Selasa, 18 May 2021
radarkediri
icon-featured
Features
Siboen Pilih Kauman karena Adem dan Tenang

Kampung Kauman, Cerita dan Tradisi yang Bertahan hingga Sekarang (8)

29 April 2021, 13: 18: 08 WIB | editor : Adi Nugroho

BAKAR SATE: Slamet Puji Suhartono (Pak Tono Siboen) berada di warung sate Siboen miliknya. Dia adalah generasi ketiga Siboen.

BAKAR SATE: Slamet Puji Suhartono (Pak Tono Siboen) berada di warung sate Siboen miliknya. Dia adalah generasi ketiga Siboen. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Satu lagi legenda makanan Kediri yang muncul dari Kampung Kauman. Makanan itu adalah sate ayam Siboen. Pembuatnya, pendatang asal Ponorogo.

====================================

Nama sate ayam Siboen sudah melegenda sebagai makanan khas Kota Kediri. Sosok yang mengawali usaha itu adalah Siboen. Orang Ponorogo yang memilih menetap di Kampung Kauman setelah berkeliling di berbagai daerah wilayah selatan Jawa Timur. Kini, usaha sate ayam Siboen yang dia rintis tetap dilanjutkan oleh keturunannya. Bahkan menyebar juga di beberapa kota lain.

Di Kampung Kauman, Sate Ayam Ponorogo Pak Siboen ada di tepi jalan Panglima Sudirman. Ada dua, mengapit Gang III Kampung Kauman. Keduanya  memang masih keturunan Siboen.

Salah satu warung itu adalah milik Slamet Muji Suhartono. Dia adalah generasi ketiga Siboen alias cucu sang pendiri. Warungnya berada di selatan Gang 3. Masuk wilayah RT 03 / RW 02 Kelurahan Kampungdalem.

“Sebenarnya sudah generasi keempat. (Tapi) anak-anak saya belum ada yang meneruskan,” jelas pria 58 tahun itu.

“Yang sebelah itu Mas Bayu. Itu keponakan saya, sudah generasi keempat Pak Siboen,” lanjutnya sembari menunjuk warung yang juga menggunakan nama Pak Siboen di sebelah utaranya.

Bapak empat anak yang kerap disapa Tono ini menceritakan asal mula kehadiran sate ayam Pak Siboen di Kauman. Sebelum masa kemerdekaan, sekitar 1935-1937, situasi di Ponorogo tidak kondusif. Untuk mencari ketenangan, Siboen membawa keluarganya pergi meninggalkan Ponorogo. Yang dituju adalah wilayah selatan Jawa Timur. Mulai dari Trenggalek, Tulungagung, dan Blitar. Selama di tiga  tempat itu ia tetap berjualan sate.

Setelah dari Blitar, Siboen sempat kembali lagi ke Tulungagung untuk mengembangkan lagi usaha satenya. “Kalau daerahnya sudah tidak aman, pindah lagi,” ujar lelaki yang rambutnya sudah memutih itu.

Usai dari Tulungagung, Siboen mencoba peruntungan di Kota Kediri. Ia memilih Kauman sebagai tempat tinggal. Menurut Tono, pertama kali datang ke Kauman suasananya sudah adem dan tenang. Waktu itu, sekitar 1951, Siboen dan anak-anaknya masih kos di dekat musala utama di Kauman.

Menurut Tono, sejak di Kediri, Siboen tidak lagi aktif menjalani aktivitas menjual sate. Tugasnya hanya mengawasi. Semua proses dikerjakan oleh anak-anaknya. Dari memotong, membuat tusukan, hingga menusuk sate.

“Kalau dibandingkan dengan sate Ponorogo, pasti di sana bumbunya kasar. Pak Siboen sudah mengubahnya jadi lebih halus,” ujar suami dari Indarti ini kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Waktu awal-awal berjualan di Kediri, orang tua Tono masih sering berkeliling di beberapa tempat. Seperti di depan tempat yang kini berdiri Ramayana Departemen Store dan di Pasar Setonobetek yang dulunya berada di Sumurbor. Setelah mendapat tempat dan penjualan laku, orang tuanya, yakni Kartosenin dan pakdenya yang bernama Miskan lalu mengajak warga Kauman ikut membantu.

“Warga di sini dulunya hanya diminta bantu untuk menusuk sate dan membuat tusukannya,” ujarnya.

Karena sudah lama, akhirnya warga di sekitar membuka sendiri usaha sate ayam khas Ponorogo. Setidaknya, sudah ada belasan warga di lingkungan Kauman yang membuka usaha sate dengan nama Ponorogo. Mereka biasanya berjualan saat malam hari.(rq/fud/bersambung)

(rk/rq/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news