Selasa, 18 May 2021
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom

-- Kreatif --

26 April 2021, 12: 26: 25 WIB | editor : Adi Nugroho

Suko Susilo

Oleh : Suko Susilo (radar kediri)

Share this          

“Tindakan kreatif lahir dari perjuangan manusia melawan apa yang dirasakan membatasi”

Oleh : Suko Susilo

Ludwig van Beethoven (1770-1827) pernah bilang bahwa musik adalah perwujudan yang lebih tinggi dari segala keluhuran budi dan filsafat. Karena di situ tercurah segala imajinasi dan kedalaman perasaan yang menembus kepekaan hati melalui lengkingan bunyi.  

Baca juga: PT KAI Perketat Syarat Pemudik

Perkembangan segala imajinasi sebagaimana dikonsepkan Beethoven itu kini mendapatkan bukti nyata berupa bermunculannya genre baru dalam musik. Tanpa kreativitas mustahil berbagai genre itu muncul. Pikiran kreatif selalu bebas menjelajah. Bebas mengeksplorasi mencari kemana saja imajinasi dan pikiran itu mau merayap dan melayang-layang.

Imajinasi yang berkembang liar pun sering sampai menyentuh ide orisinil yang sama sekali tak terpikir sebelumnya. Apalagi saat kita berada pada era digital society seperti saat ini. Dikotomi masyarakat kota dan desa menjadi meleleh cair oleh hempasan kemajuan teknologi digital.

Orang desa dengan mudah menembus kehidupan bisnis orang kota dan sebaliknya. Ide kreatif bisa muncul dari mana saja bahkan tentang apa saja. Bahkan suatu saat saya membaca media sosial ada penawaran jasa penyediaan nama bayi bagi calon orang tua lengkap dengan tarifnya. Ide kreatif yang sama sekali tak terpikir mungkin pada lima tahun lalu. Diversifikasi jenis usaha menjadi berkembang demikian hebat karena difasilitasi oleh kreativitas.

Secara sederhana, kreatif dapat dipahami sebagai kemampuan yang dimiliki seseorang dalam menemukan sejumlah pendekatan atau terobosan baru yang orisinil. Dalam menghadapi situasi atau suatu masalah tertentu biasanya orang kreatif menemukan cara pemecahan baru dan unik serta berbeda dari cara biasa.

Pikiran kreatif membutuhkan berbagai batasan, karena tindakan kreatif lahir dari perjuangan manusia melawan apa yang dirasakan membatasi. Tanpa batasan pikiran kreatif tak akan muncul dan kegiatan cenderung direcoki kekacaubalauan. Modal memunculkan ide kreatif dengan demikian adalah batasan. Batasan itu bisa saja berupa tradisi, hukum, norma maupun nilai.

Nilai yang hidup di masyarakat kita antara lain adalah saat Ramadan tidaklah pantas membuka rumah makan atau warung makan di siang hari. Pengusaha kuliner muslim apalagi non-muslim dituntut mengekspresikan rasa hormat pada mereka yang menjalankan ibadah puasa.

Mengapa puasa membutuhkan rasa hormat? Bukankah semakin tinggi godaan berpuasa akan menambah kualitas puasa jika berhasil mengatasinya? Bagaimana juga bagi mereka yang berhalangan puasa dan atau  non-muslim jika kelaparan di perjalanan ?

Oleh sementara orang, terutama pengusaha kuliner, nilai ini mungkin dirasakan membatasi. Keberatan pada batasan nilai tersebut berkaitan dengan penghasilan banyak orang. Terutama sejumlah orang yang menggantungkan hidupnya dari upah sebagai karyawan rumah makan. Bukan itu saja mungkin juga pemilik rumah makan harus berpikir kaitannya dengan angsuran bank jika modal usahanya diperoleh dari fasilitas perbankan.

Saya menjadi ingat masa kecil. Saat bersama sejumlah teman berebut mengumpulkan buah-buahan jatuh di kebun tetangga untuk melengkapi buka puasa. Sawo, jambu, juwet, dan kedondong yang terkumpul menjadi penambah nikmat takjil setelah berbuka dan setelah Tarawih di masjid depan rumah.

Dalam kegiatan mengumpulkan buah itu tentu godaan muncul menari-nari di ubun-ubun membujuk untuk memakan saja buah itu. Tetapi saya selalu berhasil mengalahkan godaan yang membatalkan puasa itu. Semua menyenangkan. Gegap gempita suka cita semua teman masa kecil menyambut bulan puasa. Menjalani kewajiban puasa pun dengan segenap rasa senang tanpa terganggu oleh warung sebelah sekolah yang tetap menganga pintunya.

Jika demi menghormat yang puasa akhirnya memunculkan kelaparan bagi orang lain karena tempatnya mencari nafkah ditutup bukankah ini sesuatu yang juga tidak baik? Perasaan yang menggeliat dan berkecamuk di kepala pengusaha kuliner akhirnya memunculkan perlawanan yang menghasilkan pikiran kreatif berupa jalan tengah.

Tetap berkesan menghormat yang sedang puasa, tetapi tidak lalai memerhatikan kebutuhan mereka yang tidak berpuasa dan sekaligus sejumlah orang yang menggantungkan hidupnya dari bisnis kuliner itu. Muncullah kemudian bentangan spanduk di depan rumah makannya bertuliskan “Selamat datang Saudaraku para Musafir”.

Ada risiko dicibir orang yang membaca. Bisa juga dipahami pengusaha kuliner itu bersiasat. Tetapi itulah risiko kreativitas. Jika tidak berani menghadapi risiko jangan harap bisa kreatif. Bukankah sebagian besar kemajuan besar dalam ilmu pengetahuan merupakan akibat dari seseorang yang berani melanggar batasan dan menghadapi risiko? (Penulis adalah Pemerhati Sosial)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news