Selasa, 18 May 2021
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features
Tak Lihat Latar Belakang

Ponpes Nurul Islah Tempat Preman, Tunawisma, dan Mantan Pecandu

Terima Semua Santri yang Datang

29 April 2021, 12: 00: 22 WIB | editor : Adi Nugroho

Santri

SEMANGAT :Pengurus Ponpes Nurul Islah Moh. Ridhoi (kanan) menyimak Yaji (kiri) dan Mbah Damian (2 dari kiri) yang mengaji di musala Ponpes Nurul Islah bersama santri lain kemarin. (Iqbal Syahroni- radarkediri.id)

Share this          

Ponpes Nurul Islah tak sekadar mengajarkan ilmu agama. Pesantren di  Desa/Kecamatan Ngronggot itu tak ubahnya “rumah” bagi preman, tunawisma, hingga mantan pecandu. Tempat mereka pulang dan berserah memperbaiki diri.

IQBAL SYAHRONI, NGRONGGOT. JP Radar Nganjuk

Suara pujian terdengar keras dari pengeras suara musala di kompleks Ponpes Nurul Islah kemarin. Sembari menunggu jamaah datang untuk melaksanakan salat Duhur, santri memang melantunkan puji-pujian. Total ada dua pria yang berada di dalam musala.

Baca juga: Keripik Usus Cemilanku

Suara keduanya lantang tapi berirama. Mereka tetap semangat meski tengah menjalankan ibadah puasa. Adalah Yaji, salah satu santri yang tengah melantunkan pujian kemarin. “Saya sudah mondok di sini 20 tahun,” ujar Yaji.

Pria asal Desa Turus, Gampengrejo, Kabupaten Kediri itu memang tidak lagi muda. Masuk ke pesantren sejak usia 31 tahun, kini usianya mencapai 51 tahun. Dia mengenal Ponpes Nurul Islah setelah diajak almarhum Kiai Manan, sang pendiri pesantren. 

Sekali masuk ke lingkungan pesantren, Yaji seolah tak ingin pulang. Pria yang sebelumnya banyak mengecap dunia “hitam” itu mulai sadar saat dia ditinggal oleh istrinya. “Mulai nggak bisa bekerja karena ini (stroke, Red),” lanjutnya sembari menunjukkan tangan dan kakinya yang sakit.

Dia memang mengalami stroke pada separo tubuh bagian kirinya. Untuk sekadar berjalan pun harus terseok-seok. Tetapi, semangatnya untuk belajar ilmu agama dan mendekatkan diri kepada Alloh SWT justru membara.

Setiap hari, dia tak pernah absen salat berjamaah di musala. Demikian juga saat mengaji. Perubahan perilakunya itu pun diapresiasi oleh Moh Ridhoi, salah satu pengurus pesantren.

Menantu almarhum Kiai Manan itu yang saat ini meneruskan metode pembelajaran di pesantren. “Abah berpesan agar para santri ini tidak usah dikerasi. Harus sabar,” ujar Ridhoi tentang pendidikan di pesantren yang membuat para santri kerasan.

Selain Yaji, menurut Ridhoi puluhan santri di sana datang dari berbagai latar belakang. Mulai orang yang keluarganya bermasalah, penderita skizofrenia, cacat fisik, mantan penjahat, tunawisma, hingga pecandu narkoba.

Dengan latar belakang yang beragam itu, Ponpes Nurul Islah juga dijuluki pesantren gado-gado. “Semua kami tampung. Santri anak-anak hingga remaja juga ada,” lanjutnya.

Satu pertimbangan yang menentukan santri bisa diterima di sana. Yakni, niat mereka untuk mau belajar agama. Demikian juga niat mereka untuk mau berubah secara sungguh-sungguh.

Pria berbaju koko warna abu-abu ini menuturkan, awal berdiri pada tahun 2001 lalu, total ada empat orang yang mengaji kepada Kiai Manan. Dua di antaranya hingga saat ini masih berada di pesantren dan masih mengaji. Yakni Yaji, dan seorang tunanetra bernama Misiran.

Mengapa Ponpes Nurul Islah mau menerima santri dengan latar belakang yang beragam itu? Rupanya, hal tersebut merupakan bentuk amalan salah satu hadis. Yakni, orang yang bermanfaat adalah orang yang paling bermanfaat kepada sesama manusia.

“Makanya kami tidak pilih-pilih. Siapa saja yang ingin belajar agama, dan niat sungguh-sungguh, pasti diterima oleh abah (almarhum Kiai Manan, Red). Siapapun yang datang adalah tamu, hamba Allah. Jangan sampai ditolak, dan tidak dibantu,” kenang Ridhoi akan pesan almarhum mertuanya itu.

Hingga saat ini total ada 47 santri yang belajar di sana. Mereka beraktivitas bersama di pesantren. Mulai saat mengaji, makan, dan minum. Pengurus pondok yang memisahkan santri kategori orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Mereka difokuskan pada kegiatan yang bermanfaat untuk lingkungan. Mulai membersihkan pondok, memasak, hingga memberi makan ternak. Untuk menunaikan salat, mereka dianggap tidak memenuhi syarat. Sebab, salah satu syaratnya harus waras.

Ponpes Nurul Islah, diakui Ridho memang tak hanya fokus mengajarkan ilmu agama. Melainkan, ada juga yang mengikuti rehabilitasi karena kecanduan narkoba. “Tiga atau empat bulan di pesantren biasanya pulang setelah sembuh,” tuturnya sembari menyebut pesantren juga diwajibkan menerima santri dari keluarga tidak mampu.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news