakan itu sebagai kampung para kaum. Yaitu masjid besar di tengah-tengah perkampungan.

Masjid itu bernama Darussalam. Di bagian belakangnya ada makam Syech Zaenal Karim. Tokoh yang diyakini sebagai orang pertama yang membuka kawasan itu. Menjadi tempat bermukim orang-orang Islam.

Kiai Abdul Qudus merupakan generasi keempat Syech Zaenal Karim. Dia tinggal di sekitar masjid. Dari Kiai Qudus ini cerita tentang Kampung Kauman Bandarkidul yang dulu jadi tempat pelarian pasukan Diponegoro muncul.

“Sebelum dihuni Syech Zainal Karim di sini sudah ada cikal bakal sebuah gubuk yang sekarang jadi lokasi masjid. Untuk lengkapnya bisa ditanya ke Mas Panji Subagiyo, ya?” ucapnya.

Konon, gubuk itu sempat dijadikan musala kecil. Kemudian berkembang menjadi masjid yang kini bernama Darussalam.

Panji Subagiyo yang disebut Kiai Qudus bernama lengkap Panji Subagiyo Al Karim. Dia adalah generasi kelima Syech Zainal Karim. “Kalau orang Jawa menyebutnya canggah,” ucap lelaki berperawakan tinggi besar ini. Lelaki 41 tahun ini menerima cerita langsung dari nenek dan orang tuanya. Bahkan dia menyempatkan bertandang ke Jogjakarta untuk mendapat cerita sejarah hadirnya Kauman di Kelurahan Bandarkidul.

Dia menemukan banyak versi tentang Kauman. Karena itu dia mengambil cerita yang paling logis untuk menceritakan lahirnya kampung Kauman. Pria yang kerap disapa Panji ini memberi alasan lahirnya nama Kauman tidak dibarengi dengan tanda-tanda seperti alun-alun, pendapa, ataupun pasar.

“Memang tidak ada alun-alun di sini, termasuk pasar. Yang ada ya masjid,” ujarnya.

Nama Kauman berawal dari kedatangan pasukan Diponegoro yang lari setelah perang Jawa 1825. Pengeran Diponegoro meminta pasukannya menyebar ke semua wilayah Jawa mulai di Utara, Timur, Barat. Syech Zaenal mendapat bagian ke timur.

Nah, ketika tiba di Kediri, lokasi yang dipilih berada di Bandar-sebutan untuk Bandarkidul dan Bandarlor-dan banyak dihuni orang Hindu. Dari sinilah istilah kaum atau kelompok orang beriman itu muncul. Syech Zaenal membawa santri yang setia yakni Madanom, Srianom, Sarianom, Siranom, Nuranom, dan Becikanom untuk ikut menyebarkan agama Islam.

“Menggunakan pendekatan yang lembut, Syech Zaenal bisa membesarkan Islam di Bandar yang dibantu santrinya,” ucapnya. Peristiwa itulah yang kemudian melahirkan nama Kauman di Kelurahan Bandarkidul.(rq/fud/bersambung)

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news