Senin, 14 Jun 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Mengenang Agus Sunyoto, sang Budayawan Nusantara (2)

Jadi ‘Santri Setia’ karena Kabur dari Pondok

29 April 2021, 13: 04: 35 WIB | editor : Adi Nugroho

KH Agus Sunyoto

KH Agus Sunyoto

Share this          

Sejak 1995 sang budayawan ini telah didiagnosis terkena gagal ginjal. Hanya keikhlasannya yang membuat dia tak menjalani pengobatan medis.

Setelah kembali bersua ketika memimpin Jawa Pos Biro Malang, hubungan saya dengan Mas Agus Sunyoto kian dekat. Selain sebagai sahabat, saya menganggap Mas Agus adalah guru spiritual. Melihat kemampuan Mas Agus itu saya ingin belajar. Saya bertanya kepada Mas Agus di mana belajar ilmu rohani, ilmu tasawufnya.

Saat itu saya Mas Agus menjawab, dia belajar pada Kiai Ghufron Arif, di Pondok Panilih Surabaya. Saya kemudian ditanya,” belajar apa piye (ingin belajar)?”

Baca juga: Sesekali Hujan, Agustus Bisa Jadi Puncak Kemarau

Saya jawab,” iya Mas.”

Akhirnya saya diajak ke Surabaya. Ke pondok Kiai Ghufron. Di pondok ini santrinya luar biasa. Terutama di pengajian Ahad pagi.

Di pondok Kiai Ghufron ini ada dua macam santri. Santri luar dan santri dalam. Santri luar adalah yang mengikuti pengajian dan aktivitas secara umum dan terjadwal. Sedangkan santri dalam adalah santri yang benar-benar digembleng dengan ilmu-ilmu hikmah dan ilmu rohani. Jumlahnya tidak banyak. Hanya sekitar 30 orang.

Biasanya, mereka yang bisa masuk diterima menjadi santri dalam harus melalui ujian santri luar terlebih dulu. Rata-rata satu tahun. Mengikuti pengajian ahad pagi, mengikuti istighotsah sebulan sekali. Baru bila istiqomah, rutin mengikuti aktivitas pengajian di pondok, diizinkan bergabung menjadi santri dalam.

Dengan rekomendasi Mas Agus, saya mendapat perlakuan khusus. Saya bisa langsung diterima menjadi santri dalam. Waktu itu, setelah istighotsah, saya diajak bertemu ke Kiai Ghufron.

Setelah itu saya ngaji di tempat Kiai Ghufron. Di sini saya belajar debus, istighotsah, dan sebagainya. Yang menarik, saya diberi amalan yang bernama witir akbar. Kalau dibaca sendirian, mungkin 45 menit selesai. Tapi kalau dibaca berjamaah bisa dua jam. Namun tidak jenuh karena saat zikir ada nada-nadanya, ada lagunya.  

Suatu ketika Mas Agus di Malang sakit. Saya kemudian diajak ke rumah Mas Agus di daerah Wendit. Kala itu rumahnya masih kecil, masih tipe 36 atau 45. Mas Agus tinggal sendirian di rumah itu.

Kepada Mas Agus, Kiai Ghufron bertanya,” kamu sakit apa?” Mas Agus menjawab sakit ginjal dan oleh dokter disuruh cuci darah.

Setelah itu Kiai Ghufron memberi terapi tenaga dalam. Selain itu Kiai Ghufron juga berpesan agar Mas Agus tak usah cuci darah. Menurut Kiai, cuci darah hanya untuk mengulur waktu saja, tidak mengobati. Dan alhamdulillah, hingga kepundhut Yang Kuasa, Mas Agus tak pernah melakukan cuci darah. Walaupun sebenarnya sakit ginjalnya sangat parah.

Yang saya paling ingat, Kiai Ghufron menyebut Mas Agus itu adalah santri yang sangat setia. Saya yang penasaran kemudian bertanya kepada Mas Agus, mengapa sampai kiai menyebutnya santri yang sangat setia.

Mas Agus kemudian bercerita, suatu saat setelah dianggap cukup mendapat ilmunya, Kiai Ghufron mengantarnya ke gurunya di Demak. Di Desa Mutih. Gurunya itu bernama Mas Rahmatullah. Masih keturunan Jaka Tingkir. Jaka Tingkir namanya kan Raden Mas Karebet. Saat berguru itu Mas Agus diberi amalan yang harus diwiridkan.

Ternyata, dalam seminggu Mas Agus tidak kerasan. Penyebabnya di Desa Mutih, WC tidak ada. Karena wilayah pesisir, air juga sulit. Jadi, kalau buang air besar itu harus di sungai di tengah sawah. Padahal Mas Agus terbiasa hidup di kota. Karena itu dia memilih pulang.

Setelah pulang, Mas Agus kembali ke pondok Kiai Ghufron. Sejak kembali itu, selama satu tahun Mas Agus tak pernah ditegur sapa oleh kiai. Baru ketika hari raya, dan Mas Agus sowan, Kiai Ghufron mengajaknya bicara.

Yang juga menjadi kenangan saya adalah sifat Mas Agus saat remaja. Kala itu Mas Agus terkenal nakal. Tapi, ya itu, nakalnya seorang santri. Saya tahu dari cerita temannya di IKIP Surabaya. Mas Agus adalah mahasiswa jurusan seni rupa. Teman-temannya sering diajak atraksi debus. Tangannya digores pisau tajam, kemudian berdarah. Luka itu diusap dengan tangan langsung sembuh.

Mas Agus juga sering mengajak temannya nonton film. Kemudian sepur-sepuran  masuk ke gedung film tapi tidak bayar.

Ada satu kisah di mana Mas Agus sangat getun, sangat menyesal. Dia tak ingin mengulanginya lagi. Saat itu dia melihat atraksi jaranan, kuda lumping. Waktu pemainnya makan beling, Mas Agus membaca yang diberi oleh gurunya. Doa itu adalah doa peluntur kesaktian.

Nah, setelah Mas Agus membaca doa itu, kesaktian pemain jaranan itu luntur. Mulutnya berdarah karena makan pecahan kaca. Mas Agus pun berjanji tak pernah bermain-main dengan doa itu lagi. (dikisahkan oleh Abu Muslich, mantan wartawan Jawa Pos)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news