Rabu, 16 Jun 2021
radarkediri
icon-featured
Features

Mengenang Agus Sunyoto, sang Budayawan Nusantara (1)

Bertemu Rohani dengan Ki Ageng Badar Wonosobo

28 April 2021, 17: 10: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

KH Agus Sunyoto

KH Agus Sunyoto

Share this          

Kisah hidup Agus Sunyoto semenarik novel-novel karyanya. Sebagian di antaranya terekam dalam kenangan Abu Muslich, mantan wartawan Jawa Pos. Berikut tulisan bersambungnya tentang sosok Agus Sunyoto.

Saya bertemu dengan Mas Agus (Sunyoto) pertama kali pada 1987. Bertemunya di Jawa Pos biro Jakarta. Kantornya di Kuningan Plaza, di (Kecamatan) Setiabudi. Ketika pertama kali bertemu, kesan saya, orangnya pendiam. Awalnya, saya interaksi biasa saja. Hanya interaksi sesama wartawan.

Saya mulai tertarik saat cerita bersambung (cerbung) Mas Agus dimuat di Jawa Pos setiap hari. Judulnya Ki Ageng Badar Wonosobo. Saya mengikuti terus. Kadang, saya juga menunggui waktu Mas Agus menulis.

Cerita novel Ki Ageng Badar Wonosobo itu (waktunya) kan pasca-kekalahan Arya Penangsang oleh Hadiwijaya. Ki Ageng Badar Wonosobo ini masih kerabat Arya Penangsang, masih keponakan. Dia kemudian menjadi pelarian.

Suatu saat saya tanya pada Mas Agus, Mas, referensi sampean tentang Ki Ageng Badar Wonosobo dari mana? Apa ada lontar atau babat. Jawaban yang diberikan di luar dugaan saya. Jawabannya, aku bertemu dengan Ki Ageng Badar Wonosobo.

Bagi orang yang biasa berpikir rasional, jawaban seperti itu tidak nyambung. Tidak masuk akal. Tapi bagi yang biasa terjun di dunia tasawuf, dunia mistik, hal itu adalah sesuatu yang bisa terjadi.

Dalam perkembangannya, akhirnya saya tahu bahwa Mas Agus melacak Ki Ageng Badar Wonosobo dari salah satu wirid yang diperoleh dari gurunya, Almaghfurlah Kiai Ghufron Arif. Ada salah satu nama asma’ kurung yang salah satu wasilahnya pada Ki Ageng Badar Wonosobo. Dari situlah Mas Agus melacak dan bertemu secara rohani. Kemudian beliau bisa menyusun novel Ki Ageng Badar Wonosobo sampai tamat waktu itu. Dan, saya waktu ke Bondowoso, pernah berziarah ke makamnya Ki Ageng Badar Wonosobo ini.

Kemudian, pada 1987 saya berpisah dengan Mas Agus. Saya pindah ke Surabaya, ke kantor pusat Jawa Pos. Dalam perkembangannya, Mas Agus mengundurkan diri dari Jawa Pos. Memilih menekuni sebagai penulis.

Dalam perjalanan waktu, saya bertemu lagi dengan Mas Agus. Waktu itu saya jadi kepala Jawa Pos biro Malang. Sedangkan Mas Agus pindah dan berdomisili di Malang. Beliau sering melakukan aktivitas dakwah di Malang Selatan.

Suatu ketika, anak pertama beliau yang bernama Fikar, saat itu masih kecil, tak sengaja meminum cairan obat antinyamuk. Biasa kan anak kecil sering meminum apa saja. Nah, setelah meminum cairan itu, matanya terus melotot.

Oleh Mas Agus, anaknya itu diupayakan agar bisa memuntahkan kembali cairan itu. Caranya dengan memasukkan tanganya ke mulut sang anak. Setelah muntah kemudian diminumi air kelapa hijau.

Meskipun bisa muntah, tubuh anak Mas Agus ini masih panas. Dalam kondisi anak seperti itu, Mas Agus tetap berangkat dakwah di Malang Selatan. Saat itu dia bilang, meskipun saya tunggui anak saya, belum tentu dia selamat. Kalau saya tinggal dakwah, belum tentu juga dia tak selamat.

Mas Agus pun mendoakan sang anak. Doanya sangat luar biasa. Bunyinya, la fata illah Ali, la syaif illa dzulfikar, la yamut la yamut la yamut illa bil ajal. Artinya, tidak ada pemuda selain Ali, tidak ada senjata pedang selain Zulfikar, tidak bisa mati, tidak bisa mati, tidak bisa mati kecuali sudah takdirnya. Akhirnya setelah ditinggal dakwah di Malang Selatan alhamdulillah panas tubuh Fikar mereda.

Waktu di Malang, selain berdakwah Mas Agus juga buka praktik nyuwuk. Tentu dengan dimodifikasi, yaitu bila ada indikasi infeksi maka diberikan obat antibiotik. Namun, tidak sampai seminggu buka praktik seperti itu Mas Agus ambruk (kelelahan). Sebab, pasiennya tak pernah sepi. Akhirnya dia berhenti (nyuwuk). (bersambung)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news