Minggu, 16 May 2021
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal
Sidang Lanjutan Korupsi Jembatan Brawijaya

Bersaksi, Mantan Dewan Banyak Lupa

30 April 2021, 13: 43: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

Jembatan Brawijaya dengan latar belakang Gunung Klotok

Jembatan Brawijaya dengan latar belakang Gunung Klotok (M. ARif Hanafi - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri - Sidang perkara korupsi Jembatan Brawijaya yang menggeret mantan Wali Kota Kediri Samsul Ashar kembali digelar kemarin (22/4). Agendanya keterangan delapan saksi yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum (JPU).

Lima di antara saksi itu adalah anggota dewan periode 2009-2014. Mereka adalah Nuruddin Hasan, Yudi Ayubchan, Muhaimin, Sunarko, dan Sujok Adi Purwanto. Nama yang terakhir masih menjabat hingga sekarang. Sedangkan tiga saksi lain bukan merupakan anggota dewan.

Terkait keterangan saksi-saksi, terutama yang merupakan anggota dewan saat itu, penasihat hukum terdakwa Samsul Ashar, Eko Budiono, merasa aneh. Sebab, mereka rata-rata tidak mengetahui nilai anggaran proyek pembangunan jembatan.

Baca juga: Berharap Pasar Luar Daerah

“Ada yang lupa, ada juga yang tidak tahu jumlah anggarannya karena mengaku ikut setuju saja,” ujar Eko.

Padahal, menurutnya keterangan dari wakil rakyat itu penting. Karena kasus ini berakar dari dari mosi tidak percaya dewan.

Keterangan-keterangan saksi ini menjadi janggal apalagi sampai tidak mengetahui jumlah anggarannya. Setidaknya, kasus yang sudah bergulir sejak lama dan banyak pelaku yang sudah divonis a tidak begitu saja dilupakan. Setidaknya saksi bisa mengingat kisaran jumlah agar poin yang jadi perkara bisa terang dan tuntas.

“Tadi saat sidang majelis hakim juga sempat berulang-ulang bertanya ke saksi karena mereka hanya menjawab lupa dan tidak tahu,” ujar Eko.

Sementara itu, Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Kota Kediri Nur Ngali menyebutkan sidang tidak digelar secara online. Delapan orang saksi semua dihadirkan di persidangan.

Ditanya soal banyak saksi yang menjawab tidak tahu terkait dengan anggaran proyek dan kebanyakan lupa, Nurngali mengaku bukan menjadi ranahnya untuk menjelaskan. “Semua keterangan saksi ini sudah menjadi fakta persidangan,” kilahnya.

Untuk diketahui proyek Jembatan Brawijaya ini menelan angaran sebesar Rp 66,4 miliar. Bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kotya Kediri. Kerugian akibat korupsi ini mencapai Rp 14 miliar.

Kasus ini juga sudah menyeret beberapa orang dan menghukum sedikitnya enam orang yang dinyatakan ikut serta melakukan tindak pidana korupsi.(rq/fud)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news