Selasa, 18 May 2021
radarkediri
icon-featured
Features

Mengenang Agus Sunyoto, sang Budayawan Nusantara (3)

Perut Kader Membesar karena Langgar Pantangan

30 April 2021, 13: 54: 39 WIB | editor : Adi Nugroho

Mengenang Agus Sunyoto, sang Budayawan Nusantara (3)

Share this          

Bukan tanpa sebab Agus Sunyoto berwasiat untuk dimakamkan di Kediri. Di sinilah almarhum membangun basis ‘perjuangan’-nya. Berikut lanjutan penuturan Abu Muslich, mantan wartawan Jawa Pos.

Tahun 1994. Saya dipindahtugaskan Jawa Pos. Dari Malang ke Kediri. Meski demikian, bukan berarti hubungan saya dengan Mas Agus yang sehari-hari tinggal di Wendit itu terputus. Sebaliknya, justru semakin erat.

Pertama, karena pada 1993 kami sempat beribadah haji bareng. Bahkan, kami tinggal sekamar selama di Tanah Suci. Dan, selama itulah saya mendapatkan pengajaran langsung dari Mas Agus.

Makanya almarhum sejak itu saya anggap sebagai guru spiritual saya. Saya pun dikenalkan kepada guru spiritual Mas Agus di Peneleh, Surabaya. Yaitu, Kiai Ghufron (KH Agus Ghufron Arief, Red). Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haq. Seminggu sekali, setiap malam Jumat, saya bertemu Mas Agus di sana untuk ngaji.

Kedua, pada 1995 saya terpilih sebagai ketua Pengurus Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Kediri. Sebagai ketua, saya tentu ingin meningkatkan kualitas kader-kader pemuda Nahdlatul Ulama (NU) itu. Caranya, lewat serangkaian perkaderan. Formal maupun informal. Dan, yang terlintas di benak saya untuk mengkader teman-teman Ansor itu ya Mas Agus.

Makanya sejak itu Mas Agus sering saya ajak ke Kediri untuk membina teman-teman Ansor. Kami bahkan menggelar diskusi rutin seminggu sekali. Tempatnya di kantor biro Jawa Pos yang masih berada di bangunan ruko di Jl Brawijaya 27-D. Kebetulan saya kepala bironya.

Oleh Mas Agus, kader-kader Ansor itu dibuka wawasannya. Seluas-luasnya. Mereka dikenalkan ideologi-ideologi dunia, peta geopolitik internasional, serta posisi Indonesia di tengah percaturan global. Juga bagaimana NU sebagai bagian dari bangsa ini seharusnya bersikap.

Pada suatu kesempatan, Mas Agus pernah pula mengajak Pak Said (KH Said Aqil Siradj, ketua umum PB NU, Red) untuk memberi materi bareng di Ngadiluwih. Mas Agus mengenal Pak Said karena sama-sama santri Pondok PETA (Pesulukan Thoriqoh Agung) Tulungagung.

Diskusi-diskusi itu intensif dilakukan hingga 1998. Materi-materi yang disampaikan tersebut kelak menjadi materi pendidikan kader penggerak (PKP) NU di mana Mas Agus masuk sebagai salah satu penyusunnya bersama almarhum Gus Im (Hasyim Wahid, Red). Mas Agus memang punya hubungan yang erat dengan adik kandung Gus Dur itu.

Selain memberi penyadaran dan penguatan intelektual, Mas Agus juga memberikan bekal rohani untuk teman-teman Ansor. Apalagi menjelang dan awal-awal reformasi 1998. Kita tahu, waktu itu masyarakat dicekam ketakutan oleh isu ninja. Kiai-kiai memberikan gemblengan untuk para santri sebagai bekal untuk menghadapi.

Ansor tidak mau ketinggalan. Mas Agus yang memang punya ilmu kejadugan itu ikut menggembleng pemuda-pemuda Ansor di Kediri. Rasanya, generasi Ansor tahun-tahun itu tidak ada yang tidak kenal Mas Agus karenanya.

Sampai-sampai ada cerita lucu. Gemblengan ini kan memberikan bekal rohani. Mereka yang sudah mengikuti gemblengan, dilarang melakukan perbuatan maksiat. Jika melanggar, ‘kesaktian’-nya hilang. Bahkan, bisa berakibat fatal pada yang bersangkutan.

Nah, suatu malam, tiba-tiba saya ditelepon kader. Dia mengabarkan bahwa salah satu anggota di wilayah utara Kediri yang ikut gemblengan sakit, sudah beberapa hari. Perutnya membesar. Usut punya usut, ternyata dia sebelumnya baru saja ngeloni penyanyi usai tampil di Jombang. Memang, pekerjaannya MC.

Jam 12, malam itu juga, saya langsung telepon Mas Agus. Oleh Mas Agus lantas diberi doa dan sejumlah amalan yang harus dilakukan. Alhamdulillah, setelah itu sembuh. Yang bersangkutan berjanji tidak akan mbaleni lagi.

Ada juga di Kediri selatan. Anggota yang baru ikut gemblengan suatu ketika check in dengan pacarnya. Tapi, baru saja masuk kamar, anggota yang sehari-hari bakulan di pasar itu mendengar dehem-dehem yang sangat mirip suara Mas Agus. Seketika dia cabut dari hotel itu dan tidak meneruskan niatnya.

Setelah reformasi, Mas Agus tetap intensif membina kader-kader Ansor di Kediri. Apalagi, saya kembali terpilih sebagai ketua untuk periode 2000-2005. Pembinaan kader-kader Ansor oleh Mas Agus pun berlanjut.

Materi yang diberikan meningkat. Mulai menyentuh pemberdayaan ekonomi. Untuk itu kami sempat membuat Yayasan Lembaga Pemberdayaan Ansorullah pada 17 Maret 1999. Ketuanya Mas Agus, penasihatnya Gus Im. Kami juga mendirikan radio komunitas untuk berdakwah. Teman-teman Ansor didorong untuk berkarya di bidang masing-masing. Untuk memperkuat bekal batin, bersama saya, beberapa kader Ansor mulai dikenalkan kepada Kiai Ghufron di Peneleh, Surabaya. Untuk ngaji bareng.

Semua itu terus berlanjut hingga akhir hayat Mas Agus. Karena itulah, kader-kader Ansor sangat takzim kepada Mas Agus. Bukan hanya saya, teman-teman juga menganggap Mas Agus sebagai guru spiritual mereka. Kami semua murid-muridnya. Santri-santrinya. Yang selalu merindukannya.

Karena itu, ketika ada wasiat bahwa almarhum ingin dimakamkan di Kediri agar bisa dekat dengan para santrinya, kami semua langsung nyengkuyung bersama dengan penuh bahagia. (bersambung/hid)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news